KAMPUNG JELEKONG: WAYANG GIRI HARJA DARI TANAH SUNDA

Di balik geliat modernitas yang kian deras, Kampung Jelekong di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, masih menyimpan denyut budaya yang nyaris terlupakan: wayang golek. Kampung ini bukan sembarang tempat. Ia adalah rumah bagi Giri Harja, sebuah dinasti seni pewayangan Sunda yang telah melegenda sejak pertengahan abad ke-20.

Langit pagi Jelekong masih berkabut tipis saat suara ketukan palu dari bengkel-bengkel kayu terdengar bersahutan. Di sinilah para perajin wayang golek menekuni profesi turun-temurun: memahat, mengecat, dan menghidupkan kayu menjadi tokoh-tokoh pewayangan yang ikonik.

“Saya belajar dari ayah, ayah belajar dari kakek,” tutur Asep (49), salah satu perajin yang masih aktif di bawah bendera Giri Harja. “Dulu, satu kampung ini hidup dari wayang. Sekarang tinggal sebagian kecil saja.”

Wayang Golek Giri Harja dikenal luas berkat maestro legendarisnya, *Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya*, yang membawa kesenian ini ke panggung nasional dan internasional.  Berbekal humor cerdas, teknik suluk yang tajam, dan inovasi artistik, Ki Asep menjadikan wayang golek tidak hanya sebagai tontonan, tapi juga tuntunan. Lewat lakon-lakon Mahabharata dan Ramayana, ia menyisipkan kritik sosial, nilai-nilai kebangsaan, hingga pesan-pesan moral yang relevan hingga kini.

Kini, setelah kepergian Ki Asep pada 2014, warisan budaya itu dijaga oleh anak-anaknya dan para dalang muda di bawah nama *Sanggar Giri Harja 3*. Mereka terus mementaskan wayang, meski tantangan zaman kian berat.

Selain pertunjukan, Jelekong juga menawarkan wisata budaya: wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan wayang, belajar mendalang, hingga membeli wayang sebagai cenderamata. Beberapa rumah diubah menjadi galeri mini yang menampilkan karya-karya indah dari seniman lokal.

Namun semua itu tak lepas dari tantangan. Minimnya dukungan pemerintah, persaingan dengan budaya populer, dan turunnya minat generasi muda menjadi pekerjaan rumah besar. Meski begitu, semangat para pelestari budaya di Jelekong tak surut.

“Wayang itu bukan hanya hiburan. Ia mencerminkan nilai-nilai hidup,” kata Asep  “Selama masih ada yang percaya, kami akan terus membuatnya hidup.” Di tengah riuh zaman yang kerap menenggelamkan tradisi, Kampung Jelekong berdiri sebagai pengingat: bahwa budaya adalah akar yang harus dijaga, bukan hanya dikenang.

Scroll to Top