Kampung Kasepuhan Bunisari : Surga Kecil Penjaga Tradisi Sunda di Kaki Gunung

Oleh: Dimas Saputra, Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester 6, Universitas Islam Negeri Bandung

Desa Girimekar, Kab. Bandung, saat bulan purnama, acara adat Sunda kembali dirayakan di Desa Kasepuhan Bunisari. Nyawang Bulan, sebuah perayaan dan festival tradisional, berfungsi sebagai waktu untuk berhubungan dengan alam dan leluhur.

Acara ini berlangsung setiap malam bulan purnama di ruang publik Desa Bunisari. Biasanya terjadi pada tanggal 14 Hijriah, namun diundur ke Sabtu malam untuk menampung banyak orang. Yang dimaksud dengan “Nyawang” adalah mengamati, dalam hal ini keindahan bulan purnama, sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus mempererat solidaritas Masyarakat.

Sumber foto : Foto 1 saat dilokasi 14 juni 2025

Pasar Tradisional Tanpa Plastik

Warga membentuk pasar jajanan tradisional dengan menggunakan peralatan gerabah, kayu, bambu, bahkan daun pisang—tanpa bungkus plastic Pembayaran pun bernuansa adat: koin kayu/bambu, senilai Rp 2.500–5.000 per koin, digunakan untuk membeli makanan dan minuman seperti bandrek, surabi, lotek, tahu gejrot.

Foto 2 : Koin dari kayu

Diiringi pertunjukan seni Sunda: tari jaipong, kecapi suling, benjang, dan pantun pituduh pitutur dari sesepuh. Ada juga permainan tradisional anak-anak dan sesi edukasi lingkungan, karena semua keuntungan acara dialokasikan untuk kepentingan warga: gotong royong, peningkatan fasilitas, pendidikan budaya.

Foto 3 : Penampilan Angklung                                   Foto 4 : Penampilan Tari

Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak tahun 2002, digagas oleh sesepuh lokal seperti Pipih Priyatna untuk mengembalikan “zaman dulu” Sunda klasik. Kampung Kasepuhan Bunisari membuktikan bahwa budaya dapat hidup, berkembang, dan menjadi sumber kebanggaan serta harmoni sosial.

Data dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung mencatat bahwa wilayah kasepuhan ini termasuk salah satu dari 11 titik komunitas adat di Jawa Barat yang diidentifikasi sebagai kawasan budaya hidup. Pemerintah daerah pun mulai melibatkan kampung ini dalam program revitalisasi kebudayaan berbasis desa.

Potensi Wisata Budaya dan Edukasi

Kasepuhan Bunisari perlahan mulai dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi panorama alam pegunungan, tetapi juga diajak mengenal sistem pertanian tradisional, kesenian Sunda seperti karinding, kacapi suling, serta mengikuti kegiatan adat bersama warga.

Beberapa pelajar dan mahasiswa dari perguruan tinggi di Bandung juga rutin melakukan kunjungan untuk studi lapangan tentang budaya lokal dan konservasi lingkungan berbasis kearifan lokal.

Kampung Kasepuhan Bunisari adalah bukti nyata bahwa tradisi tidak harus mati di tengah zaman. Ia justru bisa menjadi jalan hidup yang memberikan makna lebih dalam pada keberadaan manusia. Di balik kesederhanaannya, tersimpan filosofi Sunda yang dalam: “Ngamumule budaya lain saukur nostalgia, tapi jalan ngajaga jati diri urang Sunda

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top