
Bandung, 16 Juni 2025
Oleh: Adinda Siti Syarifah
Di suatu sudut yang tenang di Kota Bandung, terdapat sebuah bangunan yang sederhana tetapi penuh arti: Museum Barli. Begitu langkah memasuki ruang dengan pintu kaca, waktu tampak berjalan lebih lambat. Campuran bau cat minyak dan debu yang tua menyatu, membawa setiap individu yang melangkah memasuki dimensi seni dari maestro Barli Sasmitawinata. Di sini, jiwa seni senantiasa berdenyut dan hidup di tengah kota.
Museum yang dibuka pada tanggal 26 Oktober 1992 ini bukan hanya sekadar lokasi untuk menampilkan karya seni. Tempat ini berfungsi sebagai ruang yang dinamis, tempat untuk belajar, serta untuk refleksi. Karya-karya seni yang dipamerkan bukan hanya sekadar hasil dari sapuan kuas, tetapi juga merupakan saksi kebisuan dari berbagai zaman yang pernah dijalani oleh Barli: dari era kolonial, masa kemerdekaan, hingga awal era modern.
“Saya ke sini bukan cuma untuk melihat lukisan, tapi untuk belajar membaca sejarah lewat warna dan bentuk,” ujar Rika Amanda (22), mahasiswi seni rupa dari UniversitasPendidikan Indonesia, sambil menatap sebuah lukisan potret karya Barli dari tahun 1940-an.
Museum ini mungkin tidak sepadat pusat keramaian, namun justru itulah daya tariknya. Lingkungan yang tenang, pencahayaan yang lembut, serta penataan karya yang rapi membuat setiap orang merasa terhubung dengan sang seniman.
“Pak Barli menginginkan museum ini menjadi tempat untuk belajar melukis, Belajar melihat, dan belajar hidup,” kata Pak Didi, salah satu pengelola yang telah berkecimpung sejak awal berdirinya museum “Beliau meyakini bahwa seni tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan”.
Selain menampilkan karya Barli, museum ini juga memberikan kesempatan bagi pameran sementara seniman muda, workshop melukis, hingga kelas seni bagi anak-anak.Dalam skala yang lebih kecil, Museum Barli telah berfungsi sebagai laboratorium budaya di tengah keramaian kota Bandung.
Tak jarang, museum ini menjadi tempat bersemayamnya nostalgia. Banyak pengunjung yang datang bukan hanya karena minat pada seni, tetapi karena kenangan masa kecil atau pengalaman belajar melukis di sana. Beberapa di antaranya adalah mantan murid Barli sendiri, yang kini menjadi guru atau pelukis profesional. Mereka datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari rumah seni yang pernah membentuk hidup mereka.
Di tengah arus digitalisasi dan komersialisasi seni, Museum Barli berdiri teguh. Ia menjadi pengingat bahwa di antara beton dan asap kendaraan, seni masih punya tempat. Tempat yang hening, namun penuh makna. Kini, di tengah perkembangan kota Bandung yang semakin padat dan dinamis, Museum Barli berdiri sebagai ruang sunyi yang justru dibutuhkan. Ia menawarkan pelarian dari kebisingan, bukan untuk melupakan kenyataan, tapi untuk merenungkannya. Di dinding-dinding museum itu, setiap lukisan seakan berbisik bahwa seni adalah napas panjang dari sebuah peradaban—dan Museum Barli adalah paru-parunya di jantung Kota Bandung.
