Mahasiswi Polban Sukses Memgembangkan Bisnis Dari Tugas Kuliah

TIDAK semua orang memulai bisnis dengan mimpi besar atau rencana matang. Bagi mahasiswi jurusan Marketing di Politeknik Negeri Bandung (Polban) ini, langkahnya menjadi pebisnis justru berawal dari sebuah tugas kampus. Awalnya, ia mengira dunia pemasaran hanya berkutat pada komunikasi dan strategi iklan. Tapi lewat proyek demi proyek yang digarap setiap semester, ia menemukan bahwa teori di kelas bisa berubah menjadi sesuatu yang nyata bahkan menghasilkan keuntungan.

“Awalnya enggak ada niat bikin bisnis, saya kira jurusan Marketing itu hanya belajar komunikasi biasa,” katanya sambil tertawa mengenang masa awal kuliah. Tapi ketika setiap semester mewajibkan mahasiswanya menjalankan proyek bisnis, ia mulai merasakan tantangan dan peluang yang sesungguhnya. Tanpa sadar, tugas-tugas itulah yang membentuk pondasi bisnis yang kini berkembang pesat.

Di Polban, jurusan Marketing bukan sekadar belajar teori. Setiap semester, mahasiswa diminta membuat proyek bisnis nyata, mulai dari menentukan lokasi strategis, mengenali kekuatan dan kelemahan pasar, hingga menjalankan strategi bisnis ke konsumen. Pada semester awal, ia bersama timnya mulai dengan menjadi reseller membeli produk dari pihak lain dan menjual kembali dengan strategi pemasaran yang dipelajari di kelas.

Yang menarik, dari semula hanya berniat menyelesaikan tugas kelompok, ia justru mengambil alih kepemimpinan penuh. “Waktu itu saya jadi ketua kelompok, tapi yang lain hanya ikut-ikut saja. Akhirnya saya buat kontrak agar bisnis ini bisa terus jalan meskipun mata kuliahnya selesai,” ujarnya. Langkah itu menandai perubahan besar: dari sekadar proyek kampus menjadi bisnis sungguhan yang dikelola dengan visi jangka panjang.

Keterbatasan modal menjadi tantangan besar di awal perjalanan bisnisnya. Karena tidak memiliki cukup dana, ia memilih menjadi reseller sebagai langkah awal. Namun, dukungan keluarga terutama sang kakak mengubah segalanya. Sang kakak bukan hanya memberi semangat, tapi juga membantu dari sisi finansial dan operasional.

“Modal pertama untuk produksi sendiri itu dari kakak. Beliau juga bantu handle bisnis karena saya fokus kuliah dan aktif organisasi,” tuturnya. Berkat kolaborasi ini, bisnis yang dulunya hanya menjual barang pihak lain kini sudah memiliki produk sendiri. Bahkan, mereka sudah punya lini produksi yang lebih profesional, dengan karyawan tetap sekitar 20 orang.

Keberhasilan bisnis ini tidak hanya dirasakan oleh pemiliknya. Dampaknya juga menyentuh lingkungan sekitar. Sebagian besar karyawan direkrut dari tetangga dan kerabat, bahkan ada yang diberi tempat tinggal. “Alhamdulillah, bisnis ini juga bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya,” katanya bangga.

Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus seperti ngesteam, ngelingking, dan merajut, mereka masih menggandeng pihak luar. Ini menunjukkan bahwa bisnis ini tumbuh secara bertahap, menyesuaikan kapasitas tim internal sambil tetap mempertahankan kualitas produksi.

Seiring berkembangnya bisnis, tantangan pun semakin kompleks. Permintaan produk meningkat, tapi jumlah karyawan masih terbatas. Ia mengakui sering merasa seperti “dikejar-kejar setoran” karena belum ada penambahan tenaga kerja yang sepadan dengan jumlah order yang masuk.

Meski begitu, ia tak menyerah. Ia belajar bahwa mengelola bisnis bukan hanya soal mencari untung, tapi juga mengatur ritme kerja, sumber daya manusia, dan menjaga semangat tim. “Kalau omset mau besar, tentu modal dan tenaga juga harus besar. Itu hukum dasarnya,” ujarnya realistis.

Menariknya, meski bisnis ini sudah berjalan sukses dan mendapat banyak pengakuan, sang pendiri belum yakin akan menjadikannya sebagai karier utama. Ia masih ingin mengejar impian lain di luar dunia bisnis. “Sekarang fokus saya masih ke rencana karier pribadi. Kalau memang tercapai, bisnis ini mungkin dilanjutkan kakak saja,” ujarnya jujur.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kesuksesan bisnis tidak harus selalu menjadi tujuan akhir. Kadang, ia bisa menjadi jembatan, batu loncatan, atau bahkan cadangan yang menguatkan langkah menuju mimpi lain.

Menutup ceritanya, ia memberikan pesan sederhana namun kuat kepada mahasiswa lain. “Coba dulu, jangan takut rugi. Dari tugas kuliah saya ini, yang awalnya cuma buat memperkenalkan produk, bisa jadi bisnis beneran. Untung rugi itu biasa, tapi jangan sampai kita gagal cuma karena enggak berani mulai.”

Kisah ini menjadi pengingat bahwa kampus bisa menjadi tempat lahirnya gagasan besar, dan tugas kuliah bisa jadi lebih dari sekadar lembaran nilai. Dengan niat, keberanian, dan sedikit dukungan, siapa pun bisa memulai langkah pertama menuju sesuatu yang luar biasa.

Lampiran:

Gambar 1 Akun Tiktok Purnama Gakerry 1   Gamar 2 Katalog Prodak

Gambar 3 Hasil Wawancara

Scroll to Top