Teras Cihampelas pernah menjadi simbol wajah baru Kota Bandung. Skywalk yang
membentang di atas Jalan Cihampelas itu dibangun dengan semangat menata kota sekaligus
memberi ruang yang lebih manusiawi bagi pejalan kaki dan pedagang kecil. Pada masa awal
peresmiannya, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan. Kamera ponsel menyala, kios
dipenuhi pembeli, dan suasana terasa hidup.
Namun, beberapa tahun berselang, denyut itu kian melemah.
Kini, suasana Teras Cihampelas jauh berbeda. Langkah pengunjung tak lagi padat. Banyak
kios tampak tutup, sebagian lainnya buka dengan dagangan seadanya. Banyak cat yang
memudar, vandalisme dimana-mana dan papan nama yang kusam menjadi pemandangan
sehari-hari. Di tengah kondisi itu, sejumlah pedagang masih bertahan, menunggu dengan
sabar di tengah ketidakpastian.
“Saya tetap buka tiap hari, walaupun kadang enggak ada yang beli sama sekali,” ujar Yayah
(52), pedagang kaos yang sudah berjualan sejak awal Teras Cihampelas beroperasi. Ia duduk
di depan kiosnya sambil memperhatikan orang-orang yang sekadar melintas. “Kalau dulu,
siang saja sudah ramai. Sekarang mah, satu pembeli juga sudah alhamdulillah.”
Yayah mengingat betul masa-masa awal ketika Teras Cihampelas baru dibuka. Menurutnya,
pengunjung datang silih berganti, terutama saat akhir pekan. “Pernah dagangan habis
sebelum sore. Pulangnya capek, tapi senang,” katanya sambil tersenyum tipis.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu titik balik. Jumlah pengunjung menurun drastis dan
tak pernah benar-benar pulih. Selain itu, akses menuju Teras Cihampelas dinilai kurang
ramah. Tidak semua pengunjung mengetahui pintu masuk skywalk, sementara sebagian
memilih langsung berbelanja di toko-toko di bawah.
“Orang lewat bawah ramai, tapi enggak naik ke atas,” kata Deni (39), pedagang aksesori
yang kiosnya berada di tengah jalur teras. “Kadang saya heran, rame tapi sepi.”
Di sisi lain, kondisi fasilitas juga menjadi keluhan. Beberapa pedagang menyebut
pencahayaan kurang, eskalator dan lift kerap tidak berfungsi, serta minimnya kegiatan yang
bisa menarik pengunjung. “Kalau tidak ada acara, orang malas naik,” ujar Deni.
Belakangan, wacana pembongkaran Teras Cihampelas kembali mencuat. Pemerintah daerah
menyebut perlunya evaluasi menyeluruh terhadap fungsi dan dampaknya terhadap lalu lintas.
Bagi para pedagang, isu itu menimbulkan kegelisahan baru.
“Kalau dibongkar, kami mau dipindahkan ke mana? Ini mata pencaharian kami,” ujar Yayah.
Ia mengaku tidak menolak perubahan, asalkan pedagang tetap diperhatikan. “Kalau
direnovasi, dirapikan, saya setuju. Asal jangan kami ditinggalkan.”
Teras Cihampelas hari ini bukan hanya soal berhasil atau gagalnya sebuah proyek tata kota.
Ia menyimpan cerita tentang orang-orang yang menggantungkan hidup di ruang publik yang
perlahan kehilangan pengunjungnya. Di balik beton dan besi, ada harapan sederhana dari para
pedagang: tempat ini kembali hidup, atau setidaknya, keputusan apa pun yang diambil tidak
melupakan mereka.
Menjelang sore, matahari turun perlahan di balik gedung-gedung Cihampelas. Beberapa kios
mulai tutup. Yayah mengunci lapaknya lebih awal. “Besok buka lagi,” katanya singkat.
Sebuah kalimat sederhana yang menyimpan keteguhan, sekaligus harapan, di tengah
ketidakpastian nasib Teras Cihampelas.
