




Setelah sukses menyita perhatian publik dengan menghidupkan ruang seni pertunjukan lewat acara HATEDU 2025 di Kota Cimahi, MASTECI (Masyarakat Teater Cimahi) mengundang antusias masyarakat untuk bergabung dalam dunia teater, terutama saat mereka menampilkan Teater dari teman tuli yang berjudul “Dibalik Sunyi”.
Siapa bilang teater hanya soal suara? Justru dalam diam, bisa lahir getaran ekspresi yang paling dalam, seperti halnya pantomim. ‘Teman-teman tuli memiliki potensi luar biasa dalam kekuatan ekspresi tubuh mereka, bahkan teman dengar aja kalah semangat dari mereka saat latihan.’ ungkap Ricky Angga Maulana, pendiri MASTECI.
MASTECI lahir dari keresahan akan minimnya ruang bagi seniman teater di Cimahi untuk menampilkan karya mereka kepada khalayak luas. Padahal, seni teater sebenarnya hidup dan tumbuh di sekolah-sekolah, universitas, bahkan di tengah masyarakat. Melihat potensi itu, MASTECI hadir sebagai wadah yang membuka ruang lebih luas agar para seniman teater bisa dikenal dan diapresiasi secara lebih menyeluruh.
Terinspirasi dari teater tuli di Jakarta, MASTECI mulai menjembatani dunia seni dengan komunitas tuli sejak tahun 2024 melalui media panggung teater, namun puncaknya pada acara Hari Teater Dunia (HATEDU) yang diadakan di gedung sangkuriang Cimahi pada tanggal 19 april 2025.
“Teater adalah ruang ekspresi yang tidak terbatas oleh suara. Teman-teman tuli memiliki kekuatan luar biasa dalam mengkomunikasikan emosi melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Itulah mengapa kami percaya bahwa teater bisa menjadi media yang kuat untuk menyuarakan mereka yang hidup dalam sunyi,” ujar Ricky, pendiri MASTECI.
Pertunjukan Dibalik Sunyi oleh teman tuli pada acara HATEDU 2025 Kota Cimahi menjadi tonggak penting dalam acara yang digelar MASTECI. Naskah pertunjukan ini dirangkai dari catatan harian teman-teman tuli yang mengangkat kisah nyata tentang diskriminasi, keterbatasan akses informasi, hingga pengalaman dibully. Catatan-catatan ini kemudian diolah menjadi naskah teater, lalu dipentaskan oleh para aktor tuli itu sendiri.
Latihan dilakukan hampir setiap malam. Menurut Ricky, menyatukan dunia teman tuli dan teman dengar memang tidak mudah, terdapat miskomunikasi dan konflik itu wajar saja, namun dengan seringnya bertemu dan berlatih bersama membuat hubungan kami semakin dekat dan lebih memahami satu sama lain.
Penonton memberikan respons luar biasa terhadap pementasan saat HATEDU 2025. Banyak yang mengaku terharu dan terinspirasi, bahkan beberapa komunitas di Cimahi banyak yang menyatakan minat untuk bergabung dengan MASTECI.
Sistem perekrutan juga inklusif, sebelumnya MASTECI bekerja sama dengan komunitas teman tuli yaitu GERKATIN. Tidak ada audisi kaku, yang ada hanyalah semangat kolaborasi dan belajar bersama.
Pementasan ini juga menjadi bagian dari misi MASTECI dalam memperluas akses seni untuk semua kalangan, tanpa memandang latar belakang atau kemampuan fisik. “Kami ingin menunjukkan bahwa teater bisa menyentuh siapa saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja,” tambah Ricky.
Rencananya, pada September 2025 mendatang, MASTECI akan kembali menggelar pertunjukan dengan tema teater rakyat yang akan melibatkan siswa-siswa dari berbagai sekolah. Pementasan ini akan mengangkat cerita-cerita lokal dengan pendekatan yang lebih natural dengan alat musik tradisional.
