Literasi di Era Algoritma: Peluang dan Tantangan BookTok

Di era digitalisasi, setiap orang memilik akses yang sama ke media sosial. Setidaknya sehari sekali kebanyakan orang akan menghabiskan waktu luang mereka untuk scrolling media sosial. TikTok menjadi salah satu aplikasi yang digandrungi saat ini. Ada banyak tren yang terus berputar seiring berjalannya waktu. Algoritma akan merekomendasikan jenis video yang berbeda ke setiap orangnya. Tergantung minat dan kegemaran orang tersebut. Tren ini pun tidak luput dari dunia literasi. Akhir-akhir ini sedang populer #BookTok (komunitas pembaca di TikTok) yang berbagi kumpulan video pendek kreatif yang mengulas atau mendiskusikan sebuah buku dengan cara masing-masing. Hal ini sudah menjadi tren di dunia literasi akhir-akhir ini, terutama di kalangan anak muda. Cara ini efektif untuk mengenalkan dunia literasi kepada khalayak luas. Namun, apakah ini merupakan proses menuju kebangkitan literasi atau malah hanya menjadi sebuah tren belaka?

Tidak bisa dipungkiri, BookTok membuka peluang untuk kebangkitan minat baca di era digital. Buku-buku yang sudah terbit lama bisa kembali populer. Misalnya ketika seseorang memposting video review, kemudian video itu ditonton oleh banyak orang. Sebagian orang akan terpengaruh dan ikut membeli buku yang sama. Padahal dulu rekomendasi buku didominasi oleh kritikus sastra, media massa, atau akademisi, kini siapa pun bisa menjadi rekomendator bacaan. Mulai dari seorang pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga, dapat mengungkapkan kesan dan opini mereka ketika menyelesaikan sebuah buku. Hal ini membuat ulasan menjadi lebih personal dan jujur karena lahir dari pengalaman langsung pembaca. Selain itu, algoritma akan bekerja di belakang layar dan merekomendasikan jenis bacaan yang sesuai minat ke setiap orangnya. Algoritma akan merekomendasikan video-video yang isinya membahas sebuah buku yang kemungkinan besar akan kita sukai. Hal ini membuat orang yang menontonnya merasa “relate”.

Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan yang perlu dicermati. Saya juga merupakan salah satu orang yang aktif di dunia BookTok. Dari pengalaman dan pengamatan saya, generasi ini terbiasa dengan konten visual cepat. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan interaksi: semakin banyaknya orang yang menyukai, membagikan, atau mengomentari postingan tertentu, semakin besar peluang postingan tersebut akan terus direkomendasikan ke banyak orang. Oleh sebab itu, tiga detik pertama dalam sebuah video itu (hook) adalah hal yang menentukan apakah konten tertentu bisa mendapatkan banyak penonton atau tidak.

Tantangan lainnya adalah kecenderungan konsumsi cepat. Tidak sedikit orang membeli buku karena FOMO (Fear of Missing Out). Hal ini terjadi ketika ada sebuah buku yang sedang viral dibicarakan oleh banyak orang, muncul dorongan untuk membeli buku yang sama karena tidak ingin merasa tertinggal. Sebagai seseorang yang juga menikmati konten-konten BookTok, saya juga pernah merasakan hal ini. Literasi itu bukan hanya sekedar memiliki atau menamatkan sebuah buku, melainkan pada proses memahami, merefleksikan, dan menghubungkan isi bacaan dengan realitas sosial. Oleh sebab itu, meningkatnya konsumsi pembelian buku tidak berarti minat baca juga ikut meningkat. Fenomena membeli buku tanpa membacanya sudah sering terjadi. Saya melihat jika BookTok ini merupakan fenomena yang memiliki dua sisi. Di satu sisi ia membuka peluang besar bagi dunia literasi, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama media sosial. Di sisi lain, peningkatan konsumsi buku belum tentu sejalan dengan peningkatan minat baca.

Di sini lah pentingnya kesadaran literasi digital. Menurut saya, BookTok tidak sepenuhnya salah dalam cara mereka menyampaikan sebuah kesan dan opini ke dalam sebuah video pendek yang kemudian disebarluaskan. Karena pada dasarnya ia hanyalah alat. Masalahnya bukan pada keberadaan algoritma, melainkan pada cara kita menggunakannya. Bagi sebagian orang, mereka membeli buku terlebih dahulu bisa jadi untuk “mengamankan” buku tersebut. Karena banyak juga buku yang populer setelah menjadi langka dan tidak cetak ulang. Kemudian ada juga beberapa oknum yang mengambil kesempatan itu untuk menjual buku langka tersebut dengan harga yang tinggi. Jadi sebenarnya ini kembali lagi ke referensi imasing-masing. Pembaca perlu menyadari bahwa tidak semua rekomendasi yang muncul di beranda itu merupakan gambaran utuh dunia literasi. Kita tetap memiliki kebebasan untuk mencari bacaan lain, mengeksplorasi genre yang berbeda, atau membaca karya yang sedang populer. Justru di era digital ini lah kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Selain itu, komunitas literasi memiliki kesempatan yang strategis untuk memanfaatkan BookTok secara lebih produktif. Konten kreatif tentang buku tidak harus dangkal. Video singkat saja sudah bisa digunakan untuk memperkenalkan karya klasik, membahas isu sosial dalam novel, atau mengajak diskusi mendalam. Jika dimanfaatkan dengan bijak, BookTok dapat menjadi jembatan antara budaya digital dan kedalaman literasi. Ia bisa menjadi pintu yang mengantar pembaca muda menuju bacaan yang lebih beragam dan bermakna.

Pada dasarnya, kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pilihan bacaan kepada sistem otomatis atau berpatok pada perkataan orang lain. Tidak semua buku yang dibahas di media sosial harus kita beli, dan tidak semua opini di BookTok kita jadikan pedoman sepenuhnya dalam memilih bacaan. Karena ada juga kasus di mana seorang oknum yang menyalahkan BookToker karena buku yang direkomendasikan tidak sesuai dengan seleranya, dan dia baru menyadarinya ketika sudah membelinya. Padahal buku itu sifatnya personal. Walaupun bukunya sama, makna dan kesan yang tersampaikan bisa berbeda bagi setiap orang.

BookTok telah membuktikan bahwa minat baca bisa tumbuh melalui media sosial. Namun, kualitas literasi tetap ditentukan oleh sikap pembaca itu sendiri. Apakah kita membaca hanya karena viral, atau karena ingin memahami dunia dengan lebih baik? Di tengah derasnya arus konten digital, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan. BookTok bisa menjadi peluang besar bagi kebangkitan literasi, tetapi juga membawa tantangan yang tidak ringan. Maka, yang paling menentukan bukanlah algoritma, melainkan kesadaran kita sendiri.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!