
Ada satu hal yang jarang orang lihat dari seseorang yang terlihat begitu besinar di media sosial. Jejak-jejak kecil yang ia tinggalkan di masa sunyi, jejak yang tak terlihat tapi kelak menjadi peta menuju panggungnya sendiri. Fahri, kakak tingkat yang aktifnya bikin iri yang fotonya berserakan di berbagai acara kampus, yang status Linkedln-nya bikin kita bertanya-tanya “Kok bisa sih dia ada dimana-mana?” ternyata menyimpan cerita yang tak sesederhana kelihatannya.
Jauh sebelum ia menjadi Google Student Ambassador Top 500 dari 18 ribu pendaftar se-Indonesia, sebelum lagunya yang berjudul “Menggapai Mimpi” diputar di berbagai platform digital, sebelum ia menjadi wajah blu BCA Digital dan anggota Novo Club ParagonCorp, ada seorang anak SMP yang suka sibuk, tipe yang suka berada di balik layar, bukan karena tidak percaya diri, tapi karena ia suka melihat semuanya bergerak dari belakang. Menjadi backstage manager untuk acara pusat sekolah, mengatur panggung, mengecek sound, memastikan lampu menyala tepat pada waktunya, sambil sesekali muncul ke depan untuk mengisi acara dan dari sanalah dari campuran antara gemericik tepuk tangan dan debar jantung yang berdebar kencang sesuatu tumbuh, benih kecil yang kelak akan berakar dalam. Kemudian ia naik ke SMA dan di sanalah perubahan pertama terjadi. Fahri yang awalnya nyaman berada di balik layar tiba-tiba terjun ke panggung yang lebih terbuka sebagai Wakil Ketua Umum 2 di OSIS, tapi menariknya ia tidak memiliki kepada divisi acara tempat yang sudah ia kuasai, ia justru nyebrang ke divisi PDD (Publikasi, Dokumentasi, Desain). Divisi yang sama sekali baru baginya. Kenapa? Karena Fahri mulai merasa penasaran. Ia ingin tahu bagaimana rasanya membuat poster yang menghentikan Langkah orang, mengelola dokumentasi yang membekukan waktu, menulis caption yang membuat jempol berhenti scrolling. Di sinilah, tanpa disadari bibit kecintaannya pada dunia media mulai bersemi perlahan, seperti tunas yang menerobos sela-sela aspal. Dan ada satu hal lain yang ikut tumbuh subur di masa SMA, cinta pada music.
Fahri mulai membuat cover lagu. Ia belajar mixing dan mastering audio secara otodidak dari tutorial Youtube yang videonya buram, dari trial and eror yang tak terhitung jumlahnya, dari mendengarkan ulang rekamannya puluhan kali hingga telinganya terasa terbakar. Ia tidak punya guru formal data itu. Hanya laptop butut, headphone yang satu sisinya putus, dan rasa ingin tahu yang membara seperti api di dalam perut. Di kamar yang sempit, di malam-malam yang larut, ia mulai memahami bahwa suara bisa dibentuk, bahwa senyap bisa diisi, bahwa ada keajaiban kecil ketika dua nada bertemu di frekuensi yang sama.
