
Di tengah deru mesin kendaraan dan gemerlap kedai kopi kekinian yang menjamur di setiap sudut Kota Bandung, ada sebuah irama yang tak pernah berubah. Suara khas alunan sinden sunda yang menjadi ciri khasnya dan roda kayu yang berderit perlahan masih terdengar menyusuri jalanan di kawasan Cipadung dan Masjid Al-Jabbar, Bandung. Di balik gerobak sederhana yang mengepulkan aroma hangat bajigur dan bandrek itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan cinta seorang ayah yang tak pernah lelah mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan.
“Semakin sepi neng ayeunamah nu maleserteh, kamarana nya?”
Kalimat itu terlontar lirih dari bibir Ade Engkos Saripudin, seorang pedagang bajigur keliling yang telah menekuni pekerjaannya sejak tahun 1991. Kerutan di wajahnya menjadi saksi perjalanan panjang puluhan tahun mencari nafkah. Meski usianya tak lagi muda, namun semangatnya masih tetap terus menyala seperti bara yang menghangatkan bajigur dalam gerobaknya.
Setiap hari, ketika sebagian orang berlindung dari hujan atau memilih beristirahat di rumah, seorang lelaki berusia 70 tahun itu tetap mendorong gerobaknya menyusuri jalanan. Panas yang menyengat, hujan yang mengguyur, bahkan sakit yang menggerogoti tubuhnya tak pernah benar-benar menghentikan langkahnya. Ia datang tepat ketika langit senja mulai menua, membawa serta asap putih yang mengepul dari panci aluminium, harum gula merah, jahe, dan santan yang langsung menusuk ke hidung. Baginya, setiap gelas bajigur yang terjual adalah harapan yang sedang diseduh untuk masa depan anak-anaknya.
Sapaan yang kerap kali dikenal dengan sebutan Abah Bajigur ini, memulai aktivitasnya sejak dini hari. Sekitar pukul tiga atau empat pagi, ia berangkat ke pasar membeli bahan-bahan dagangan. Setelah itu, sejak pukul enam pagi, ia mulai menyiapkan berbagai makanan dan minuman yang akan dijualnya. Hingga menjelang pukul setengah dua siang, perjalanan panjangnya barulah ia mulai.
Dari kawasan Masjid Al-Jabbar, ia mendorong gerobak menuju Anyelir, Jalan Panyileukan, Kompleks Taman Cipadung Indah, hingga berbagai sudut permukiman lainnya. Menjelang isya, ia kembali ke sekitar Masjid Al-Jabbar dengan tetap berjualan sampai dagangannya habis meskipun sampai larut malam. Pekerjaan ini telah dijalaninya selama bertahun-tahun.
Bertahun-tahun pula roda kayu gerobaknya menjadi saksi bahwa pendidikan anak-anaknya dibangun dari langkah panjang seorang ayah yang tak pernah menyerah. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan hidup Abah Bajigur. Sebab di balik gerobak sederhana itu, tersimpan tanggung jawab besar yang setiap hari harus ia pikul.
Abah Bajigur adalah seorang ayah dari lima orang anak laki-laki. Tiga anak pertamanya sudah berumah tangga dan mandiri. Dari lima anak yang dibesarkannya, satu masih duduk di bangku SMP yaitu yang bungsu. Sementara anak keempat sedang berjuang menyelesaikan kuliah semester akhir jurusan administrasi di Universitas Nurtanio (Unnur) Bandung yaitu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kota Bandung yang berfokus pada bidang kedirgantaraan di bawah naungan yayasan Adi Upaya (Yasau) TNI AU. Bagi Abah, melihat anaknya mengenakan jas almamater adalah kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan ketika pertama kali mendorong gerobak bajigur puluhan tahun silam.
Bagi sebagian orang, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi mungkin merupakan hal biasa. Namun, bagi seorang pedagang bajigur keliling yang hidup di rumah kontrakan sederhana, hal itu adalah perjuangan yang sangat luar biasa. Sang istri setiap hari membantu menyiapkan dagangan sambil berjualan gorengan dan cilok yang dititipkan ke warung-warung sekitar tempat tinggal mereka. Keduanya saling menguatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dua dinten teu damel neng, cuaca hujan ageng wae ditambih teu raraos badan teh jaba batuk sareng muriang,” ujarnya.
