Jejak Diam Di Lorong Museum: Menelusuri Long March Siliwangi Lewat Koleksi Yang Bicara

Di balik kaca yang berdebu dan dinding sunyi Museum Mandala Wangsit Siliwangi, sejarah tidak sekadar dibaca—ia didengar, dihayati, dan kadang hanya bisa dibayangkan lewat bisikan dokumentasi dan kenangan yang nyaris padam.

Bandung, 4 November 2024 — Suatu siang yang tenang di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, langkah saya terhenti di depan sebuah peta tua yang dilapisi oleh kaca. Warnanya telah kusam, garis-garisnya mulai memudar. Namun di balik itu, tersimpan jejak besar sejarah: Long March Siliwangi, perjalanan sunyi penuh perjuangan yang kini coba dibangkitkan kembali, meski hanya dalam bentuk dokumen dan kenangan.

Saya berbincang dengan Bapak Olih Solihudin, salah satu penjaga sekaligus pengelola yang telah kurang lebih 30 tahun bekerja di museum ini. Di tengah lorong pameran yang tenang, beliau memulai dengan menjelaskan bahwa koleksi museum tak lebih dari potongan-potongan bukti sejarah: foto dokumentasi, perintah operasi, dan peta perjuangan. Tidak ada seragam yang sobek karena peluru, tidak ada senapan tua yang bicara. Tapi di sanalah tantangannya: menjaga cerita besar dari benda-benda kecil.

“Artefak itu, ya tempatnya sejarah berbicara,” ujarnya dengan senyum ramah. “Kalau di sini, kita punya dokumen saja. Foto, perintah, dan peta. Itu pun sudah cukup buat menyampaikan napas perjuangan Divisi Siliwangi waktu hijrah.”

Pengumpulan koleksi ternyata bukan hal sepele. Prosesnya lebih mirip perburuan cerita—menyambangi para pejuang yang masih hidup, mendengar potongan-potongan ingatan mereka yang disampaikan dengan semangat membara. Ketika para pelaku sejarah itu telah tiada, tugas berpindah ke ahli warisnya, mereka yang masih menyimpan cerita dari ayah atau kakek yang pernah berjalan kaki ratusan kilometer demi negara.

“Para pejuang itu antusias sekali kalau diwawancara,” kata Bapak Olih. “Mereka nggak menyimpan cerita, malah ingin membaginya. Dan itu yang membuat koleksi kami bernyawa” sambungnya. Namun di balik semangat itu, ada juga kendala yang tak kalah besar: bagaimana menjaga koleksi-koleksi ini tetap utuh dan bermakna. Museum Mandala Wangsit Siliwangi tak memiliki gudang biasa—yang ada adalah studio koleksi, tempat di mana setiap benda diperiksa sebelum akhirnya tampil di ruang publik.

“Risikonya besar. Karena ini museum sejarah yang sangat spesifik. Kalau kita nggak hati-hati, cerita bisa hilang. Makanya setiap koleksi harus punya keterangan jelas. Kalau tidak, ya disimpan saja di studio, bukan di ruang pameran,” tambahnya sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang tertutup rapat. Menariknya, tidak semua orang paham bahwa koleksi tanpa narasi bukanlah warisan sejarah. Salah satu cerita datang dari seseorang yang menghibahkan senjata-senjata tua seperti kujang dan trisula. Ketika ditanya tentang latar belakang sejarah benda itu, sang pemberi hanya menjawab, “Ini amanat kakek saya untuk disimpan di museum.”

“Kalau tidak ada keterangannya, ya tidak bisa kita pamerkan. Akhirnya kita tawarkan: mau diambil lagi, atau disimpan di studio saja. Mereka akhirnya setuju, asal benda tetap ada di museum, meski tak tampil ke publik,” kenang Bapak Olih. Ini bukan sekadar pengelolaan benda. Ini adalah pertempuran baru: bagaimana menilai, merawat, dan menghidupkan memori sebuah bangsa tanpa mengada-ada.

Lalu dari mana lagi masyarakat bisa menggali cerita tentang Long March Siliwangi? Menurut Bapak Olih, jawabannya tetap satu: dari para pelaku sejarah, atau ahli warisnya. Mereka adalah buku hidup, walau kini jumlahnya makin sedikit. “Yang penting kita dengarkan. Valid atau tidak, itu biar waktu yang menentukan. Kita cuma penerus cerita,” katanya sambil tersenyum.

Long March Siliwangi, sejatinya bukan sekadar barisan tentara yang berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Ia adalah simbol kesetiaan terhadap republik, bukti bahwa pasukan Siliwangi tidak tunduk pada tekanan Belanda, dan bahwa perjuangan tidak selalu terdengar lewat dentuman meriam, melainkan lewat langkah kaki yang tak henti, meski luka menganga. Kini, sebagian dari jejak itu tersimpan diam di Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Tidak bersuara, namun tak pernah mati. Dan mungkin, tugas generasi kita hari ini adalah menjaga agar jejak-jejak itu tetap terdengar—setidaknya dalam tulisan, cerita, dan ingatan.

Scroll to Top