
Cihideung, Tasikmalaya – Di balik kelopak warna-warni dan lukisan bunga yang anggun, tersimpan jejak sejarah panjang tentang ketekunan, keindahan, dan jati diri suatu daerah. Payung Geulis, kerajinan khas Tasikmalaya, bukan sekadar alat pelindung dari hujan atau panas—ia adalah simbol budaya yang tumbuh dan bertahan dari generasi ke generasi.
Berakar dari akhir abad ke-19, Payung Geulis pertama kali dibuat oleh perajin lokal sebagai bagian dari aktivitas kerajinan rumahan. Seiring waktu, motif-motif bunga yang dilukis dengan tangan pada permukaan kain menjadi ciri khas yang membedakan payung ini dari produk serupa di daerah lain. Keindahan yang ditawarkan bukan hanya tampak dari bentuk visualnya, tetapi juga dari filosofi yang menyertainya: kesabaran, ketelitian, dan ketekunan para perajinnya, yang mayoritas adalah perempuan.
Dalam narasi sejarah lokal, Payung Geulis mengalami masa keemasan pada era 1950–an hingga 1970–an, ketika permintaan terhadap kerajinan ini melonjak, baik dari pasar domestik maupun luar negeri. Namun memasuki era industri modern, eksistensinya sempat meredup. Perubahan zaman dan selera pasar membuat para pengrajin menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Meski begitu, Payung Geulis tak pernah benar-benar hilang. Upaya pelestarian oleh komunitas budaya, pemerintah daerah, dan generasi muda kini menjadi angin segar bagi keberlanjutannya. Melalui berbagai festival, pelatihan, hingga digitalisasi promosi, payung ini kembali menemukan tempatnya—bukan hanya sebagai benda kerajinan, tetapi sebagai simbol identitas budaya masyarakat Tasikmalaya.
Untuk menggali lebih dalam makna dan tantangan dalam membuat Payung Geulis, kami mewawancarai Ibu Tati (52), salah satu pengrajin yang telah menekuni kerajinan ini selama lebih dari 30 tahun.
“Payung geulis itu bukan hanya barang jualan buat kami. Di sini ada jiwa, ada cerita keluarga, bahkan ada doa,” ujar Ibu Tati sambil menunjukkan proses melukis motif bunga mawar di atas permukaan payung dari kain katun.
Ia menceritakan bagaimana dirinya belajar dari ibunya sejak remaja. “Dulu, setiap malam kami belajar melukis sambil diceritakan sejarahnya. Bagaimana zaman dulu payung ini jadi simbol perempuan Sunda yang halus dan kuat. Sekarang, saya ngajarin ke anak saya juga. Biar nggak punah,” lanjutnya.
Ketika ditanya tentang tantangan saat ini, Ibu Tati menjawab dengan nada haru, “Sekarang orang lebih suka barang instan dan murah. Tapi alhamdulillah, makin ke sini, sudah mulai banyak yang sadar, terutama anak muda. Apalagi kalau ada event budaya atau pesanan buat souvenir pernikahan.”
Bagi Ibu Tati dan para perajin lainnya, mempertahankan Payung Geulis bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga menjaga identitas.