Dua hari tidak berjualan karena hujan dan kondisi tubuh yang kurang sehat membuat penghasilannya terhambat. Namun kebutuhan keluarga terus bertambah tiada surutnya.
“Saur murangkalihteh enging waka icalan atuh pak cenah.”
Namun Abah tetap memilih berjualan. Bukan karena keras kepala, melainkan karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
“Da kumaha, peryogi kanggo murangkalih nu kuliah, kanggo persiapan skripsi sareng wisudana.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam saat Abah mengutarakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Ketika sebagian orang mulai menikmati masa istirahat, Abah justru masih mengumpulkan rupiah demi rupiah agar anaknya dapat menyelesaikan pendidikannya. Panas yang menyengat maupun hujan deras yang mengguyur jalanan tidak pernah benar-benar menghentikan langkah Abah Bajigur. Setiap hari, ia tetap mendorong gerobak bajigurnya menyusuri rute yang sama, menembus gang-gang perumahan dan jalan-jalan yang telah akrab dengan kehadirannya.
Ketepatan waktu untuk berjualan membuat banyak pelanggan hafal kapan dan di mana mereka dapat menjumpainya. Tak sedikit yang sengaja menunggu kedatangannya untuk menikmati segelas bajigur hangat atau sekadar menyapa lelaki renta yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Kilometer demi kilometer ditempuh oleh kaki dan lutut yang tak lagi muda, namun semangatnya tetap kokoh.
Bagi Abah, setiap langkah yang diayunkan bukan sekadar perjalanan mencari nafkah, melainkan ikhtiar untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang lebih baik.
“Asalkan badan sehat, cuaca hujan ge kan tiasa nganggo payung, jadi abah mah tetep icalan,” ujarnya sambil tersenyum.
Kalimat sederhana itu menggambarkan keteguhan prinsip hidupnya. Selama tubuh masih mampu bergerak dan tenaga masih tersisa, ia memilih untuk terus berusaha. Hujan baginya bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Sebab di balik setiap gelas bajigur yang terjual, tersimpan harapan dan doa yang terus ia perjuangkan untuk keluarganya.
Dalam sehari, pendapatan kotor yang diperolehnya rata-rata mencapai satu juta rupiah termasuk modal. Namun, pendapatan itu tidak selalu stabil karena bergantung pada kondisi kesehatan Abah. Menariknya, di tengah naiknya harga berbagai kebutuhan pokok dan bahan baku, Abah tetap mempertahankan harga dagangannya agar tetap terjangkau oleh semua kalangan. Selain itu di tengah maraknya jajanan kekinian yang digemari generasi muda, dagangan Abah tetap memiliki tempat tersendiri. Tidak hanya orang tua, remaja dan anak-anak pun masih menjadi pelanggan setianya. Kesetiaan pelanggan itu pula yang membuat Abah terus bertahan menjaga kualitas dagangan.
Berbagai makanan tradisional yang dijualnya, seperti ubi rebus, singkong rebus, kacang rebus, klepon, bugis, comro dan kudapan khas sunda lainnya, dibanderol dengan harga sekitar Rp2.000 per porsi. Sementara itu, segelas bajigur atau bandrek hangat yang menjadi menu andalannya dijual seharga Rp5.000. Harga yang sederhana tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepeduliannya terhadap pelanggan setia, tetapi juga mencerminkan keteguhan hatinya untuk tetap menjaga kualitas dan kehangatan yang selama ini menjadi ciri khas dagangannya.
“Kendalana pendapatan ngirangan, tapi abah teu nganaekkeun harga dagangan.”
Ketika harga bahan baku dan plastik terus naik, ia memilih mengurangi keuntungan daripada mengurangi kualitas. Baginya, kepercayaan pelanggan adalah amanah yang harus dijaga. Bahkan, ia memiliki kebiasaan unik saat berjualan.
