Serang, 18 Juni 2025 – Di tengah geliat urbanisasi Kota Serang, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang tak hanya menjadi pusat ibadah umat Islam, tapi juga lambang perjuangan, spiritualitas, dan identitas masyarakat Banten. Masjid Agung Ats-Tsauroh, nama yang menggema dengan makna yang jarang orang ketahui dan tentunya menyimpan jejak panjang sejarah dari masa kolonial hingga kini menjadi destinasi wisata religi yang diperhitungkan.
Awalnya hanya sebuah masjid kecil bernama Masjid Pegantungan, bangunan ini tumbuh seiring perubahan zaman. Dari bentuk atap tumpang ala Masjid Demak, dan beberapa kali mengalami perubahan yang mencolok ditahun 1974. Masjid Ats-Tsauroh menjadi cermin evolusi arsitektur sekaligus evolusi semangat umat Islam di tanah Banten.
Masjid Ats-Tsauroh didirikan pada tahun 1918 oleh Bupati Serang yang berasal dari Yogyakarta sebagai bentuk koreksi atas pemindahan pusat kota dari Surosowan ke Serang yang awalnya tidak memiliki masjid. Ustadz Fadlullah dalam wawancaranya menyebut, masjid ini menjadi simbol kebangkitan Islam di masa kolonial dan awal perlawanan spiritual terhadap penjajahan.
Setelah peristiwa G30S/PKI, tepatnya tahun 1968, nama masjid diubah menjadi Ats-Tsauroh yang berarti revolusi. Usulan ini datang dari Prof. KH. Syadeli Hasan dan disahkan oleh Bupati Letkol Tb. Suwandi. Nama tersebut mencerminkan semangat jihad para ulama seperti KH. Tubagus Ahmad Chatib dan Brigjen KH. Syam’un yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda dan ancaman komunis seperti Laskar Gulkut.
Masjid ini juga mengalami sejumlah renovasi, salah satu yang paling mencolok terjadi pada 1974, saat Bupati Letkol H. Tb. Saparudin memadukan gaya klasik dan neo-klasik kolonial. Kolom bata klasik menghiasi pendopo, dan atap tumpang tiga diganti menjadi kubah. Proyek renovasi ini didukung oleh H. Afifi Abdul Azis, dipimpin oleh Ayif Usman, dan dikerjakan oleh H. Mulya Syarif.
Seiring perkembangan zaman dan dinamika pemerintahan Kabupaten Serang, Masjid Ats-Tsauroh terus bertransformasi hingga akhirnya ditetapkan sebagai Masjid Agung Kota Serang pada 1 Juli 2020 oleh Wali Kota H. Syafrudin. Dengan semangat aje kendor, revitalisasi dilakukan bersama masyarakat dan menjunjung tinggi nilai-nilai Jawara Banten seperti komitmen janji, wanten (keberanian), dan silih wawangi (saling menghormati).
Kini, Masjid Agung Ats-Tsauroh tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga pusat dakwah, pendidikan, sosial, dan budaya. Dengan letaknya yang strategis serta desain arsitektur kontemporer, masjid ini menjadi destinasi wisata religi yang aktif menyemai nilai-nilai kebersamaan dan keislaman.
“Di balik dinding-dindingnya yang kokoh dan desainnya yang elegan, Masjid Ats-Tsauroh terus menggemakan pesan perjuangan, kebangkitan, dan kebersamaan yang abadi dari jantung Banten.” Masjid Agung Ats-Tsauroh adalah saksi diam dari perjuangan, perubahan, dan penyatuan. Dari revolusi fisik hingga revolusi spiritual, dari arsitektur klasik ke kubah kontemporer, masjid ini tetap berdiri sebagai mercusuar nilai Islam di Banten. Di tengah tantangan zaman, semangat yang diwakilinya tak lekang: keberanian, persatuan, dan cahaya keimanan yang terus menyala dari pusat Kota Serang.