Namun, di balik semua kegiatan dan tawa yang terekam di foto-foto lama itu, Fahri belum tahu bahwa ujian terbesarnya sedang mengintai dari balik tikungan. Ujian itu bernama gap year. Satu tahun tanpa bangku kuliah, tanpa seragam baru, tanpa orientasi mahasiswa. Satu tahun yang terasa seperti memasuki lorong gelap tanpa ujung, atau seperti berenang di lautan tanpa daratan. Lulus SMA, Fahri mengambil Keputusan yang tidak banyak diambil oleh anak seusianya. “Awalnya cukup berat,” ucapnya suatu sore, dengan nada yang berusaha tegar naun matanya berbicara tentang luka lama yang sudah mengering. “Saya sempat ngerasain rasanya stuck. Kayak berhenti di tempat, sementara teman-teman lain bergerak maju. Ada rasa cemburu yang aneh, bukan iri, tapi semacam kehilangan.” Fase ini adalah masa paling sunyi dalam hidupnya. Bukan sunyi karena sepi, tapi sunyi karena tidak ada kepastian. Setiap pagi ia terbangun dengan pertanyaan yang sama “Besok aku ngapain?” Sementara notifikasi media sosial penuh dengan cerita teman-temannya yang sibuk dengan kehidupan di kampus baru, dengan tugas kelompok yang menggemaskan banyaknya, dengan rasa lelah yang justru membahagiakan. Fahri duduk di kamarnya, melihat layar ponsel, lalu menatap langit-langit yang retak. Dan di situlah, di antara keheningan yang paling pekat, ia membuat perjanjian diam-diam dengan dirinya sendiri: Aku tidak ada tenggelam.
Fahri memilih untuk tetap produktif meskipun prodiktivitas di masa sunyi terasa seperti mendaki gunung dengan satu kaki. Ia mulai dengan mendaftar les musik formal di Purwacaraka. Untuk pertama kalinya, ia belajar teori musik secara sungguh-sungguh, bukan sekadar ‘coba-coba’ lagi. Ia belajar tentang tangga nada, harmoni, progesi akor, dan bagaimana sebuah lagu bisa membuat orang dewasa menangis atau anak kecil tersenyum. Guru lesnya, seorang lelaki tua dengan kacamata tebal, pernah berkata: “Musik itu bukan tentang suara yang indah, Nak. Musik adalah tentang kejujuran. Kalau kamu tidak jujur pada perasaanmu, lagumu akan terdengar kosong.” Kalimat itu tertanam dalam dadanya seperti paku. Dan di sela-sela les, setiap hari tanpa gagal, Fahri duduk di depan buku catatannya, buku yang sampulnya sudah terlipat karena terlalu sering dibuka dan menulis lirik demi lirik. Kata-kata yang keluar dari dalam hati yang sedang berjuang, dari sisi gelap yang jarang ia tunjukan kepada orang lain. Ada larut malam di mana air mata jatuh tepat di atas tulisan tangannya, membuat tinta menjadi kabur, tapi entah mengapa kata-kata itu justru menjadi lebih jelas. Di masa inilah di antara sesi les yang melelahkan, antara lamunan yang panjang, antara tangis yang ditahan lahirlah sebuah lagu original. Bukan lagu tentang cinta remaja atau patah hati karena pacar, tapi lagu tentang dirinya sendiri. Tentang orang yang terjatuh tapi memilh untuk merangkak. Tentang orang yang melihat semua orang berlari sementara ia baru belajar berdiri. Lagu itu ia tulis bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Sebagai pengingat bahwa meski stuck, ia masih bisa mencipta. Meski dunia terasa berhenti berputar, ia masih bisa membuat sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Tapi lagu itu belum ia rilis. Disimpannya rapat-rapat di folder laptop yang berdebu. Belum waktunya, bisik hatinya.
Selain bermusik, Fahri juga tidak melupakan persiapan akademik. Ia sadar bahwa gap year bukanlah akhir dari segalanya, melainkan jeda yang bisa ia isi dengan hal-hal berarti. Dan seperti yang terjadi dalam cerita-cerita perjuangan yang paling indah di saat kita berusaha tanpa henti, di saat keringat bercampur doa, di saat kita hampir kehilangan harapan alam semesta perlahan membalas. Fahri lolos seleksi masuk Universitas Padjajaran, tepat dijurusan yang sangat linier dengan passionnya: Manajemen Produksi Media. Rasanya seperti mencium aroma hujan setelah kemarau panjang yang menyiksa. Ia hampir tidak percaya. Setelah setahun penuh rasa cemas, setelah larut malam yang dihabiskan dengan buku dan lirik, setelah berbulan-bulan merasa menjadi satu-satunya orang yang berjalan mundur di dunia yang serba cepat, akhirnya ia sampai di tempat yang selama ini ia impikan.
