Melawan Lupa di Pasar Buku Kwitang

Suara lalu lintas Jakarta tak sepenuhnya mampu menenggelamkan senyap lorong-lorong Pasar Buku Kwitang yang bertempat di Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat. Kawasan ini pernah dikenal luas sebagai pusat buku di Jakarta sejak pertengahan abad ke-20, ketika toko-toko buku dan lapak bacaan mulai tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan literasi pascakemerdekaan. Antara deretan kios yang mulai renta, Edward Sitompul (55) berdiri di balik etalase sederhana. Tangannya perlahan mengelap debu dari sampul-sampul buku yang telah menua bersamanya. Sejak 1993, ia menyaksikan denyut pasar ini.
“Dulu, suara tawar-menawar dan obrolan tentang buku sering terjadi di tempat ini,” ujarnya sembari menata ulang tumpukan buku yang kini lebih sering menunggu daripada disentuh pengunjung.
Jejak pasar buku Kwitang berawal dari berkembangnya aktivitas jual beli buku di kawasan Senen dan Kwitang sejak dekade 1950-an. Kehadiran toko buku besar seperti Gunung Agung pada masa itu turut menguatkan citra Kwitang sebagai kawasan literasi. Lapak-lapak buku bekas kemudian bermunculan, terutama pada era 1970-an, melayani mahasiswa dan pembaca yang mencari buku murah serta terbitan lama yang sulit ditemukan di toko resmi.
Edward masih mengingat jelas masa ketika Kwitang menjadi pusat gravitasi para pencinta buku. Lorong-lorong sempit dipenuhi mahasiswa, akademisi, hingga tokoh-tokoh nasional. Nama-nama seperti H.B. Jassin dan Adam Malik bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari ingatan kolektif pasar ini. “Kwitang dulu seperti destinasi wajib. Mahasiswa dari luar kota yang datang ke Jakarta, pulangnya pasti membawa buku dari sini sebagai oleh-oleh,” kenangnya.
Transaksi di Kwitang pada masa itu tidak berhenti pada jual-beli. Buku berfungsi sebagai medium pertemuan gagasan. Percakapan tentang sastra, politik, dan pemikiran kritis mengalir bebas di antara rak-rak kayu dan kardus bekas. Kehidupan pasar terjaga bukan hanya oleh buku-buku yang dijual, tetapi juga oleh ide-ide yang dipertukarkan.
Era 2000-an membawa perubahan arah. Kemajuan teknologi dan pergeseran cara membaca perlahan mengikis keramaian. Buku digital, toko daring, dan pusat perbelanjaan modern mengambil alih peran yang dulu dipegang Kwitang. Penataan kota yang dilakukan pemerintah turut memindahkan sebagian pedagang ke lokasi lain. Satu per satu kios tutup. “Banyak pedagang lama memilih pindah dan mencari peruntungan di tempat lain, seperti Blok M,” kata Edward.
Hiruk-pikuk yang dahulu akrab berganti kesunyian. Lorong-lorong yang dulu padat kini hanya sesekali dilalui pejalan kaki atau pengunjung dengan tujuan spesifik. Sebagian mencari judul tertentu, sebagian lain sekadar bernostalgia.
Ketidakpastian tidak membuat Edward dan segelintir pedagang lain menyerah. Mereka memilih bertahan. Hubungan antarpedagang melampaui sekadar tetangga kios dan berubah menjadi ikatan kekeluargaan. “Kalau satu pedagang kesusahan, kita pasti saling bantu. Mau berharap ke siapa lagi?” ujarnya.
Makna bertahan bagi mereka melampaui soal ekonomi. Upaya ini menjadi cara menjaga ingatan. Kwitang dipertahankan agar tidak sepenuhnya hilang dari peta kultural Jakarta sebagai ruang literasi rakyat.
Pelanggan Edward kini sebagian besar adalah mereka yang masih setia pada sensasi berburu buku fisik. Sebagian datang langsung, sebagian lain memesan dari jauh. “Biasanya mereka mencari buku yang sudah tidak ada di toko besar atau sekadar ingin merasakan kembali suasana Kwitang,” katanya. Kios kecil itu menjelma menjadi arsip hidup. Setiap buku menyimpan jejak waktu dan cerita pemiliknya.
Sore hari memanjangkan bayangan kios di lantai lorong. Edward duduk di bangku kecil di depan lapaknya sambil memandang pasar yang kian lengang. “Kwitang mungkin tidak lagi ramai,” ucapnya pelan. “Tapi selama masih ada yang datang, meski satu dua orang, dan selama napas ini masih ada, saya akan tetap di sini.”
Rak-rak buku yang berjejal menyimpan lebih dari sekadar kertas-kertas usang. Fragmen-fragmen zaman tersimpan rapi dan dijaga Edward lembar demi lembar agar ingatan tentang Kwitang tidak benar-benar punah.

Scroll to Top