Menelusuri Jejak Karya Seni di Museum Barli, Bandung

Di tengah hiruk-pikuk kota Bandung yang kian padat, berdiri sebuah bangunan bergaya modern minimalis dengan atmosfer tenang dan artistik. Itulah Museum Barli, sebuah ruang seni yang bukan hanya menyimpan lukisan, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan seni rupa Indonesia. Terletak di Jalan Prof. Ir. Sutami No.91, Bandung. Museum ini didedikasikan untuk mengenang dan menyimpan karya Barli Sasmitawinata, salah satu maestro seni lukis Indonesia.

Lebih dari Sekadar Galeri

Barli Sasmitawinata, seorang pelukis asal Bandung yang lahir pada 18 Maret 1921. Barli merupakan anak bungsu dari Raden Harun Al Rasyid, seorang pedagang keturunan bangsawan. Museum Barli ini didirikan pada tahun 1992, dengan tujuan awal untuk menyimpan karya-karya Barli Sasmitawinata. Berbagai karya dari sang maestro sejak awal kariernya, lengkap dengan dokumentasi proses kreatif yang mengiringinya. Namun seiring berjalannya waktu sepeninggal Barli pada 8 Februari 2007, Museum Barli kemudian dikelola oleh cucu sang maestro. Kini, Museum Barli bukan hanya menampilkan karya Barli semata, tetapi juga menjadi tempat Pendidikan seni rupa, memfasilitasi seniman lainnya untuk berkarya dan berpameran.

“Program ini sebagai lanjutan dari sanggar rangga gempol yang didirikan pak barli tahun 1956. Dimana sanggar rangga gempol ini satu satunya sanggar yang pertama dibuat di kota bandung sebagai pendidikan luar sekolah, dalam rangka untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin menjadi seniman rupa tetapi mereka tidak bisa masuk institusi seni rupa.” Ungkap Adit Barli, cucu sang maestro.

Salah satu sudut paling menarik di museum ini adalah ruang khusus yang memamerkan sketsa dan lukisan yang merekam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia pascakemerdekaan. Tidak seperti Museum pada umumnya, disetiap karya Barli tidak terdapat keterangan untuk menggambarkan suatu lukisan. Ini menjadi salah satu faktor keunikan Museum Barli.

Selain memajang lukisan realis dan ekspresif, museum rutin menyelenggarakan kelas lukis, lokakarya seni, dan bahkan pameran komunitas tidak terbatas usia. Kegiatan ini menjadi cara efektif memperkenalkan seni rupa, sekaligus menjaga keberlanjutan semangat berkesenian di tengah generasi muda. Tak jarang sekolah-sekolah datang berkunjung untuk mengenalkan dunia seni pada anak-anak sejak dini. Museum Barli ini tidak hanya memajang koleksi pribadi sang maestro, tetapi juga terdapat karya anak bangsa seperti mural, komik, dan koleksi lainnya. Museum ini memiliki tiga lantai utama:

  • Lantai I: Disambut dengan cafe arsistik dan ruang diskusi. Sebelum menjadi cafe seperti sekarang, lantai dasar ini merupakan ruang komunitas serta ruang pertunjukan seni seperti kolaborasi antara seni rupa dengan seni musik.
  • Lantai II: Menampilkan koridor berbentuk U yang dipenuhi barang vintage seperti komik, mural, hingga Gameboy. Juga terdapat ruang belajar melukis untuk anak-anak dan remaja.
  • Lantai III: Galeri privat berisi karya-karya Barli Sasmitawinata.

Kenapa Layak Dikunjungi?

Mengunjungi Museum Barli adalah pengalaman yang lebih dari sekadar melihat lukisan. Ini adalah perjalanan menyusuri jejak-jejak dedikasi, kebebasan berekspresi, dan cinta pada tanah air melalui seni. Di tengah arus budaya populer yang cepat dan instan, tempat ini mengingatkan kita pada nilai keheningan, perenungan, dan proses unsur yang menjadi ruh dari setiap karya besar. Museum Barli, dengan segala kesederhanaan dan kekayaan yang dimilikinya, adalah oasis seni di jantung Bandung. Ia tak hanya menyimpan sejarah, tetapi terus menghidupkan semangat untuk berkarya, berpikir kritis, dan mencintai budaya.

“Katamata barli mengenai seni bahwa seni itu tidak terkotak-kotakan seperti seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya. Tapi seni itu bagaimana cara kita untuk menyampaikan sesuatu. Misi Museum Barli saat ini yaitu bagaimana kita membangun suatu pemahaman tentang penting nya seni bagi kehidupan.” ungkap Adit Barli.

Barangkali itulah warisan terbesar dari Barli Sasmitawinata. Ia tidak hanya melukis di atas kanvas, tetapi juga melukis kesadaran tentang pentingnya seni dalam kehidupan.

(Barli Sasmitawinata dan Atikah Barli)

Scroll to Top