Nyala Api Gotong Royong yang Menolak Padam Di Sudut Cikancung

Ketika deru mesin pabrik dan lalu lalang truk pengangkut barang menjadi pemandangan sehari-hari di jalan raya Cikancung, melangkahkan kaki masuk ke Kampung Bibika terasa seperti memasuki dimensi yang berbeda. Di sini, waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat. Bukan suara klakson yang mendominasi, melainkan sapaan hangat antarwarga yang berpapasan di gang-gang kecil.

“Mangga, A (Silakan, A),” adalah frasa sederhana yang tak pernah absen terdengar. Keramahtamahan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan cermin dari ikatan emosional yang kuat antarpenghuninya.

Pemandangan paling menyentuh terlihat saat ada salah satu warga yang hendak merenovasi rumah atau memiliki hajat. Tanpa perlu surat undangan resmi atau perintah dari ketua RT, para tetangga berdatangan. Kaum bapak menyingsingkan lengan baju mengangkut material atau mendirikan tenda, sementara kaum ibu sibuk di dapur umum dadakan, menyiapkan kopi dan kudapan. Tidak ada upah yang diharapkan; bayarannya adalah senyum kepuasan dan rasa “reugreug” (tenang) karena beban tetangga menjadi ringan.

Fenomena ini menjadi oase di tengah gersangnya interaksi sosial masyarakat modern yang cenderung individualis. Di saat banyak wilayah pinggiran Bandung mulai berubah menjadi “asrama” bagi para pekerja pabrik—di mana tetangga sebelah rumah pun tak saling kenal—Kampung Bibika memilih jalan berbeda.

Bagi warga Desa Cihanyir, gotong royong bukan sekadar aktivitas fisik membersihkan selokan atau membangun pos ronda. Lebih dari itu, ia adalah “sistem imun” sosial. Ia adalah cara warga menjaga kewarasan dan kemanusiaan di tengah himpitan ekonomi dan kerasnya kehidupan industri. Nilai filosofi Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh” benar-benar mewujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan di spanduk desa.

Tentu saja, arus modernisasi tidak bisa ditolak sepenuhnya. Banyak pemuda kampung ini yang kini menggantungkan hidupnya pada sektor industri di sekitar Cikancung. Namun, menariknya, ketika seragam pabrik dilepas dan mereka kembali ke rumah, identitas sebagai warga Kampung Bibika yang guyub kembali melekat.

Kampung Bibika mengajarkan kita satu hal penting: kemajuan infrastruktur dan ekonomi boleh saja mengepung dari segala penjuru, namun pertahanan terakhir sebuah identitas bangsa terletak pada seberapa kuat warganya saling menggenggam tangan. Di sudut timur Kabupaten Bandung ini, nyala api gotong royong itu dipastikan belum akan padam.

Scroll to Top