
SUKABUMI-Di balik kesibukan Terminal Tipe A KH Ahmad Sanusi Baros Kota Sukabumi, siapa sangka ada tempat yang menyimpan kekayaan budaya masa lalu Museum Kipahare. Museum ini seolah menjadi jantung kebudayaan yang berdetak pelan di tengah riuhnya kendaraan umum dan hilir mudik penumpang. Bukan di gedung megah atau lokasi wisata elit, Museum Kipahare justru berdiri sederhana di tengah kompleks terminal, menjadi simbol perjuangan budaya yang lahir dari rakyat untuk rakyat.
Museum ini bukan sekadar ruang pamer artefak, tetapi laboratorium hidup budaya Sunda yang digagas oleh seorang pemuda bernama kang Fawaz bersama keluarganya. Ide ini berangkat dari keresahan akan minimnya kepedulian masyarakat terhadap sejarah dan warisan leluhur. “Yang pertama karena rasa kepedulian saya terhadap peninggalan para leluhur Sunda,” ujar kang Fawaz saat diwawancarai.
Nama Kipahare sendiri bukan nama yang dibuat sembarangan. Diambil dari nama tumbuhan yang dikenal juga sebagai pakujajar atau sucibungas, Kipahare menjadi lambang akar budaya yang dalam dan kuat. Sejak diresmikan pada 25 Maret 2017, museum ini telah menjelma menjadi satu-satunya museum berbasis komunitas di Jawa Barat yang mendapat pembinaan dari Balai Arkeologi Jawa Barat.
Koleksi yang dimiliki museum ini cukup beragam dan mencakup berbagai zaman. Dari peninggalan masa nirleka seperti artefak manusia purba, hingga peninggalan dari era Hindu-Buddha seperti arca batu dan batu lingga-yoni. Semua itu terkumpul berkat kerja keras komunitas, yang mulai serius menghimpun koleksi sejak 2019.
Namun museum Kipahare tidak hanya mengenalkan budaya dari peninggalan benda, terdapat sanggar yang aktif setiap minggu mulai dari pelatihan seni tradisional serta event budaya bulanan hingga tahunan. Festival budaya pada bulan Mulud menjadi puncak perayaan, sekaligus ruang untuk menghidupkan kembali kearifan lokal yang hampir padam. “Kami ingin Masyarakat khususnya anak muda tahu sejarahnya sendiri,” tambah kang Fawaz.
Sebelum menempati terminal, museum ini sempat berada di gedung perpustakaan daerah Baros. Namun karena alasan gedung tidak layak dan tidak ada perhatian dari pemerintah, museum berpindah ke terminal berkat dukungan dari pengelola terminal yang peduli terhadap budaya.
Tantangan utama museum Kipahare ini masyarakat yang kurang dalam mengenal budaya local atau Sejarah lokal serta minimnya dukungan dana dari pemerintah. Museum ini tidak didanai oleh negara melainkan murni swadaya. “Harapan saya kalau bisa kami ingin punya gedung sendiri,” tutur kang Fawaz.
Dalam menghadapi zaman digital, Museum Kipahare juga mulai beradaptasi. Media sosial menjadi alat utama promosi dan dokumentasi. Setiap kunjungan setiap kegiatan diabadikan dan dibagikan kepada masyarakat untuk mengenalkan Sejarah budaya local dan menarik perhatian yang membuka kerasa ingin tahuan.
Museum Kipahare adalah contoh bagaimana semangat lokal bisa menjadi kekuatan besar. Di tengah modernitas dan perkembangan zaman. Museum ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dihidupkan kembali. Di balik pintu museum yang sederhana, tersimpan harapan besar akan masa depan kebudayaan lokal yang lestari.
