

Di tengah bentangan alam pegunungan Sumedang yang sejuk, suara kendang dan terompet bersahut-sahutan memecah keheningan pagi. Di antara kerumunan warga Kampung Nyalindung, seekor kuda berjalan dengan gagah, dihias meriah dengan warna-warna cerah dan ornamen keemasan. Di atas punggungnya, seorang anak laki-laki tersenyum malu sambil melambaikan tangan. Inilah kuda renggong, seni pertunjukan tradisional Sunda yang hingga kini masih hidup dan bernapas dari satu kampung ke kampung lainnya.
Kuda renggong merupakan pertunjukan budaya yang menampilkan kuda “menari” mengikuti irama musik tradisional. Biasanya, acara ini digelar dalam rangka syukuran khitanan anak laki-laki atau momen-momen perayaan desa. Tidak hanya sebagai hiburan rakyat, kuda renggong menjadi simbol kebanggaan budaya dan jati diri masyarakat Sunda, terutama di daerah Sumedang.
Pertunjukan kuda renggong yang masih lestari bisa dijumpai di Kampung Nyalindung, Desa Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Di kampung ini, tradisi bukan sekadar dijaga, tetapi dirawat dengan rasa memiliki. Jalan-jalan sempit desa yang biasanya tenang, berubah menjadi panggung terbuka bagi seni rakyat yang hidup dari generasi ke generasi.
Kuda renggong biasanya digelar saat libur sekolah, terutama antara bulan Juni hingga Agustus, karena bertepatan dengan banyaknya hajatan khitanan. Namun tidak menutup kemungkinan digelar pada bulan lain untuk menyambut tamu kehormatan, syukuran panen, atau festival desa. Di masa liburan itu, hampir setiap minggu ada satu-dua kali arak-arakan kuda renggong di desa ini.
Pelatih kuda, pemain musik, dan keluarga yang memiliki hajat adalah tokoh penting dalam pertunjukan ini. Salah satu pelatih yang konsisten melestarikan seni ini adalah Kang Akew, warga asli Nyalindung yang sudah lama menjadi pelatih kuda.
“Kami tidak hanya melatih kuda untuk berjalan indah, tapi kami merawat tradisi ini seperti merawat warisan dari leluhur,” ujarnya saat ditemui untuk di wawancarai
Anak-anak muda pun perlahan mulai diajak ikut terlibat, baik sebagai pengiring musik atau pembantu dekorasi kuda, menjadikan regenerasi budaya terus berlangsung.
Bagi masyarakat Nyalindung, kuda renggong bukan hanya sebuah tradisi, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan spiritual. Pertunjukan ini menjadi sarana bersyukur, menjalin silaturahmi, serta menunjukkan identitas dan kebanggaan terhadap akar budaya.
“Kalau tidak kita yang menjaga, siapa lagi? Kuda renggong adalah jati diri kampung ini,” ungkap Kang Akew.
Rasa memiliki yang tinggi terhadap tradisi membuat pertunjukan ini tetap eksis, meskipun di tempat lain mulai ditinggalkan.
Persiapan dimulai sejak pagi. Kuda dimandikan, dihias dengan kain berwarna, lonceng, dan mahkota. Sementara itu, musik tradisional disiapkan lengkap dengan kendang, gong, dan terompet khas Sunda. Setelah itu, rombongan arak-arakan berjalan keliling kampung, menghibur warga dan menyemarakkan suasana. Anak yang dikhitan duduk di atas kuda dengan bangga, diiringi senyum orang tuanya dan sorak sorai warga yang menyaksikan.
Seluruh proses dilakukan dengan gotong royong, tanpa sponsor besar atau campur tangan pemerintah. Semuanya murni dari dan untuk masyarakat, menjadikan kuda renggong sebagai pertunjukan budaya yang masih bersifat organik dan merakyat.
Kuda renggong bukan sekadar tontonan. Ia adalah nyawa dari identitas lokal, denyut dari kebersamaan warga, dan pusaka budaya yang terus hidup dalam langkah kuda yang menari mengikuti irama bumi Sunda. Selama masih ada orang-orang seperti Kang Akew dan warga Nyalindung yang peduli, kuda renggong akan terus berderap—menjaga masa lalu tetap hadir dalam kehidupan masa kini.
Alma Nada Habibah
Sejarah Peradaban Islam ( Adab Dan Humaniora )
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
