Angin siang bergerak pelan ketika saya tiba di Bojongmenje, sebuah situs candi kecil yang tersembunyi di tengah kawasan industri Rancaekek. Sekilas tempat ini tampak biasa, nyaris terlewatkan. Namun di balik rimbun pepohonan dan balong kecil di sekitarnya, tersimpan kisah panjang yang bermula dari sebuah kerja bakti sederhana pada tahun 2002 sebuah peristiwa yang perlahan membuka kembali jejak sejarah Priangan Timur yang sempat terkubur waktu.
Tahun 2002, warga Kampung Bojongmenje tengah membersihkan sebuah lapangan yang dipenuhi semak belukar. Di tengah kegiatan itu, seorang warga bernama Ahmad menemukan tumpukan batu besar yang tersusun tidak biasa. Bentuknya menyerupai kerucut yang telah runtuh, menyisakan bagian pondasi yang tampak tua dan asing.
“Awalnya saya kira batu biasa,” tutur Pak Ahmad. Namun bentuk dan susunannya menimbulkan kecurigaan. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada pihak arkeolog hingga akhirnya pemerintah menetapkan kawasan tersebut sebagai situs cagar budaya. Para ahli memperkirakan bangunan ini merupakan candi bercorak Hindu dengan luas area sekitar 4–5 hektare.
Cerita serupa disampaikan oleh Dadang Nugraha, anak Pak Ahmad, yang kini ikut menjaga dan merawat situs tersebut. Ia mengingat jelas tanggal penemuan resmi candi, yakni 18 Agustus 2002. Menurutnya, Bojongmenje pernah menarik perhatian banyak akademisi dari luar negeri, termasuk dari Filipina, Jerman, dan Belanda. Bahkan, sempat ada tawaran pendanaan penuh untuk rekonstruksi dan penggalian lanjutan, namun rencana tersebut tidak mendapat izin pemerintah.
Saat ini, Candi Bojongmenje masih dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Area situs terbagi ke beberapa titik, mulai dari balong tempat batu-batu candi ditumpuk, pondasi asli yang dilindungi kanopi, hingga saung bambu yang menyimpan bagian kubah candi agar tetap terjaga.
Namun, letaknya yang lebih rendah dibanding kawasan industri di sekitarnya membuat candi ini rawan banjir. “Pernah terendam seluruhnya,” ujar Pak Dadang. Meski begitu, upaya pelestarian terus dilakukan, termasuk memperbaiki saung yang sempat lapuk akibat usia dan air.
Bagi Pak Dadang, hal paling menarik dari candi ini adalah kualitas batu andesitnya. Ia pernah membandingkan batu zaman dahulu dengan batu masa kini. “Ukurannya sama, tapi rasanya beda. Kualitasnya jauh,” katanya. Seolah ada pengetahuan masa lalu yang tak lagi bisa ditiru.
Selain sebagai situs edukasi, Bojongmenje juga masih dikunjungi orang-orang yang melakukan doa atau ritual berdasarkan tradisi leluhur. Hal itu menegaskan bahwa candi ini bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan juga ruang hidup bagi ingatan dan kepercayaan.
Candi Bojongmenje memang tidak menjulang megah, namun kisahnya tumbuh dari hal sederhana: rasa penasaran, kepedulian, dan ingatan kolektif warga. Di antara balong, saung bambu, dan pondasi tua, Bojongmenje tetap berdiri sunyi menyimpan warisan sejarah yang berharap terus dijaga, bukan sekadar dikenang.
