Membongkar Mitos “The Power Of Kepepet”: Mengapa Kualitas Tugasmu Layak Mendapat Waktu Lebih

Jujur saja, siapa di antara kita yang belum pernah begadang semalaman, mata sudah perih menatap layar, cuma demi mengejar tombol submit yang tinggal hitungan menit? Fenomena ini seolah sudah jadi “budaya” wajib di kampus. Banyak dari kita yang bangga dengan jargon The Power of Kepepet, sambil bilang, “Gue tuh nggak bisa mikir kalau nggak mepet deadline, idenya nggak keluar!”  Tapi, mari kita coba jujur pada diri sendiri: apakah itu benar-benar ide cemerlang yang keluar, atau cuma rasa panik yang memaksa otak kita bekerja apa adanya?

Saya pribadi sangat tidak setuju kalau kebiasaan mepet deadline ini terus-menerus dijadikan pembenaran. Masalahnya simpel: tugas yang dikerjakan sambil dikejar setan eh, maksud saya dikejar waktu hasilnya nggak akan pernah maksimal. Kita cuma fokus pada “yang penting selesai dan kumpul,” tanpa peduli lagi apakah isinya sudah benar-benar bagus atau cuma sekadar ada. Padahal, kalau kita mau mencicilnya lebih awal, kita punya waktu untuk riset lebih dalam dan memoles tulisan jadi lebih keren. Sudah saatnya kita berhenti merasa keren karena bisa mengerjakan tugas dalam semalam, karena sebenarnya, kita sedang mengorbankan kualitas demi rasa malas yang dibungkus dengan nama “adrenalin.”

Banyak yang beralasan kalau mepet deadline itu bikin kita jadi super fokus. Padahal, yang terjadi sebenarnya bukan fokus, tapi otak kita lagi dalam mode survival. Karena takut nggak lulus atau kena omel dosen, adrenalin kita naik drastis. Masalahnya, fokus karena panik itu beda banget sama fokus karena kita memang paham materinya.

Kalau kita ngerjain tugas mepet banget, biasanya kita bakal melewatkan hal-hal kecil tapi penting. Misalnya, kita jadi malas ngecek ulang apakah referensi yang dipakai sudah benar, atau apakah paragraf satu dengan lainnya sudah nyambung. Akhirnya? Tulisan kita jadi berantakan, banyak typo, dan argumennya jadi dangkal. Kita nggak punya waktu lagi buat memikirkan ide yang lebih kreatif karena otak sudah dipaksa “yang penting halaman penuh.”

Beda ceritanya kalau kita mulai lebih awal. Dengan waktu yang lebih panjang, otak kita punya ruang buat “istirahat” sebentar. Sering nggak sih, pas lagi mandi atau lagi makan, tiba-tiba muncul ide bagus buat tugas kita? Nah, momen-momen “Aha!” kayak gitu cuma bisa kita dapat kalau kita nggak lagi dikejar-kejar waktu. Kita bisa baca ulang tulisan kita besok paginya dengan pikiran yang lebih segar, terus memperbaiki bagian yang dirasa kurang pas. Hasilnya pasti bakal jauh lebih berbobot dan kita sendiri puas waktu mengumpulkannya, bukan cuma sekadar lega karena sudah lewat deadline.

Terus, gimana caranya biar bisa lepas dari kebiasaan ini? Kuncinya bukan nunggu motivasi datang, tapi dipaksa. Coba bagi tugas yang kelihatannya berat jadi bagian-bagian kecil. Misalnya, hari ini targetnya cuma cari tiga jurnal aja, besok bikin kerangkanya, lusa baru mulai nulis satu paragraf.

Selain itu, cobalah buat “deadline palsu”. Kalau tugas harus dikumpul hari Jumat, set di kalender kamu kalau tugas itu harus beres di hari Rabu. Dengan begitu, kamu masih punya sisa waktu buat santai atau ngecek ulang tugasmu tanpa perlu deg-degan jantung mau copot karena waktu tinggal lima menit lagi.

Terus, gimana caranya biar bisa lepas dari lingkaran setan ini? Kuncinya bukan nunggu “wahyu” atau motivasi datang, karena biasanya motivasi itu baru muncul kalau sudah panik. Kita perlu strategi yang sedikit lebih cerdik:

  1. Pecah Tugas Jadi “Cemilan”: Jangan lihat tugas sebagai satu raksasa yang menakutkan. Kalau kamu harus bikin makalah 10 halaman, jangan bayangkan 10 halamannya. Pecah jadi bagian kecil yang bisa selesai dalam 15-30 menit. Misalnya, hari ini targetnya cuma cari tiga jurnal referensi, besok bikin kerangkanya, lusa baru mulai nulis satu paragraf. Dengan begini, otak kita nggak bakal “kenyang” duluan sebelum mulai.
  2. Trik “5 Menit Saja”: Masalah terbesar kita biasanya ada di start. Coba paksa diri sendiri buat ngerjain tugas cuma selama 5 menit. Bilang ke diri sendiri, “Oke, gue kerjain 5 menit aja, kalau bosen gue berhenti.” Biasanya, kalau sudah lewat 5 menit pertama, kita bakal keterusan karena “mesin” otaknya sudah panas.
  3. Pasang “Deadline Palsu”: Kalau dosen bilang tugas dikumpul hari Jumat, tulis di kalender atau pengingat HP kamu kalau deadline-nya hari Rabu. Anggap saja Kamis dan Jumat itu hari libur atau waktu buat revisi santai. Perasaan “aman” karena tugas sudah beres dua hari sebelum hari-H itu jauh lebih enak daripada adrenalin pas lagi mepet.
  4. Cari “teman Senasib” yang ambis: Lingkungan itu pengaruh banget. Kalau circle kamu tipenya santai banget sampai mepet, kamu bakal ikutan. Coba sesekali nongkrong bareng teman yang kalau dapat tugas langsung dicicil. Aura “ambis” mereka biasanya nular dan bikin kita merasa berdosa kalau cuma main HP doang.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita masing-masing. Mau tetap jadi pemuja The Power of Kepepet yang hidupnya penuh drama tiap malam deadline, atau mau mulai jadi mahasiswa yang lebih tenang dan terorganisir? Memang benar, mengerjakan tugas jauh-jauh hari itu butuh usaha ekstra untuk melawan rasa malas di awal. Tapi percayalah, perasaan tenang saat kita bisa tidur nyenyak di malam sebelum pengumpulan itu jauh lebih nikmat daripada kafein dan rasa cemas yang berlebihan.

Menghargai waktu bukan cuma soal disiplin, tapi soal menghargai kualitas diri sendiri. Tugas yang kita kerjakan adalah cerminan dari seberapa serius kita belajar. Jadi, yuk pelan-pelan ubah pola pikirnya. Tugas yang bagus itu lahir dari proses yang dinikmati, bukan dari rasa panik yang dipaksakan. Jangan biarkan potensi terbaikmu tertutup cuma gara-gara kamu hobi menunda-nunda.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!