Ketika Jemuran Jatuh Menjadi Ladang Amal pada KKN Santri

Bandung tak dapat terhindar dari angin yang berhembus cukup kencang. Jemuran-jemuran di halaman Pondok Pesantren Mahasiswa Universal bergoyang-goyang, beberapa helai pakaian lepas dan jatuh ke tanah berhari-hari hingga terlupakan oleh sang pemilik. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin sepele. Tapi tidak bagi para santri di pondok ini.Dari pakaian-pakaian yang jatuh itulah, sebuah ide sederhana namun bermakna lahir, sebuah lelang amal dari pakaian bekas jemuran. Bukan sekadar penggalangan dana, kegiatan ini menjadi pelajaran hidup tentang empati, kepekaan, dan tanggung jawab sosial. “seperti KKN Santri Tahun lalu, program lelang baju ini direncanakan terlaksana pada bulan Juli-Agustus saat liburan Semester Kuliah, kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan baju kotor jatuh untuk kegiatan sosial” cerita Tia Junita, salah satu panitia yang merancang program lelang.Namun, bukan berarti mereka sembarangan mengambil pakaian orang lain. Setiap pakaian yang terkumpul difoto dan dipajang untuk ditanyakan kembali kepada pemiliknya. Jika ada santri yang merasa itu miliknya, mereka bisa menebusnya dengan biaya simbolis Rp 2.000,00. Jika tidak ada yang mengambil, barulah pakaian itu dipersiapkan untuk dilelang.Di balik tumpukan pakaian bekas itu, terselip semangat kerja keras panitia. Sejak pagi mereka mulai mengumpulkan, menjemur ulang, mencuci, dan melipat rapi pakaian-pakaian yang akan dilelang. “Kami sangat bersemangat untuk mengadakan lelang ini dan berharap bahwa masyarakat dapat mendukung kegiatan amal kami, kami percaya bahwa dengan kerja sama dan partisipasi masyarakat, kita dapat membuat perbedaan bagi mereka yang membutuhkan. Selain itu bisa membuat santri lain dipedulikan sebelumnya karena difotokan terlebih dahulu pakaian itu untuk ditanyakan kepemilikannya dan bisa diambil dengan harga Rp. 2.000,00 ” ujar Alfiyyah, salah satu panitia lain, sambil tersenyum. (Bandung, 3/05/2025)Lelang amal ini dirancang bukan semata demi uang, tetapi sebagai media pembelajaran. KH. Tatang Astarudin, Dewan Pengasuh Pondok, menegaskan pentingnya nilai kepekaan sosial dalam kehidupan santri. “Kami berharap lelang ini dapat membantu meningkatkan kesadaran santri akan pentingnya kepekaan, berbagi, dan beramal” katanya penuh inspirasi.Bagi sebagian santri, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mereka mengorganisasi acara sosial secara nyata. Mereka belajar menghitung anggaran, berkomunikasi dengan masyarakat, hingga menyusun strategi agar lelang menarik minat banyak orang. “Rasanya senang bisa melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat,” ungkap Tia.Masyarakat sekitar pun diundang hadir. Selain membantu kegiatan amal, lelang ini juga menjadi upaya kecil mengurangi limbah tekstil. “Kami ingin baju-baju yang masih layak pakai ini punya kesempatan kedua, sekaligus membantu mereka yang membutuhkan,” tambah Tia. Dari selembar baju yang jatuh ke tanah, para santri belajar arti berbagi. Dari kegiatan sederhana ini, tumbuh kepedulian yang bisa jadi bekal penting dalam perjalanan hidup mereka kelak.

Scroll to Top