Pada saat ini, kemajuan teknologi telah berkembang pesat dan membawa berbagai hal dalam kehidupan baik sisi positif dan negatifnya. Jika diamati, berbagai hal di sekitar kita telah mengalami otomisasi. Transportasi yang serba otomatis, industry yang menginjak transisi dari 4.0 berbasis sistem efektif ke inndustri 5.0 yang berbasis kecerdasan buatan bahkan sistem sehari hari yang serba mudah serta sistem energi ramah lingkungan. Dunia Pendidikan tidak luput dari jangkauan teknologi ini. Segala bentuk kemudahan diperoleh mulai dari akses pada ilmu pengetahuan sampai penyampaian gagasan dan pemikiran. AI atau Kecerdasan bautan saat ini menjadi salahsatu teknologi yang sangat umum digunakan dalam dunia Pendidikan. Umumnya, otoritas Pendidikan atau ilmu pengetahuan diperoleh melalui dosen, jurnal, artikel, buku dan materi di kelas. Pergeseran otoritas terjadi pada sumber ilmu pengetahuan mulai dari mesin pencarian otomatis hingga platform berbasis obrolan yang dapat meringkas pengetahuan mulai dari buku, jurnal dan sumber lainnya. Selain itu, kemudahan lain dapat dirasakan dengan mesin kecerdasan buatan berbasis penulisan yang dapat secara otomatis menulis topik dan juga sebagai alat bantu paraphrase contohnya. Lantas apakah kemajuan ini berimbas baik bagi kompetensi dan pemikiran mahasiswa, atau malah membawa sisi negatif dengan penurunan kognitif mereka?
Kecerdasan buatan berbasis mesin pencarian otomatis pasalnya hadir sebagai alat bantu atau teman belajar yang mampu mempermudah segala bentuk aktifitas pemebelajaran. Namun, fenomena yang terjadi tidak seperti demikian. Tidak semua namun banyak yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan ini sebagai sarana jalan pintas dalam segala sesuatu. Tugas yang seharusnnya dikerjakan berdasarkan kemampuan, kini dapat dikerjakan dengan hanya memberikan perintah pada kecerdasan buatan. Presentasi yang mengasah pola pikir dan ketajaman berlogika kini hanya didasarkan pada kemampuan untuk berbalas hasil perolehan dari mesin ini. Dimanakah mahasiswa dapat mengembangkan ketajamannya dalam berlogika? Karena ilmu itu merupakan hal yang tak hanya diketahui namun perlu dipahami, didalami dan dipertanyakan keabsahannya. Kebanyakan mahasiswa kini menggunakan informasi langsung tanpa memilah isinnya, tanpa mengetahui kebenarannya, tanpa memahami apa yang tertulis di dalamnya. Seharusnya mahasiswa sudah mengembangkan “science sense” atau nalar dalam hal ilmiah atau “Science Approach” yaitu penalaran ilmiah.
Segala hal atau ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah haruslah dipertanyakan mulai dari “apakah benar demikian?”, “mana buktinya?”, “Siapa yang menelitinya”, “Darimana sumbernya?”. Namun di zaman yang serba modern ini, banyak mahasiswa yang kehilangan kemampuannya dalam memahami kemampuan ini. Karena kemampuan demikian diperoleh melalui pembiasaan, maka sulit sekali rasanya untuk mengembangkan di era lingkungan yang seperti saat ini. Darimana awal mulanya pergeseran ini terjadi dan sejak kapan fenomena ini terjadi tidak ada yang tahu hanya saja hal ini membawa sisi negatif tersendiri bagi pelaku pendidikaan mulai dari pengajar hingga mahasiswanya.
Jika meneliti daripada Sejarah ilmu pengetahuan, bahwasanya pengetahuan itu berdasarkan daripada penyangkalan dan pembenaran alasan dengan dalih menggugurkan penyangkalan tersebut. Lalu apakah, hal tersebut berpengaruh pada kompetensi dan ketajaman berpikir mahasiswa? Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, salahsatunya oleh Irsyadul Ibad, kompetensi mahasiswa dapat menurun apabila penggunaan kecerdasan buatan tidak tepat sasaran dan penggunaan. Penggunaan kecerdasan buatan dapat mempermudah tanpa memberikan dampah negatif diantaranya dengan mempertahankan hal tadi yaitu “Science Approach”. Segala sesuatu yang berasal dari kecerdasan buatan harus dipertanyakan keabsahannya bisa dengan membandingkan atau melakukan literasi mendalam terhadap sumber lain.
Dalam hal ini, kecerdasan buatan seharusnya menjadi sarana aplikatif yang membantu dan mempermudah mahasiswa dalam segala bentuk pembelajaran bukan menggantikan perannya sebagai pelaku Pendidikan. Mesin ini diciptakan dengan tujuan untuk melakukan perubahan praktik pembelajaran dan bukan malah memberikan kecacatan dalam mahasiswa untuk berlogika dan berpikir kritis. Disisi lain, kemampuan ,mahasiswa dalam menulispun kian tersisihkan karena kemunculan kecerdasan jenis baru berbasis penulisan. Bentuk tulisan, peta konsep atau bahkan salindia.
Pada beberapa kasus khusus, kita dapat melihat penurunan kompetensi ini pada saat sesi diskusi atau pemaparan gagasan yang seharusnya berasal dari pemahaman, penelitian juga penalaran. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, apa yang dipaparkan terpaku pada satu sumber yaitu kecerdasan buatan itu sendiri. Pencegahan atas hal ini haruslah dilakukan dan disosialisasikan untuk mencegah adanya penurunan lain yang mana kemajuan sumber daya manusia salahsatunya berasal dari para sarjana yang menempuh Pendidikan di perguruan tinggi.
Jika melihat daripada tingkat krusialnya, pembahasan ini bukan hanya didasarkan pada nalar dan pemikiran liar saja, namun dapat didasarkan pada penelitian. Waqqor Bukhori telah meneliti bahwasanya, dampak penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran dapat meningkatkan efisiensi dan akses informasi, akan tetapi juga memiliki dampak negatif. Beberapa jurnal menyatakan bahwa, mahasiswa mungkin bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas tanpa berpikir secara mendalam, ketergantungan pada AI dapat mengurangi kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka.
Lantas siapakah yang dapat disalahkan disini atas fenomena tersebut. Apakah pihak penyedia aplikasi? Ataukah pihak tenaga pendidik yang kurang teliti dan kurang tegas dalam pemantauan aktifitas Pendidikan? Atau mungkin perkembangan teknologi yang mendorong terjadinya fenomena ini?. Tentu saja tidak ada yang patut disalahkan disini, lagipula hal ini tidak berlaku atau terjadi kepada semua orang, hanya sebagian kecil daripada keseluruhan yang menyalahgunakan perkembangan teknologi dan mencari jalan pintasnya. Kebijaksanaan daripada pemanfaatan segala sesuatu perlu diperhatikan dan diutamakan untuk menghindari penyalahgunaan atas segala sesuatu bukan hanya pada fenomena ini, melainkan pada semua sisi kehidupan.