“Ku abahmah sok di embohan ka pelanggan mah mun maleserteh. Daripada dagangan nyesa, mending jadi bonus kanggo pelanggan.”
Sikap sederhana itu membuat banyak pelanggan merasa dekat dengannya. Mereka tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membeli kehangatan dan ketulusan.
Namun perjalanan hidup Abah tidak selalu berjalan mulus. Ada kenangan pahit yang selalu menggetarkan hati Abah dan menjadi rasa khawatir untuk istrinya tiap kali Abah berjualan keliling. Suatu hari menjelang malam, sekitar setelah Magrib, ketika Masjid Al-Jabbar masih dalam tahap pembangunan, Abah mengalami kejadian yang tidak pernah ia lupakan.
“Abah pernah ditodong ku samurai kana leher abah.”
Saat itu kondisi jalan sepi, hujan turun deras, dan tidak ada seorang pun yang melintas. Dua orang pelaku yang mengendarai sepeda motor menghentikannya dan meminta uang hasil dagangan sambil menodong samurai ke leher Abah. Situasi itu tentu sangat mengancam, terlebih mengingat usia Abah yang tidak lagi muda. Namun keberanian yang dimilikinya membuat ia tidak menyerah begitu saja.
Sebelum menjadi pedagang bajigur, Abah pernah bekerja di pelabuhan yang terkenal dengan pekerjaannya yang berat. Pengalaman itu, ditambah kemampuan bela diri yang pernah dipelajarinya, membuat ia mampu melawan kedua pelaku hingga akhirnya mereka melarikan diri.
“Manehmah nodong ka jalma gering, ka jalma teu boga. Matakan butuh duit mah buburuh meh halal.”
Bagi Abah, mencari rezeki harus dilakukan dengan cara yang baik dan halal, meskipun penuh perjuangan. Peristiwa itu terjadi menjelang acara khitanan cucu pertamanya. Setelah kejadian itu, keluarganya sering cemas, khawatir dan takut terjadi sesuatu lagi karena usia Abah yang sudah tidak muda lagi. Namun bagi Abah, rasa takut tidak boleh mengalahkan tanggung jawab. Keberanian itu lahir dari keyakinan bahwa hidup dan rezeki sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan.
Bagi Abah Bajigur, kesuksesan orang tua bukanlah tentang banyaknya harta yang dimiliki. Kesuksesan adalah ketika orang tua tetap mau berjuang, tetap mau mendoakan, dan tetap menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Ia tidak pernah memaksa anak-anaknya mengikuti jejaknya menjadi pedagang bajigur. Sebaliknya, ia berharap mereka memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.
“Fokus kuliah we ujangmah. Teu kedah mantosan abah dagang. Da abah ge kiat keneh. Abahmah hoyong putra-putra abah sukses”
Kepada anaknya yang sedang menyelesaikan kuliah dan anak bungsunya yang masih SMP, Abah selalu berpesan agar mereka bersungguh-sungguh menuntut ilmu, berlaku jujur, dan menghargai setiap pengorbanan yang telah diberikan orang tua.
“Mudah-mudahan sing jujur, sing leres sakola, ulah ngamumubah biaya.”
Bukan hanya kepada anak-anaknya, Abah juga menitipkan pesan bagi para orang tua yang sedang berjuang menyekolahkan seorang anak.
“Mudah-mudahan sing kariat, ageng milikna. Papagah ka murangkalihna sing sae. Ulah papagah ku kasar. Ku lemes we. Da zaman ayeunamah pami dikasaran bilih mental budakna benang.”
Nasihat itu lahir dari pengalaman hidup yang panjang, dari seorang ayah yang setiap hari menyeduh bajigur di atas roda kayu, menempuh kilometer demi kilometer jalanan kota, menahan lelah dan sakit, hanya agar anak-anaknya bisa terus melangkah menuju menara ilmu. Ia tidak pernah menuntut pengakuan, tidak pernah mengeluh pada nasib, hanya terus mendorong roda kayu itu, hari demi hari, hujan maupun panas, sambil menitipkan doa pada setiap harapan yang tidak pernah berhenti diseduh.
