
CICALENGKA — Di sudut kampung yang tenang di Cicalengka, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah saung sederhana yang menjadi saksi hidup perjalanan seni tradisional Jawa Barat. Saung itu milik Abah Yana, seorang pengrajin wayang golek yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk mengukir kayu menjadi tokoh-tokoh pewayangan yang memesona.
Siapa pun yang datang disambut dengan ramah. Di dalam saung, aroma kayu segar berpadu dengan warna-warni cat yang mencolok. Di sana, tokoh-tokoh seperti Cepot, Arjuna, Bima, hingga Batara Kresna tampak seolah menunggu untuk dilahirkan seutuhnya dari tangan terampil sang empunya.
Kecintaan Abah Yana pada wayang golek dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hobinya menggambar tokoh pewayangan perlahan berubah menjadi seni ukir setelah sang kakak menyarankan ia mencoba membuat sendiri. Sejak SMP, tangan Abah sudah piawai membentuk wajah dan tubuh wayang dari kayu, dan hasil karyanya bahkan mulai dijual di toko-toko setempat. Namun, perjalanan seninya sempat terhenti. Setelah menikah, ia beralih profesi menjadi guru olahraga dan meninggalkan dunia ukir selama hampir 20 tahun.
Tak disangka, pandemi Covid-19 justru menjadi momentum kembalinya Abah ke dunia yang dulu membesarkan jiwanya. Ia kembali ke saung kecilnya, memulai lagi dari awal, dan memanfaatkan media sosial untuk berbagi proses kreatif. Lewat kanal YouTube yang ia kelola sendiri, karya-karyanya kembali dikenal, bahkan oleh khalayak internasional.
“Saya bersyukur bisa kembali,” ujarnya ketika ditemui pada 18 Juni 2025. “Sekarang, selain membuat, saya juga senang berbagi.”
Hampir semua karakter pewayangan ia kuasai. Bahkan pesanan khusus dari luar daerah yang memuat puluhan tokoh tak membuatnya gentar. Salah satunya berasal dari Jawa Tengah: 23 karakter dalam satu rangkaian.
“InsyaAllah, semua bisa saya kerjakan. Bahkan yang belum umum pun,” kata Abah sambil menunjukkan deretan wayang setengah jadi yang tertata rapi di rak kayu saungnya.
Proses pembuatannya tidak instan. Satu wayang bisa memakan waktu hingga tiga minggu. Kayu seperti albasiah, sengon, lame, muncang, dan kapuk randu diukir sepenuhnya dengan tangan, lalu dihaluskan dan dicat. Abah memilih cat mobil agar lebih cepat kering, namun tetap tahan lama. Meski begitu, sentuhan tangan tetap jadi nilai utama.
“Pernah coba pakai cetakan resin buat oleh-oleh, tapi rasanya beda. Kalau dicetak, nggak ada ruh-nya,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Karyanya kini telah tersebar ke berbagai daerah dari Karawang, Sukabumi, hingga Kalimantan dan bahkan menembus pasar internasional seperti Jepang, Jerman, Arab Saudi, hingga London. Pembelinya pun beragam: dalang, kolektor, hingga pecinta seni lintas negara.
Harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung ukuran dan kerumitan. Wayang kecil dibanderol sekitar Rp250.000, Cepot seharga Rp500.000, dan wayang besar untuk pentas bisa mencapai Rp10 juta.
“Yang kecil pun nggak asal-asalan. Semua kualitasnya harus sama,” tegasnya.
Tak hanya berkarya, Abah juga membuka saungnya bagi siapa saja yang ingin belajar. Anak-anak di kampung kerap mampir saat akhir pekan, dan ia dengan senang hati membimbing mereka mengenal dunia wayang.
“Wayang jangan sampai padam. Silakan datang kalau mau belajar,” pesannya.
Menariknya, di balik semua dedikasi itu, Abah Yana justru mengaku tidak terlalu gemar menonton pertunjukan wayang. “Saya lebih suka proses pembuatannya,” ujarnya ringan. Di tangannya, kayu bukan sekadar bahan mentah melainkan jembatan menuju pelestarian budaya yang hampir terlupakan.
