Melestarikan Budaya Sunda Di Lembang Dari Sanggar Seni hingga Yayasan Kamandaka

Di sebuah sudut sejuk Desa Gudangkahuripan, Lembang, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di tengah derasnya arus wisata dan modernisasi, ada tempat di mana budaya Sunda tetap hidup tidak sekadar dikenang tapi dirawat, diajarkan, dan diwariskan. Tempat itu bernama Yayasan Kamandaka. Bukan lembaga besar dengan gedung megah, tapi dari ruang sederhana di kaki gunung, ia menyalakan semangat besar, menjaga denyut budaya Sunda agar tak hilang ditelan zaman.

Segalanya bermula dari tahun 1997. Seorang budayawan, K.R.H.T. Arip Moch. Yahya Kartanagara, membuka pintu rumahnya bagi sekelompok pengamen kecapi suling. Dari perjumpaan sederhana itu lahirlah Lingkung Seni Purwa Wirahma. Sebuah padepokan kecil tempat orang belajar karawitan, berdiskusi tentang filsafat Sunda, dan berbagi ilmu kasepuhan. Di sinilah nilai-nilai lokal tak hanya dilestarikan sebagai tontonan, tapi juga ditanamkan sebagai tuntunan hidup.

Bertahun-tahun sanggar ini menjadi ruang aman bagi budaya. Anak-anak muda datang belajar gamelan, tari jaipong, membaca naskah-naskah kuno, hingga memahami makna sesajen dan kalender Saka Sunda. Namun, zaman terus berubah. Untuk menguatkan eksistensinya, tahun 2009 didirikanlah Yayasan Kamandaka (Kamanusaan Dasar Kaula). Sebuah badan hukum yang bertujuan menjadikan kemanusiaan sebagai dasar seluruh aktivitas budaya dan pendidikan.

Yayasan Kamandaka bukan hanya pelindung seni, tapi juga penjaga nilai. Di bawahnya lahir berbagai unit kegiatan seperti Purwa Wirahma untuk karawitan, Banjar Kastawa untuk seni tari, Banjar Panemon sebagai ruang spiritual dan filsafat, serta Taman Baca Kamandaka untuk pendidikan dan literasi anak-anak.

Di taman bacanya, anak-anak belajar bahasa Inggris, menggambar, hingga membaca aksara Sunda. Mereka diajak berpikir, bertanya, dan mencintai budaya bukan karena warisan masa lalu, tapi sebagai bekal menghadapi masa depan yang harapannya “jika nanti pentas di Luar (Negeri Lain) mereka dapat menyampaikan dengan Bahasa Inggris” Ujar Pa Mei Wisana. Semua itu dilakukan dalam semangat gotong royong dengan tekad dan kecintaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tak hanya di ruang sanggar, aktivitas Kamandaka merambah ke ruang publik. Setiap tahun, masyarakat Gudangkahuripan berkumpul dalam Hajat Lembur, sebuah ritual syukur atas kehidupan, panen, dan harmoni desa. Di sana ada ruwatan, nyuguh, ngumbah pusaka, hingga pembacaan doa bersama. Tapi semua itu bukan mistik, bukan klenik. “Ini spiritualitas logis,” ujar Mei Wisana, Ketua Harian Yayasan Kamandaka. “Kami ajarkan bahwa ruwatan bukan tahayul, tapi cara kita berterima kasih (wujud bersyukur) pada alam dan Sang Pencipta.”

Ritual itu diselenggarakan secara terbuka. Makanan dibawa warga dari setiap RW, doa diucap bersama, air diberkahi sebagai simbol kesatuan. Di sinilah anak-anak terlibat mereka mementaskan tarian, kaulinan dan karawitan yang sudah dilatih sebelumnya. Tidak ada jarak antara yang tua dan muda. Tidak ada sekat antara tradisi dan modernitas.

Yayasan ini tidak anti teknologi. Mereka memiliki kanal YouTube, menerbitkan majalah Balebat, membuat buku Jampe Hirup, bahkan memproduksi kaos budaya dengan filosofi dalam setiap desainnya. Semua untuk menyampaikan satu pesan budaya bisa diajarkan dengan cara yang relevan.

Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan datang dari kurangnya partisipasi warga sekitar, gengsi generasi muda, dan keterbatasan dana. Meski begitu, Kamandaka tak menyerah. Mereka percaya bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan, tapi ditumbuhkan.

Konsistensi mereka membuahkan hasil. Kamandaka kini menjadi rujukan studi banding dari berbagai daerah. DPRD Konawe Selatan pernah datang, belajar bagaimana desa wisata bisa hidup berdampingan dengan budaya lokal. Gudangkahuripan kini bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tapi karena denyut budaya yang tetap hidup dalam keseharian warganya.

Tak jarang orang dari luar Bandung datang belajar ada yang berasal dari Garut, Buah Batu, Ciwidey hingga Cicalengka. Kamandaka melatih satu orang dikenal dengan metode “latih satu, sebar nilai” yang kemudian menyebarkan ajaran budaya ke kampung halamannya. Dengan cara ini, nilai-nilai Sunda menyebar.

Yayasan Kamandaka adalah bukti bahwa budaya bisa bertahan tanpa harus melawan zaman. Ia tidak menolak teknologi, tidak membenci globalisasi, tapi memilih untuk berdialog. Menyisipkan nilai-nilai lokal ke dalam cara berpikir modern. Menjadi akar di tengah badai perubahan.

Hari ini, di bale garuda, suara suling masih terdengar. Anak-anak masih menari. Di meja belajar taman baca, aksara Sunda masih dituliskan. Semua itu bukan sekadar pelestarian, tapi pernyataan. Bahwa selama Kamandaka masih berdiri, budaya Sunda tidak akan pernah benar-benar mati.

Scroll to Top