
Di balik hijaunya perbukitan Bandung Selatan, tepatnya di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, berdiri sebuah kampung yang masih setia menjaga napas leluhurnya: Kampung Adat Cikondang. Dalam diamnya alam, tradisi hidup dengan kuat di setiap langkah kaki warganya. Di sinilah adat tidak sekadar dikenang, tetapi dijalani — dari cara berpakaian, berbicara, hingga bagaimana mereka membangun rumah dan menggelar ritual.Napas Adat di Setiap SudutBerjalan di antara rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan bambu, tampak suasana yang seolah terhenti oleh waktu. Rumah-rumah adat Cikondang berdiri sederhana namun sarat makna, mengikuti pakem yang diwariskan turun-temurun. Atapnya meruncing, tanpa ornamen modern, mencerminkan filosofi kesederhanaan dan penghormatan terhadap alam.Tidak jauh dari sana, terlihat beberapa warga sedang bersiap untuk menggelar upacara adat. “Kami hidup bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk menjaga apa yang diwariskan oleh karuhun (leluhur),” ucap Pak Anom Johana, salah satu tokoh masyarakat, dengan sorot mata yang tenang.Juru Kunci: Penjaga Tradisi yang Tak TergantiDi pusat kampung, terdapat rumah adat utama, tempat sakral yang tidak boleh dibangun atau diubah. Rumah ini dijaga oleh juru kunci, yang bukan hanya sebagai penjaga bangunan fisik, tapi juga penjaga nilai-nilai spiritual kampung.Bah Anom Johana, juru kunci Cikondang, menjelaskan bahwa perannya bukan sekadar simbol adat. Ia memimpin ritual-ritual penting seperti mapag sri (menyambut panen) dan hajat bumi, dua perayaan penting sebagai ungkapan syukur terhadap alam. “Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami punya cara sendiri agar tidak tercerabut dari akar,” ujar beliau dengan penuh keyakinan.Anak Muda dan Adat: Merangkai Masa DepanYang menarik, di tengah arus globalisasi, generasi muda Cikondang mulai menemukan caranya sendiri untuk mencintai warisan ini. Sebagian dari mereka aktif mendokumentasikan tradisi melalui media sosial, merekam upacara, dan mengunggahnya sebagai bentuk edukasi dan pelestarian.Tantangan di Tengah PerubahanNamun, menjaga adat bukanlah tanpa tantangan. Perubahan zaman, kebutuhan ekonomi, serta tekanan modernisasi menjadi ancaman nyata. Beberapa lahan adat bahkan mulai tergeser oleh kepentingan industri dan wisata. Meskipun demikian, warga Cikondang berupaya mempertahankan batas adat dengan bijak dan damai.“Kami sadar dunia berubah, tapi kami tidak ingin kehilangan siapa diri kami,” ujar Abah Anom Johana.