Begitu masuk kuliah, Fahri berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tahu persis rasanya kehilangan ruang untuk berkembang, tahu persis bagaimana rasanya hanya menjadi penonton di atas panggung kehidupan orang lain. Maka begitu pintu terbuka, ia melangkah masuk tanpa ragu, tanpa banyak pertimbangan. Ia bergabung dengan HIMA MPM di divisi Senbora singkatan dari Seni Budaya dan Olahraga, sebuah divisi yang terdengar biasa tapi ia olah menjadi luar biasa. Tidak cukup hanya menjadi anggota, ia memimpin sebuah proyek inovasi yang ia namai Live Session. Apa itu Live Session? Sebuah proyek video musik yang mengkurasi talenta-talenta tersembunyi di lingkungan MPM, memberikan panggung bagi mereka yang mungkin selama ini hanya bernyanyi di kamar mandi. Dan di sinilah, di ruang produksi yang sempit dan penuh kabel kusut, semua pengalaman masa lalu Fahri bertemu dalam satu waktu.
Tapi Fahri tidak berhenti di organisasi internal. Ia juga mulai tampil di panggung-panggung kampus. Jari-jarinya yang dulu hanya gemas memegang mikrofon di kamar, kini dengan percaya diri menggenggam mic di depan ratusan orang. Salah satu momen paling berkesan adalah saat ia tampil di acara Markettown, sebuah acara yang mempertemukan kreator-kreator muda kampus. Di sanalah ia bertemu dengan banyak orang baru—para pembisik, para pemimpi, para pekerja keras yang juga sedang mencari jalan pulang. Ia mendapatkan relasi yang tak terduga, teman diskusi yang membuka wawasannya, dan rasa memiliki yang selama ini ia rindukan. Dan setelah selesai mengabdi di HIMA, Fahri merasa satu hal: ia haus akan tantangan yang lebih besar. Ia ingin keluar dari zona nyaman kampus, menjejakkan kaki di dunia yang lebih luas, yang lebih riuh, yang lebih tidak kenal ampun. Pertama, ia terpilih menjadi blu by BCA Digital Ambassador. Di sini ia belajar tentang brand awareness, bagaimana berbicara dengan generasi muda tentang produk finansial digital dengan cara yang tidak menggurui, dan yang paling penting mengasah kemampuan komunikasinya di depan publik hingga ia sadar bahwa kata-kata bisa menjadi jembatan. Kedua, ia bergabung dengan Novo Club by ParagonCorp, sebuah komunitas elit yang mempertemukan mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Ketiga dan ini yang paling ia syukuri, yang membuat ia hampir tak percaya ketika surat penerimaan masuk ke kotak masuk emailnya, ia menjadi Google Student Ambassador (GSA) 2026. Dari 81.000 pendaftar yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari anak UI hingga anak Unhas, Fahri masuk ke dalam jajaran Top 2.000. Tapi perjuangannya belum selesai. Karena ia terus bergerak, terus belajar, terus berbagi hingga tak terasa langkahnya semakin lebar. Dan kabar baiknya? Fahri baru saja diinfokan bahwa ia naik tier menjadi Top 500, karena keberhasilannya menginfluence teman-teman sekampus menggunakan Gemini AI. “Aku bersyukur banget,” katanya sambil tersenyum lebar, sebuah senyum yang menghapus semua lelah semalam. “Dulu waktu gap year, aku ngerasa kayak ketinggalan kereta. Sekarang, ternyata kereta itu belum pergi. Aku cuma perlu nunggu di stasiun yang tepat. Dan ternyata, stasiun itu ada di dalam diriku sendiri.”
