Kampung Seni Cibolerang: Warisan Budaya Sunda yang Hidup dan Menginspirasi Dunia

Dokumentasi Reak Juarta Putra saat tampil di Festival Roskilde Denmark 2022. (Sumber: https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d-6219631/sepenggal-cerita-grup-reak-dari-cileunyi-yang-tampil-di-denmark

Di kaki Gunung Manglayang, tepatnya di Desa Cinunuk, Bandung Timur, berdiri sebuah kampung kecil yang gemanya kini menggema hingga Eropa. Kampung Seni Cibolerang bukan sekadar tempat berkesenian. Ia adalah ruang hidup, di mana tradisi, seni, dan komunitas berpadu dalam harmoni yang memukau. Dari pertunjukan Reak yang menggugah, hingga aroma khas makanan bangkerok yang menggoda, setiap sudutnya menawarkan pengalaman budaya yang autentik dan tak terlupakan.

Namun siapa sangka, kampung yang dahulu hanya dikenal warga sekitar sebagai tempat khitanan dan hajatan, kini menjelma menjadi laboratorium budaya yang menarik perhatian kurator seni internasional. Bagaimana bisa seni tradisional yang nyaris tergerus zaman justru bangkit dan bersinar di panggung dunia?

Kampung Seni Cibolerang diresmikan sebagai desa wisata seni dan pendidikan pada 2011, namun cikal bakalnya telah tumbuh sejak 2010 melalui semangat kolektif warga untuk melestarikan budaya Sunda. Dengan seni Reak dan tari Bajidoran sebagai ikon, kampung ini tak hanya menyajikan pertunjukan, melainkan juga pengalaman: lokakarya, pelatihan musik tradisional, diskusi budaya, hingga sajian kuliner khas seperti bangkerok.

Salah satu kebanggaan desa ini adalah Grup Seni Reak Juarta Putra, yang berdiri sejak 1930-an. Melalui regenerasi empat generasi, grup ini berkembang dari panggung khitanan lokal menjadi penampil di festival budaya internasional di Denmark dan Belanda.

“Nah, sekarang mereka lagi pada di Eropa. Kedua kalinya mereka tur Eropa. Waktu pertama mah di Denmark, itu di Festival terbesar di dunia, mereka tampil gitu (2022). Sekarang juga masih di sana. Empat negara kalau ga salah Netherland, Norwegia, Denmark sama ada satu lagi pokoknya tur Eropa tapi empat negara gitu.” Ucap Anggun selaku pemandu wisata di Kampung Seni Cibolerang (3/12/2024). Penampilan Reak Juarta Putra tidak hanya memukau dari segi artistik, tetapi juga menjadi jembatan  budaya yang mempererat hubungan antar bangsa. Mereka berhasil menunjukkan kekayaan seni tradisional Indonesia kepada dunia.

(Sumber: https://www.kacapaesan.com/2024/10/reak-djimat-dari-sawah-menuju-panggung.html)

Pencapaian legalitas pada 2017 serta inovasi digital selama pandemi menjadi titik balik kebangkitan Juarta Putra menuju pentas global. Mereka bahkan sedang merintis cabang seni Reak di Denmark dengan nama Djimat, bukti nyata seni tradisi tak lagi terkungkung batas geografis.

Seni Reak di Cibolerang tak hanya sekadar pertunjukan, namun juga struktur sosial yang menghidupi nilai, simbol, dan hierarki komunitas. Begitu pula tari Bajidoran, yang menyimpan sejarah panjang dari gabungan budaya Doger dan Ketuk Tilu hingga Jaipongan. Masyarakat Cinunuk merawat semua ini bukan karena nostalgia, tetapi karena cinta dan kesadaran akan pentingnya identitas budaya. Kampung Cibolerang telah menjadi contoh nyata keberhasilan model desa wisata berbasis komunitas. Pelibatan anak muda, promosi digital, dan kolaborasi dengan pihak internasional menunjukkan bahwa warisan budaya bisa dikelola secara modern tanpa mengorbankan keasliannya.

Kampung Seni Cibolerang membuktikan bahwa pelestarian budaya tak harus membosankan dan eksklusif. Di sana, budaya tidak dipajang di balik kaca museum, melainkan hidup di setiap tawa anak-anak yang menari Reak, di tiap tabuhan dogdog, hingga di uap bangkerok yang baru matang. Cibolerang bukan hanya menyelamatkan budaya, tapi juga menularkannya hingga ke belahan dunia yang mungkin tak pernah membayangkan aroma Sunda begitu kuat datang dari kaki Gunung Manglayang.

Scroll to Top