Miasih ka Bumi di Gunung Nagara Padang: Saat Doa dan Warisan Leluhur Menyatu dalam Alam

Bandung, 16 Juni 2025

Oleh: Afifah Maula Rahmah

Exif_JPEG_420

Di ujung sunyi perbukitan Wangunsari, Sindangkerta, tersembunyi sebuah situs yang nyaris dilupakan waktu, namun tetap hidup dalam laku dan keyakinan masyarakat: Gunung Nagara Padang. Tempat ini bukan sekadar tumpukan batu tua yang membisu, melainkan ruang di mana doa-doa bersahut lirih dalam keteduhan alam, menyatu dengan warisan leluhur yang tak terucap oleh sejarah resmi.

Menuju lokasi ini bukan perkara mudah. Tidak ada jalan lebar, tidak ada kendaraan yang bisa mengantar sampai puncak. Hanya jalan setapak yang mengharuskan kaki melangkah sendiri, menembus rimbun pepohonan yang tumbuh tak beraturan. Udara sejuk dan sunyi memeluk sepanjang perjalanan, meninggalkan riuh kota jauh di belakang.

Sesampainya di puncak, pengunjung akan disambut oleh puluhan batu besar yang tersebar di berbagai titik. Jumlahnya tak kurang dari tiga puluh, dan uniknya, setiap batu memiliki namanya sendiri. Nama-nama itu bukan sekadar penanda, melainkan bagian dari identitas situs, seolah tiap batu menyimpan cerita, makna, dan fungsinya masing-masing dalam tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Di antara batu-batu itu, terdapat satu yang menjadi pusat perhatian—sebuah batu baru besar yang menjadi titik utama kegiatan spiritual. Di sekitarnya, papan penanda dari pemerintah dan warga sudah mulai usang. Meski tak megah, tempat ini memegang nilai sakral yang kuat bagi masyarakat. Konon, batu-batu ini sudah ada sejak sebelum masa Dewa-dewa Siliwangi, menandakan usia dan nilainya yang melampaui jejak sejarah tertulis.

Setiap tahun, terutama saat bulan Maulud, warga dari berbagai daerah datang untuk berdoa di tempat ini. Mereka memohon kekayaan, keberkahan, atau menyampaikan hajat tertentu. Beberapa bahkan memilih bermalam, menghabiskan waktu dalam keheningan atau ritual khusus. Di salah satu sudut, terdapat tempat untuk memandikan benda pusaka seperti keris—tanda bahwa ruang ini tak hanya sakral, tetapi juga dihormati secara simbolik.

Gunung Nagara Padang bukan destinasi wisata dengan tiket dan papan petunjuk modern. Ia adalah ruang hidup spiritual yang tidak dikomersialkan. Meski suasana sekitar tampak kurang terawat, dengan dedaunan yang tumbuh liar dan hawa sejuk yang terasa sedikit horor bagi sebagian orang, masyarakat tetap berdatangan. Mereka datang dengan kesadaran sendiri—miasih ka bumi, mencurahkan cinta dan harapan kepada alam yang mereka anggap sakral.

Tak ada konflik atau penolakan terhadap keberadaan situs ini. Ia dibiarkan hidup sebagaimana adanya—diam, sederhana, tapi tidak pernah sepi dari makna. Dalam kesenyapan Gunung Nagara Padang, warisan leluhur terus bernafas dalam doa-doa yang lirih, menyatu dengan bisik angin, dan langkah kaki yang setia datang meski tak dijanjikan sorotan.

Gunung Nagara Padang bukan hanya tempat. Ia adalah ruang antara dunia yang kasat mata dan yang tak terlihat; tempat di mana setiap batu bicara dengan caranya sendiri, menyimpan jejak leluhur yang tetap bertahan dalam pelukan bumi.

Scroll to Top