Mandau: Merawat Identitas Dayak di Ruang Kota

Di antara belantara beton dan jalanan beraspal sebuah komplek perumahan kota di tengah Kota Sampit —Tersimpan sebilah Mandau warisan, senjata untuk menebas ladang serta menembus hutan itu kini berdiam di bawah tempat tidurku . Orang tuaku pernah berkata “Kita hidup di kota sekarang berasal dari tangan-tangan yang pernah mengayunkan Mandau ini menembus hutan.”

Ibuku bercerita jika orang-orang di kampungnya dulu membawa Mandau ke ladang, dipakai untuk membuka jalan, untuk berburu—sekarang juga masih, namun jarang. Lebih dari itu juga kami letakkan di altar upacara adat bahkan pernikahan. “Mandau adalah teman hidup.” Di tangan orang Dayak, Mandau menjadi tanda kesiapan. Kesiapan untuk mengelola alam, membela diri, membangun rumah tangga. Ketajamannya bukan hanya tentang luka, tapi tentang hidup yang dibuka dan dijaga. 

Mandau bukan hanya sebilah besi tajam, ia adalah karya seni yang menyatu dengan tangan dan kepercayaan. Di ujung gagangnya—yang disebut pulang—terpahat kepala burung enggang atau tokoh mitologis, simbol perlindungan dan keberanian. Pulang ini biasanya dibuat dari tanduk ataupun taring hewan buruan, dibentuk melengkung agar pas digenggam. Bilahnya sedikit melengkung ke dalam, dan di bagian punggungnya kadang terukir garis-garis halus atau pamor samar yang dipercaya membawa keberuntungan.

Mandau tak lengkap tanpa kumpang, sarung kayu yang disulam dengan ukiran rumit dan dihiasi manik-manik hasil gerak fungsi dan pemaknaan Mandau itu. Tali rotan mengikat kumpang pada tubuh, dan kadang dililitkan bulu atau kain adat. Beberapa Mandau keluarga mewariskan jumbai manik yang dipercaya berisi doa perlindungan—semacam “tanda tangan spiritual” dari leluhur. Tak jarang juga diselipkan pisau kecil tambahan pada kumpang, disebut Langgei Puai, untuk fungsi yang lebih detil..

Kini, urbanisasi menggeser makna. Orang-orang Dayak yang dahulu hidup akrab dengan hutan dan sungai, kini harus berhadapan dengan batas-batas kota, pekerjaan kantoran, dan sistem kehidupan baru. Mandau yang dulu digunakan setiap hari, kini tergantung di dinding sebagai simbol. Pada akhirnya aku tersadar bahwa “Tidak semua dari kami masih bisa berkebun atau berburu. Tapi dengan menelusuri dan melihat Mandau, kami diingatkan dari mana kami berasal,”

Waktu memang bekerja dengan caranya sendiri—mengubah, mengganti, mengikis. Namun selama Mandau masih diwariskan, dibicarakan, dan dimaknai, maka ia masih hidup. Ia bukan lagi sekadar besi tajam, tapi cermin perjalanan manusia Dayak dalam memahami alam, mempertahankan marwah, dan menghaturkan syukur atas hidup yang terus bergerak.

Scroll to Top