Masjid tegalkalong tampak luar
source : pribadi
Sumedang – Di tengah suasana religius Kecamatan Sumedang Utara, berdiri kokoh sebuah masjid dengan atap tumpang tiga dan mahkota khas di puncaknya. Masjid Besar Tegal Kalong bukan hanya rumah ibadah tertua di Sumedang, tetapi juga menyimpan jejak kelam dalam perjalanan sejarah kerajaan Sumedang Larang. Masjid ini menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang terjadi pada Hari Raya Idul Fitri, Jumat, 18 November 1678, di masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol III, yang dikenal sebagai Pangeran Panembahan (1656–1709).
Kala itu, kondisi keamanan kerajaan tengah rapuh. Sumedang berada dalam bayang-bayang ancaman dari arah barat, yakni Kesultanan Banten. Sebagai bentuk pertahanan, Pangeran Panembahan membentuk satuan pasukan elit bernama Pamuk, terdiri dari 40 prajurit pilihan yang disebar di wilayah-wilayah strategis dan diberi tanah carik sebagai bentuk imbalan atas tugas menjaga pusat pemerintahan di Tegal Kalong.
Namun ancaman berubah menjadi kenyataan. Pada hari suci Idul Fitri yang jatuh pada hari Jumat, saat Pangeran Panembahan dan warga melaksanakan salat Ied di Masjid Besar Tegal Kalong, pasukan Kesultanan Banten di bawah pimpinan Cilik Widara melancarkan serangan mendadak. Masjid dikepung dari segala penjuru, dan tepat setelah khutbah selesai, mereka menyerbu secara brutal.
Pertempuran yang terjadi berlangsung tidak seimbang. Para jamaah yang hadir sebagian besar adalah rakyat biasa, tanpa persenjataan. Sementara pasukan Banten datang dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap. Korban pun berjatuhan dari pihak Sumedang. Beberapa tokoh penting yang gugur dalam pertempuran itu antara lain Tumenggung Jaya Satru, Raden Dipa, Aria Santapura, dan Mas Bayun. Bahkan beberapa kerabat Pangeran Panembahan ikut ditawan, bertahan seperti Raden Singamanggala, Raden Bagus, dan Raden Tanusuta.
Masjid tegalkalong tampak dalam
Source : pribadi
Meski demikian, Pangeran Panembahan berhasil menyelamatkan diri dari kepungan dan melarikan diri ke wilayah Indramayu. Namun tragedi ini tak pernah terlupakan oleh masyarakat Sumedang. Luka sejarah itu bahkan melahirkan sebuah mitos yang masih hingga kini, yakni pemimpin Sumedang enggan melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Besar Tegal Kalong jika hari raya jatuh pada hari Jumat, sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa berdarah yang pernah terjadi.
Kini, Masjid Besar Tegal Kalong berdiri tenang, berfungsi normal sebagai pusat ibadah. Namun, di balik keheningan tiap sudutnya, tersimpan kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan sejarah yang menuntut untuk selalu dikenang. Ia bukan han
