PASAR BUKU PALASARI DI ERA DIGITAL: BERTAHAN DI TENGAH LAJU TEKNOLOGI

Di tengah gempuran era digital yang menyulap buku menjadi layar dan toko menjadi aplikasi, Pasar Buku Palasari di Bandung tetap tegak berdiri. Deretan kios dengan rak kayu dan aroma kertas lama menjadi bukti bahwa cinta pada buku cetak belum sirna, meskipun zaman telah berubah drastis.

Pasar Buku Palasari bukan sekadar tempat transaksi buku, melainkan ruang nostalgia sekaligus saksi bisu pergeseran budaya literasi masyarakat. Namun bagaimana nasib para pedagang buku di tengah tren digitalisasi yang kian masif?

Pasar Buku Palasari, yang telah eksis sejak dekade 1980-an, dikenal sebagai surga buku murah di Bandung. Terletak di kawasan Lengkong, pasar ini menjadi rujukan para pelajar, mahasiswa, hingga kolektor buku dari berbagai daerah.

Namun, dalam dua dekade terakhir, geliat teknologi informasi dan maraknya e-commerce mulai menggoyang eksistensi pasar buku konvensional. Platform digital seperti Google Books, Gramedia Digital, dan e-commerce besar lainnya turut mereduksi daya beli masyarakat terhadap buku fisik.

Ahmad Junaedi, salah satu pedagang buku yang telah berjualan sejak tahun 1995, mengungkapkan bahwa penjualan buku cetak kini mengalami penurunan sekitar 40% dibandingkan awal tahun 2000-an. “Dulu dalam sehari bisa terjual 30–40 buku, sekarang kadang hanya sepuluh,” ujarnya sambil merapikan buku-buku sejarah di etalase kecil miliknya.

Meski demikian, para pedagang di Palasari tidak tinggal diam. Beberapa mulai merambah penjualan online melalui media sosial dan marketplace. Mereka memadukan pendekatan tradisional dengan strategi digital demi memperluas jangkauan pembeli. Buku-buku langka, edisi lama, dan kebutuhan akademik tetap menjadi komoditas yang banyak dicari karena tidak selalu tersedia dalam bentuk digital.

Sementara itu, pemerintah daerah pun mulai melirik potensi revitalisasi pasar buku ini sebagai warisan budaya kota. Wacana digitalisasi katalog, pelatihan literasi digital bagi pedagang, hingga integrasi dengan event literasi lokal mulai digulirkan.

Pasar Buku Palasari adalah cerminan perjuangan antara mempertahankan tradisi dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pasar ini tetap menjadi simbol bahwa buku fisik masih memiliki ruang dan makna, terutama bagi mereka yang percaya bahwa membaca bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman yang tak tergantikan.

Scroll to Top