Aktivitas pagi warga Kampung Adat Cireundeu selalu berpusat di dapur, tempat aroma singkong segera memenuhi udara. Mereka dengan rutin mempersiapkan “rasi”, beras singkong yang telah menjadi makanan pokok selama lebih dari satu abad. Lebih dari sekadar tanaman, singkong telah bertransformasi menjadi identitas kuliner yang mempersatukan warga. Dari butiran rasi yang sederhana, tercipta puluhan varian makanan yang tidak hanya mencerminkan kreativitas, tetapi juga ketahanan pangan dan inovasi warga dalam menjadikan singkong sebagai hidangan utama.Perjalanan kuliner singkong di Cireundeu dimulai dari Leuweung Baladahan (hutan pertanian). Disinilah singkong putih, jenis yang dipilih karena patinya yang bagus, ditanam dengan sistem siklus berkelanjutan. Setelah dipanen, singkong menjalani transformasi panjang yang telah disempurnakan turun-temurun sejak 1924.Proses pembuatan nasi singkong khas Kampung Adat Cireundeu terdiri dari tujuh tahap, mulai dari mengupas, mencuci, memarut, memeras, menjemur, menumbuk, hingga mengayak. Tahap yang paling krusial adalah memeras parutan singkong. Proses ini memisahkan sari pati yang akan menjadi tepung aci dari ampasnya. Ampas inilah yang kemudian dijemur hingga kering, ditumbuk halus, dan akhirnya berubah menjadi granul-granul rasi. Keunikan lainnya terletak pada cara menanaknya yang disebut “seupan” atau dikukus. “Takaran air harus pas, dengan perbandingan satu banding satu. Hasilnya pulen dan bisa tahan hingga tiga hari,” jelas Yani (37) mengenai keunggulan produk andalan mereka.Kuliner khas warga Kampung Adat Cireundeu tidak berhenti pada sepiring nasi rasi. Kreativitas warga dalam mengolah singkong telah melahirkan sebuah ekosistem pangan yang mandiri dan menggugah selera. Mulai dari kudapan Tradisional seperti ampas singkong dan tepung aci diolah menjadi beragam camilan seperti Opak dan keripik yang renyah, cireng yang gurih, serta olahan singkong yang manis, menjadi sajian sehari-hari sekaligus oleh-oleh khas. Tidak ketinggalan, singkong juga beradaptasi dengan selera kekinian seperti Bolu singkong yang lembut adalah bukti bahwa warisan leluhur bisa berjalan beriringan dengan tren. Pada acara-acara besar seperti upacara adat 1 Muharam yang disebut “Lebaran Kampung”, rasi dan olahannya menjadi pusat hidangan. Bahkan, tumpeng rasi kerap disajikan untuk menjamu tamu yang berdatangan, termasuk dari komunitas adat lain seperti Baduy dan Kampung Naga.Kekayaan kuliner berbasis singkong ini bukan hanya menjadi kebanggaan warga, tetapi juga telah mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2021, Rasi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Pengakuan ini semakin mengukuhkan Cireundeu sebagai destinasi wisata kuliner dan edukasi yang unik. Pengunjung tidak hanya bisa mencicipi, tetapi juga belajar langsung proses pembuatannya.Falsafah “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” (Berpegang pada Waktu, Mengikuti Zaman) menjadi pondasi kesuksesan warga Kampung Adat Cireundeu. Mereka berpegang teguh pada resep warisan nenek moyang, tetapi terbuka untuk mengadopsi alat dan inovasi baru guna memperkaya variasi olahan. Dari yang paling tradisional, sepiring nasi rasi hangat, hingga inovasi modern seperti olahan bolu singkong. Setiap olahan bercerita tentang kearifan, ketahanan, dan kreativitas. Di sini, singkong bukan lagi makanan alternatif, melainkan sebuah pilihan budaya yang penuh kebanggaan.
