Jejak Barang Antik di Kota Bandung: Dari Cihapit hingga Cikapundung

Di sebuah lantai atas yang nyaris tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, di jantung Pasar Cikapundung, terdengar denting lembut logam tua bersentuhan. Di sanalah cerita dimulai, bukan sekadar jual beli barang, tapi tentang menjaga sisa-sisa masa lalu yang nyaris terlupakan.

Seorang pedagang di sana, yang kami temui di tengah susunan botol kaca hijau, mesin jahit besi, hingga patung Bali tua, bercerita panjang soal asal-usul dagangannya. “Kebanyakan barang ini kami dapat dari rumah-rumah tua peninggalan zaman Belanda. Kadang dari gudang rongsok, kadang tukang loak yang sudah tahu nilai barang. Kita bisa dapat jam emas seharga dua ratus ribu karena pemiliknya nggak tahu,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Interior Barang-barang Antik & Koleksi Langka (Dok Pribadi, 15 Juni 2025)

Pasar Cikapundung sendiri berdiri sejak tahun 2013, mengambil alih ruang kosong di lantai atas Pasar Teknik yang sebelumnya tak terpakai selama sembilan tahun. Diresmikan oleh Wali Kota saat itu, Ridwan Kamil, tempat ini menjadi satu-satunya pasar antik yang terorganisir di Bandung. Namun, ternyata kisah barang antik di kota ini jauh lebih tua.

Sebelum Pasar Cikapundung berdiri, banyak pedagang barang antik berjualan di Pasar Cihapit. Namun, seiring waktu, mereka menyebar. “Beberapa dari kami dulu di Cihapit. Tapi kondisi pasar, ruang, dan strategi membuat kami pindah ke Cikapundung. Sekarang pun, sebagian dari barang-barang di sini sudah berpindah lagi ke Jalan Cilaki,” ujarnya.

Perpindahan ini bukan tanpa alasan. Lokasi Jalan Cilaki yang lebih dekat dengan ruang publik dan taman-taman kota dinilai lebih strategis. Akses yang lebih mudah dan suasana yang lebih terbuka membuat beberapa pedagang atau koleksi antik kini tampil di sana, bahkan kadang dalam bentuk bazar mingguan atau stand kecil.

Meski begitu, Pasar Cikapundung tetap menjadi jantung komunitas antik Bandung. Tempat ini bukan hanya lapak-lapak tua, tapi museum hidup tempat anak-anak muda, pembuat film, hingga kolektor luar negeri datang untuk mencari benda-benda bersejarah. “Dulu, pas trend online 2015–2018, jualan lewat Instagram tuh cepet banget. Sekarang sih mulai turun, tapi pembeli baru juga mulai banyak,” jelasnya.

Tak semua tahu bahwa barang-barang seperti komik Cina era Soekarno, sendok perak Eropa, atau telepon Ericsson awal abad ke-20 bisa ditemukan di pasar ini. Bahkan, ada satu komik Cina yang dilarang di era Presiden Soekarno karena bernuansa komunis, kini bernilai setengah juta rupiah karena kelangkaannya.

Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain bukan berarti hilangnya pasar, melainkan bukti hidupnya komunitas ini. Mereka menyesuaikan diri, mencari ruang yang lebih ramah, tanpa meninggalkan semangat pelestarian sejarah yang mereka bawa. “Barang tua nggak bisa diproduksi lagi. Itu yang bikin orang cari. Dan lama-lama, makin banyak orang yang sadar nilainya,” tutup sang pedagang.

Perkembangan perdagangan arang antik di Kota Bandung mencerminkan upaya pelestarian sejarah yang terus berlangsung melalui berbagai ruang yang terus berubah. Dimulai dari Pasar Cihapit, berlanjut ke Pasar Cikapundung, hingga kini menyebar ke kawasan Jalan Cilaki, para pelaku usaha dan penggemar barang antik menunjukkan kemampuan beradaptasi demi mempertahankan nilai-nilai warisan lama. Barang-barang antik tidak hanya berfungsi sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pengingat akan perjalanan zaman. Perubahan tempat berdagang bukan menandakan kemunduran, melainkan menunjukkan bahwa komunitas ini tetap tumbuh dan bergerak, menjaga agar kisah-kisah masa lalu tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Scroll to Top