Coba buka Instagram Anda sekarang. Di antara foto teman yang sedang liburan, berita terhangat, politik terpanas atau video artis favorit, barangkali Anda akan menemukan sebuah unggahan dengan latar warna pastel. Di atasnya, tertera beberapa baris kalimat puitis, mungkin tentang hati yang remuk, tentang rindu yang menggebu, atau tentang kasih tak sampai. Inilah yang kini akrab kita sebut sebagai sastra Instagram. Sekilas, ia tampak sederhana, bahkan dicap “dangkal”. Kita mungkin mendengus, “Inikah yang disebut sastra sekarang?” Namun, sebelum kita terburu-buru menghakimi, ada baiknya kita bertanya. Jangan-jangan, inilah wajah baru dunia sastra yang sedang beradaptasi dengan zaman, dan sah-sah saja?
Saya awalnya skeptis. Sebagai seseorang yang bertungkus lumus dengan sastra, saya merasa terusik melihat puisi yang hanya terdiri dari tiga baris, dengan diksi seadanya, bisa mendapat puluhan ribu likes. Kegelisahan personal ini membawa saya pada sebuah pemahaman: sastra Instagram adalah pertanda bahwa definisi dan medan sastra telah meluas secara radikal. Ia adalah bukti demokratisasi yang tak terelakkan di era digital.
Dahulu, kita hidup dalam bayang-bayang “sastra koran”. Ada semacam kepercayaan, terutama beberapa dekade lalu, bahwa karya yang dimuat di rubrik sastra koran Minggu adalah tolok ukur sastra yang “baik”. Seolah-olah, kualitas sebuah karya dinilai dari siapa yang menerbitkannya. Padahal, proses seleksi redaksi tidak pernah benar-benar objektif. Ia seringkali ideologis dan pragmatis, menyesuaikan dengan selera pasar dan citra media. Akibatnya, banyak karya bagus dengan bentuk dan gagasan di luar arus utama yang terpaksa tidak mendapatkan panggung. Ini adalah sistem yang elitis; watak hegemonik di mana yang menentukan “bagus” dan “tidak” hanyalah segelintir orang di balik meja redaksi.
Kini, panggung itu telah runtuh. Kehadiran Instagram telah menciptakan panggung baru yang jauh lebih egaliter. Siapa pun bisa menulis, mengunggah, dan menemukan pembacanya sendiri. Arif Bagus Prasetyo, dalam esainya pada 2020, menyebut fenomena ini sebagai era “matinya kritikus”. Otoritas penilaian terhadap sebuah karya seni, termasuk sastra, telah berpindah dari tangan kritikus profesional ke khalayak umum. Di era ini, seperti diistilahkan oleh Brian Hieggelke, everyone’s a critic—setiap orang adalah kritikus. Nilai sebuah puisi di Instagram tidak lagi ditentukan oleh kompleksitas metaforanya, melainkan oleh interaksi publik: berapa banyak likes, komentar, dan shares yang ia dapatkan. Di satu sisi, ini bisa dianggap sebagai krisis kritik. Namun di sisi lain, ini adalah perayaan atas suara khalayak yang selama ini diabaikan.
Lalu, mengapa sastra Instagram begitu populer? Jawabannya sederhana, sebab ia sesuai dengan logika zaman. Kita hidup di era yang serba cepat dan visual. Algoritma media sosial memuntahkan konten tanpa henti, dan kita hanya punya waktu beberapa detik untuk memutuskan apakah akan berhenti dan membaca, atau menggulir layar ke bawah. Sastra Instagram lahir dari kondisi ini. Ia pendek, mudah dipahami, dan mampu menggugah emosi dalam sekejap pandang. Ia tidak menuntut kita untuk berpikir keras, melainkan langsung menyentuh perasaan. Inilah sastra populer dalam bentuknya yang paling mutakhir. Jika dulu kita mengenal chicklit atau novel romansa yang digemari remaja, kini wujudnya bergeser menjadi potongan-potongan puisi digital yang bisa kita simpan dan bagikan dengan mudah.
Fenomena ini juga menandai perubahan peran. Penerbit konvensional bukan lagi satu-satunya “penjaga gerbang” budaya. Melanie Ramdarshan Bold, dalam penelitiannya, menyoroti bagaimana platform seperti Wattpad membuktikan adanya dahaga untuk berkarya tanpa intervensi penerbit. Prinsip yang sama berlaku di Instagram. Sastrawan perlahan bertransformasi menjadi content creator. Puisi bukan lagi sebatas karya seni untuk direnungkan, melainkan juga konten untuk dikonsumsi, dikemas dengan tipografi dan ilustrasi yang menarik. Ini adalah komodifikasi tradisi sastra, dan itu adalah fakta yang tidak perlu ditakuti.
Di sinilah letak pentingnya mengubah cara pandang kita. Menilai sastra Instagram dengan standar estetika konvensional sama sia-sianya dengan menilai kualitas sebuah mobil balap dari seberapa banyak muatan yang bisa diangkutnya. Sastra Instagram lahir dari budaya digital yang menuntut keterhubungan, kecepatan, dan kesederhanaan bentuk. Ia bukan sekadar “puisi receh”, melainkan ruang negosiasi antara seni, teknologi, dan masyarakat. Bagi generasi digital, karya-karya ini bukan hanya ekspresi estetik, tetapi juga alat komunikasi dan pembentukan identitas diri. Ketika seseorang membagikan puisi tentang kecemasan, ia tidak hanya pamer sastra, tetapi juga sedang berkata, “Inilah yang saya rasakan. Apakah kamu juga?”
Jadi, daripada terus mempertanyakan keabsahannya, mari kita rayakan sastra Instagram sebagai sebuah perkembangan yang wajar. Ia adalah bukti bahwa hasrat manusia untuk menulis dan berbagi pengalaman tidak akan pernah mati; ia hanya berganti medium. Tugas kita kini bukanlah memagari sastra dengan definisi yang kaku, melainkan menjadi pembaca yang lebih bijak. Lain kali saat Anda menggulir layar dan menemukan puisi tiga baris, cobalah untuk tidak langsung menghakiminya. Siapa tahu, di balik kesederhanaannya, ia mampu menyuarakan sesuatu yang selama ini hanya Anda simpan sendiri di dalam hati.[]
Beberapa Bacaan
Arief, Y. (2014). Kritik sastra dan sastra populer. Diakses dari https://indoprogress.com/2014/06/kritik-sastra-dan-sastra-populer/
Melanie Ramdarshan Bold. (2018). The return of the social author: Negotiating authority and influence on Wattpad. Convergence: The International Journal of Research into New Media Technologies, 24(2), 117–136.P
rasetyo, A. B. (2020). Dari kaji ke seni: Kritik sastra di era matinya kritikus. Diakses dari https://www.jendelasastra.com/wawasan/essay/dari-kaji-ke-seni-kritik-sastra-di-era-matinya-kritikus
