Tasikmalaya, Jawa Barat. Di tengah derasnya arus industrialisasi dan derasnya serbuan produk modern, sebuah warisan budaya tetap berdiri tegar dan penuh pesona: Payung Geulis. Di Kampung Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, seni tradisional ini terus dijaga dan dilestarikan dengan penuh cinta oleh segelintir perajin yang masih bertahan, salah satunya adalah Sandi Mulyana selaku pemilik usaha payung geulis.
Bagi warga Tasikmalaya, Payung Geulis bukan sekadar pelindung dari panas atau hujan. Lebih dari itu, ia adalah simbol keindahan, ketekunan, dan identitas budaya lokal. Motif bunga, burung, dan ornamen alam yang digoreskan langsung dengan tangan menjadikan payung ini tak ubahnya kanvas seni yang hidup. “Menjaga kualitas produk bukan hanya tentang benda, tapi juga ada seni dan proses di dalamnya” ujar Ibu Warkiyah, salah satu pelukis Payung Geulis.
Namun, mempertahankan warisan ini bukan perkara mudah. Regenerasi menjadi tantangan utama. Banyak anak muda di Panyingkiran lebih tertarik bekerja di sektor lain daripada menjadi perajin. Tak hanya itu, masuknya produk payung modern yang lebih praktis dan murah turut memengaruhi minat pasar. Pandemi COVID-19 pun memperparah situasi. Acara-acara adat dan seni yang biasa menggunakan Payung Geulis dibatalkan, membuat omzet para perajin turun drastis, bahkan hingga 90%.
Namun, dari tekanan itu muncul kreativitas. Bersama komunitasnya, Sandi Mulyana membentuk sanggar Geulis Heritage. Di sinilah semangat pelestarian kembali dirawat melalui pelatihan keterampilan, kolaborasi dengan seniman muda, hingga promosi lewat media sosial dan e-commerce. Kini, perlahan tapi pasti, Payung Geulis mulai dikenal lagi oleh pasar lokal dan mancanegara.
“Kami tidak hanya ingin menjual payung. Kami ingin menyampaikan cerita tentang ketekunan, keindahan, dan nilai budaya yang kami pegang,” ucap Sandi Mulyana.
Menyusuri Kampung Panyingkiran hari ini, bukan hanya melihat proses pembuatan payung yang memikat mata, tapi juga menyaksikan perlawanan senyap melawan kepunahan budaya. Setiap helai Payung Geulis yang tercipta, menjadi bukti bahwa warisan tradisi tak akan pudar jika dirawat dengan cinta dan inovasi.
