Jembatan Cincin: Mahakarya Kolonial yang Tetap Kokoh di Jatinangor

Jatinangor, 15 Juni 2025 – Di antara deru kendaraan yang melintas cepat di jalur arteri Jatinangor, sebuah lengkungan besitua membisu, diselimuti rimbunnya pepohonan di balik kampusmegah Universitas Padjadjaran. Inilah Jembatan Cincin, sebuahmahakarya peninggalan kolonial Belanda yang meski kini taklagi dilalui derap roda baja kereta, namun menyimpan segudangnarasi tentang ambisi, kekayaan, dan perjalanan waktu di tanah Pasundan.

Jembatan ini, yang sejatinya bernama resmi Jembatan Cisaladah, dibangun pada tahun 1918 oleh perusahaan kereta apiStaatsspoorwegen. Warga sekitar menjulukinya “JembatanCincin” karena strukturnya yang melengkung sempurna, menyerupai separuh cincin raksasa saat dipandang darikejauhan. Dengan panjang sekitar 40 meter, jembatan inidulunya adalah bagian krusial dari jalur strategis yang dirancanguntuk menghubungkan Stasiun Rancaekek hingga Tanjungsari, bahkan dengan target mencapai Sumedang.

Namun, bukan semata angkutan penumpang yang menjadi primadona jalur ini. Fungsi utamanya adalah mengalirkan denyut ekonomi dari jantung perkebunan di kawasan Jatinangor. “Kala itu, Jatinangor merupakan penghasil teh dan karet yang sangat penting bagi Hindia-Belanda,” tutur Ibu Neneng, seorang warga sekitaran jembatan cincin. “Jembatan ini dibangun untuk memastikan hasil bumi itu bisa diangkut dengan efisien kepasar.”

Sayangnya, mimpi besar Staatsspoorwegen untuk jalur hingga Sumedang tidak pernah terwujud. Proyek ambisius ini terganjal masalah klasik krisis keuangan di Pemerintahan Hindia-Belanda. Bahkan, nasib jalur ini semakin suram ketika Jepangdatang menginvasi. “Pada tahun 1942, setelah penjajah baru yaitu Jepang datang, sudah tidak ada lagi kereta api yang datangke Sumedang.” Jalur yang sudah ada pun secara bertahap taklagi dioperasikan sepenuhnya.

Kini, Jembatan Cincin berdiri sunyi dan menjadi perlitasan warga sekitar, sehingga menjadi relik dari masa lalu yang gemilang sekaligus kisah tentang proyek yang tak terselesaikan. Lumut dan tanaman rambat perlahan memeluk struktur bajanya, namun kekuatan fondasinya tak tergoyahkan. Ia bukan lagi saksihiruk-pikuk lokomotif, melainkan penanda bisu akan pergeseran zaman, dari dominasi perkebunan dan kereta api, menuju modernisasi kampus dan jalan raya.

Scroll to Top