Dan ingat lagu yang ia tulis di masa gap year dulu? Lagu yang ia simpan rapat-rapat di folder laptop yang hampir ia lupakan? Tanggal 1 April 2026 kemarin, di hari yang tidak ada hubungannya dengan kebohongan, lagu itu akhirnya resmi dirilis. Judulnya: “Menggapai Mimpi”. Fahri bilang, lagu itu adalah representasi utuh dari semua proses yang ia lewati. Dari rasa cemas yang menyiksa, dari perasaan tertinggal yang membakar hati, dari malam-malam panjang. Tapi di balik semua pencapaian dan lagu-lagu yang mengalun indah itu, di balik senyum yang tak pernah padam di setiap foto yang diunggah, Fahri jujur mengakui bahwa perjalanan ini tidak selalu mulus. Tidak selalu ada sinar mentari. “Tantangan terbesar itu bukan ikut banyak kegiatan,” ujarnya dengan nada yang lebih pelan, seperti orang yang sedang membuka laci lama yang penuh debu. “Tapi manajemen waktu dan menentukan skala prioritas. Karena ada saatnya jadwal kuliah, tugas ambassador, proker organisasi, dan urusan musik semuanya tabrakan di minggu yang sama. Di awal-awal, jujur saya sempat kewalahan dan hampir burnout. Ada momen di mana saya duduk di tepi tempat tidur, menatap dinding, dan bertanya, ‘Kenapa sih aku melakukan semua ini? Apa tidak cukup hanya kuliah biasa seperti teman-teman yang lain?”” Itu adalah pertanyaan paling jujur yang pernah ia lontarkan pada dirinya sendiri. Dan jawabannya, setelah ia merenung cukup lama, ternyata sangat sederhana: Karena aku takut kembali ke masa di mana aku tidak melakukan apa-apa. Karena aku takut kembali ke versi diriku yang merasa tertinggal. Karena rasanya jauh lebih sakit untuk tidak mencoba daripada mencoba lalu gagal.
Fahri menutup ceritanya dengan sebuah kalimat yang mungkin akan terngiang lama di kepala kita, seperti lirik lagu yang susah dilupakan. “Saya sempat ngerasain rasanya ‘stuck’. Saya sempat merasa hidup saya berhenti di satu titik sementara semua orang terus bergerak. Tapi saya belajar bahwa ‘stuck’ itu bukan akhir. ‘Stuck’ hanyalah jeda. Jeda untuk merenung, untuk mengatur strategi, untuk menyusun kekuatan. Dan di jeda itulah saya belajar hal paling penting: bagaimana caranya tidak menyerah sebelum mimpi itu benar-benar tergapai, bagaimana caranya bertahan ketika tidak ada yang memberi tepuk tangan.” Kisah Fahri adalah kisah tentang seorang anak laki-laki yang pernah merasa tertinggal, yang duduk di kamarnya yang sempit sambil menulis lirik di tengah ketidakpastian yang mencekik, yang memilih untuk tetap produktif meski dunia di sekitarnya terasa berhenti berputar dan semua orang tampak bahagia kecuali dirinya. Dan sekarang, setelah semua air mata dan keringat, ia berdiri di panggung yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan bukan karena ia terlahir istimewa, bukan karena ia lebih pintar atau lebih berbakat, tapi karena ia berani memulai dan bertahan ketika hampir semua orang menganggapnya gagal.
Sekarang giliranmu. Giliran kita semua. Karena setiap orang punya masa gap year masing-masing, mungkin bukan dalam arti harfiah, tapi dalam bentuk keraguan, dalam bentuk kegagalan, dalam bentuk rasa takut yang melumpuhkan. Dan yang membedakan hanyalah satu hal: apakah kita memilih untuk diam di tempat, atau memilih untuk mengambil satu langkah kecil satu lirik, satu lamaran, satu pendaftaran, satu pesan singkat menuju mimpi yang mungkin selama ini hanya kita bisikkan di bantal. Selamat berjalan, dan jangan lupa untuk bernyanyi di tengah jalan. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah lagu yang kita tulis sendiri, dengan nada tinggi rendah sesuai irama perjuangan masing-masing. Dan tidak ada satu pun catatan yang salah jika kita menyanyikannya dengan hati.
