Di balik hijaunya perbukitan dan sawah sawah Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, berdiri sebuah tempat yang lebih dari sekadar bangunan penyimpan benda-benda kuno. Museum Galunggung, namanya yang berada di dalam Wisata Batu Alam Mahpar. Ia ibarat simpul waktu yang menjahit masa lalu dan masa kini, menyambungkan warisan leluhur dengan generasi muda yang haus identitas dan jati diri.
Didirikan pada 20 Februari 2020, museum ini bukan hanya sekadar ruang penyimpan artefak. Ia adalah manifestasi kegelisahan seorang tokoh terhadap memudarnya ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan budaya di Tasikmalaya. Adalah Irjen. Pol. Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N, tokoh kelahiran Tasikmalaya yang dengan penuh keprihatinan menyulap kegelisahannya menjadi aksi nyata.

Bangunan itu memang sederhana, namun menyimpan cerita yang tak biasa. Di dalamnya, sejarah bukan hanya dipajang ia dibisikkan lewat relief, naskah, alat-alat tradisional dan modern, hingga replika artefak kuno dan kursi Bupati Sukapura Wiradadaha II. Di sinilah jejak Kerajaan Galunggung, salah satu kerajaan kuno di Priangan Timur, berusaha ditemukan kembali setelah sekian lama terpendam oleh waktu dan lupa. “Banyak yang belum tahu bahwa Tasikmalaya punya sejarah kerajaan sendiri, dan itulah yang ingin kami perkenalkan,” ujar salah satu pengelola museum.

Di salah satu sudut Museum Galunggung, terdapat Perpustakaan Malik Al-Hikmah yang menyimpan kitab-kitab hikmah dan karya-karya keilmuan Islam klasik. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya soal artefak dan benda fisik, tetapi juga tentang warisan ilmu dan kebijaksanaan yang hidup dalam tulisan. Perpustakaan ini melengkapi museum sebagai ruang pembelajaran, menghadirkan ruh zaman lewat lembar-lembar naskah yang pernah menjadi pelita peradaban.
Museum Galunggung memang lahir dari kekhawatiran terhadap masyarakat Tasikmalaya yang kian jauh dari akar sejarahnya. Kekhawatiran itu berubah menjadi semangat untuk membangun ruang edukasi yang tak hanya berbicara lewat buku, tapi juga lewat pengalaman langsung. Di sinilah sejarah menjadi hidup bukan hanya diajarkan, tapi dirasakan.

Museum ini tak hanya menyimpan benda, tetapi juga membuka ruang dialog yang dinamis. Setiap akhir pekan, pengunjung bisa mengikuti diskusi sejarah, menyaksikan pertunjukan seni, hingga terlibat dalam kegiatan pembersihan pusaka sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya. Perlahan namun pasti, museum ini menjelma menjadi ruang hidup bukan sekadar tempat sunyi yang dikunjungi sekali saat ada tugas sekolah, melainkan ruang yang menghidupkan kembali semangat zaman dan keterlibatan generasi masa kini.
Lebih dari sekadar tempat penyimpanan masa lalu, Museum Galunggung hadir sebagai bentuk perlawanan sunyi terhadap derasnya arus modernisasi yang kerap mengikis nilai-nilai lokal. Ia mengajarkan bahwa menjadi modern bukan berarti meninggalkan akar, tetapi justru menegaskan pijakan untuk melangkah ke depan.

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan budaya lokal yang semakin tersisih oleh tren global, museum ini tampil bagai pelita kecil yang terus menyala mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar untuk dihafal, melainkan untuk dikenali dan dihidupi. Mungkin di sinilah harapan itu bersemayam: bahwa generasi muda Tasikmalaya akan tumbuh dengan lebih percaya diri, karena mereka tahu dari mana mereka berasal.
