
Deru kendaraan bermotor dan bunyi klakson di area Jalan ABC, Bandung, mendadak menghilang saat langkah kaki memasuki tangga menuju level tiga Pasar Cikapundung. Suasana panas khas kota besar segera tergantikan oleh hembusan angin sejuk yang membawa aroma aneh tapi akrab: campuran antara kertas tua yang terbakar, minyak mesin jam, dan logam yang mulai berkarat. Di lokasi ini, di bawah cahaya lampu kuning yang redup, seakan-akan waktu kehilangan kekuatannya.
Dalam saat Bandung sibuk menghadirkan nuansa baru dengan kafe-kafe minimalis berlampu neon yang menarik, tingkat tiga pasar ini memilih jalur yang sunyi. Sepanjang lorong yang sempit, pandangan pengunjung dibuka oleh ratusan pasang “mata” dari masa lalu. Kamera analog berbahan logam berat tersusun rapi di dalam etalase kaca yang kabur, piringan hitam dari penyanyi klasik seperti Bubi Chen dan Tetty Kadi tertumpuk tidak teratur dalam kotak kayu, serta rangkaian lampu gantung kristal bergaya Eropa yang memantulkan cahaya lembut ke lantai keramik.
Kawasan ini tidak hanya sekadar lokasi untuk membeli dan menjual barang-barang bekas. Sejak penghujung tahun 1990-an, area di pusat Kota Kembang ini telah mengalami perubahan menjadi tempat yang menyegarkan bagi mereka yang mencari kenangan. Jalur-jalur di sini dirancang dengan cermat, mengundang setiap pengunjung untuk menjelajah, mengitari setiap dekade dari sejarah yang dengan sengaja terkumpul dalam toko-toko berukuran tiga kali empat meter.
Di lokasi ini, sebuah lemari jati bergaya Jengki dari era 1950-an berdiri menonjol berdekatan dengan papan iklan enamel dari merek rokok klasik yang catnya sudah mulai terkelupas. Setiap inci dari tempat di pasar barang antik ini seolah berbisik, memberikan sebuah pelarian dari dunia luar yang terlalu cepat bergerak dan serba segera.
Di balik rak usang dengan berbagai barang antik yang dihiasi dengan jaring laba-laba dan debu, dua kursi anyaman bambu dengan meja kecil diantara keduanya, duduk seorang pria tua bernama Pak Iyok (54 tahun). Badannya yang segar dan bugar masih bisa mengangkat-angkat lampu gantung kristal besar, membersihkan dan merapihkan kedua tokonya yang sangat amat penuh dengan barang antik beserta perintilan-perintilan kecil yang unik dan jarang.
“Tek… tok… tek… tok…” Suara jam dinding kayu setinggi manusia di sudut tokonya berbunyi berat, mengiringi napasnya yang teratur.
“Kebanyakan barang-barang antik ini berasal dari rumah tua. Seperti orang tua yang mewariskan rumahnya kepada anaknya. Untuk kebanyakan anak-anak sekarang kurang bahkan tidak memiliki minat dalam hal atau barang antik. Seperti lampu, atau mungkin telpon genggam, nah barang-barang seperti itu toko saya terima.” Ucapnya sambil mengarah ke lampu tinggi dengan topi beige sederhana dan telpon genggam yang masih dengan operasi putar. “Tapi bagi saya yang sangat gemar dengan barang antik seperti ini, barang-barang antik itu diterima dengan mudahnya oleh saya. Karena barang antik itu beragam macamnya, dan beragam asalnya. Itulah yang membuat saya makin tertarik dengan barang-barang antik.”
Ia telah melihat perkembangan Kota Bandung, dari era kejayaan bioskop klasik di Braga hingga hilangnya toko buku terkenal. Meskipun begitu, semangatnya untuk melestarikan benda-benda kuno tetap tidak pudar.
Mengumpulkan “harta karun” ini pun memerlukan usaha yang sering kali terasa seperti sebuah petualangan. Iyok menceritakan salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupnya saat ia berburu sebuah pusaka-keris yang membuatnya semakin terpesona untuk mengoleksi dan memilikinya.
Menariknya, suasana klasik di Pasar Cikapundung saat ini tidak lagi dikuasai oleh para kolektor berambut kelabu. Di sudut lainnya, tampak pemandangan yang bertentangan namun tetap serasi: sekelompok anak muda dengan gaya fashion khas generasi Z asyik mencari-cari tumpukan kaset pita dari era 1980-an, mulai dari album Chrisye hingga Dewa 19 dalam format awal.
Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks zaman yang menarik perhatian. Di saat teknologi menyajikan layanan streaming musik digital yang dapat diakses dengan sekali klik, generasi muda ini justru bersedia merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan kaset pita yang perlu diputar dengan walkman yang menggunakan baterai.
Sekelompok mahasiswa berpakaian jas almamater pernah mengunjungi toko “Anggarizy_vintage”, jelas Istri Iyok sambil menunjukkan gambar yang cerah dan penuh kehangatan dikelilingi oleh mahasiswa semester dua yang tampak bersemangat mencari ide penelitian di sekitar lantai tiga pusat perbelanjaan barang antik, termasuk toko “Anggarizy_vintage” milik Iyok ini.
Bagi pedagang berpengalaman seperti Pak Iyok, kedatangan generasi muda ini merupakan sebuah nafas baru serta tantangan. Proses digitalisasi harus diadopsi tanpa terkecuali untuk memastikan keberadaan mereka tetap relevan.
Saat ini, di samping mesin ketik kuno yang berdebu, telefon pintar Iyok sering kali berbunyi. Beberapa pelanggan sering membantu dengan mengunggah foto atau video yang khas dari generasi Z yang memperlihatkan barang-barang antik koleksi toko mereka di berbagai platform sosial media, seperti Instagram atau Tiktok. Ini merupakan sebuah kesepakatan yang manis antara sejarah dan modernitas: memanfaatkan teknologi terkini untuk memastikan warisan masa lalu tetap mendapatkan tempat di masa depan.
Matahari di Bandung perlahan mulai bersandar ke barat. Cahaya keemasannya memasuki celah-celah besar di jendela atap pasar, menciptakan tampilan puitis dengan garis-garis cahaya yang menerangi partikel debu yang melayang di udara, tepat di atas meja milik Pak Subagja.
Di salah satu sudut ruangan, jam dinding kayu tua mulai berdentang kembali. Suara dentangannya menggema sebanyak lima kali, menandakan bahwa sore hari telah tiba dan pasar siap untuk ditutup.
Sebuah mesin tik merek Underwood dari tahun 1920 yang ada di dekat pintu masuk toko tampak seperti simbol bisu dari keseluruhan tempat ini. Meskipun tinta di pita mungkin telah kering dan beberapa hurufnya terjebak, bentuk yang kokoh dari alat ini tetap menyiratkan pesona estetika yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh teknologi papan ketik komputer paling mutakhir sekalipun. Mesin tik ini, beserta ribuan barang lainnya di pasar, menunjukkan bahwa kualitas dan kisah yang mendalam selalu menemukan cara untuk bertahan melalui waktu.
Mereka adalah pengawal rindu yang sejati. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Kota Bandung yang semakin ramai, padat, dan kadang-kadang melupakan asal-usulnya, para pelindung waktu ini memastikan ada satu sudut tenang yang nyaman. Sebuah lokasi di mana sejarah tidak dipandang sebagai limbah, tetapi dihargai, diperhatikan, dan sentiasa dibenarkan untuk kembali.
