
Di balik hamparan hijau perkebunan dan dinginnya udara Sukabumi, berdiri sebuah kawasan yang menyimpan kisah pergeseran zaman dari tempat wisata yang ramai menjadi kota mati yang sunyi dan tertutup. Namanya Lembah Halimun, sebuah komplek perumahan Belanda di kaki Gunung Gede Pangrango yang kini hanya bisa dimasuki oleh para petani, sementara pengunjung umum tak lagi diperbolehkan memasuki kawasannya.
Lembah Halimun dulunya dikenal sebagai kawasan wisata tersembunyi yang eksotis. Dengan suasana sejuk, kabut pagi yang menggantung, serta deretan bangunan bergaya Eropa yang memudar termakan usia, kawasan ini sempat menjadi favorit berbagai kalangan. Lokasinya yang tenang dan atmosfernya yang unik menjadikannya tempat pilihan untuk kegiatan sekolah, sesi foto prewedding, bahkan sebagai latar konten horor oleh para kreator digital.
Namun kini, semua itu tinggal cerita. Komplek perumahan ini telah ditutup untuk umum. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain, tidak ada pengunjung yang melintas, dan tidak ada lagi kamera yang merekam sisi angkernya. Pihak pengelola tidak mengizinkan siapa pun mendokumentasikan kawasan ini dari dalam.
Menurut seorang pedagang yang masih berjualan di sekitar gerbang kawasan, penutupan ini dipicu oleh sebuah program uji nyali dari salah satu stasiun televisi. Dampaknya bukan hanya pada penghentian aktivitas wisata, tapi juga merugikan secara ekonomi masyarakat kecil di sekitarnya.
“Sejak ditutup, dagangan jadi sepi. Dulu ramai, ada rombongan, anak-anak sekolah, sampai orang-orang yang melakukan prewedding,” ujar ibu Wati (bukan nama sebenarnya), pedagang makanan ringan di dekat gerbang masuk Lembah Halimun.

Kini, hanya dua rumah yang berpenghuni di dalam komplek tersebut. Menariknya, keduanya dihuni oleh warga keturunan Belanda, yang memilih tetap tinggal meski lingkungan sekitar semakin sepi. Sementara itu, bangunan-bangunan lainnya membisu dalam kondisi terbengkalai, dindingnya retak, jendelanya pecah, dan ditutupi semak belukar yang tumbuh liar.

Meski kawasan ini ditutup untuk wisata, para petani masih diperbolehkan masuk. Mereka menyewa sebagian lahan yang kini difungsikan sebagai kebun, menjadikan Lembah Halimun bukan sepenuhnya kosong, namun tetap sunyi.
Lembah Halimun kini lebih menyerupai kota mati yang terkunci dalam waktu. Tidak ada tawa pengunjung, tidak ada suara motor wisatawan, hanya suara angin dan gelegar petir yang sesekali memecah hening. Jalanan rusak, papan petunjuk lapuk, dan reruntuhan bangunan menjadi bagian dari lanskap harian. Bagi sebagian orang, aura misterius inilah yang menjadi daya tarik. Namun bagi masyarakat sekitar, terutama pedagang dan pelaku wisata lokal, penutupan Lembah Halimun adalah kehilangan yang nyata baik dari sisi ekonomi maupun identitas kawasan itu sendiri.
