
CIBIRU — Sejak Desember 2024, kampus UIN Bandung mencoba menghadirkan solusi kreatif untuk mengurangi limbah minyak goreng bekas (jelantah) lewat kehadiran mesin UCollect Box. Lewat program Green Movement, mesin ini dirancang untuk menampung minyak jelantah dari warga maupun mahasiswa, yang kemudian ditukar dengan insentif berupa uang.
Namun, di balik inovasi ramah lingkungan tersebut, pemanfaatan mesin di lapangan rupanya masih belum optimal. Banyak pedagang kecil di sekitar kampus yang masih ragu, bahkan belum mengetahui program ini sepenuhnya.
Eko (41), penjual gorengan yang sehari-hari mangkal di kawasan Cipadung — tak jauh dari lingkungan kampus — mengaku mengetahui adanya mesin tersebut, namun hingga kini belum pernah mencoba memanfaatkannya. “Tahu adanya UCollect, tapi belum pernah mencobanya,” ujarnya singkat.
Hal serupa juga diungkapkan Sofi, kasir warung ayam goreng Alibaba di sekitar kampus UIN Bandung. Ia justru mengaku belum pernah mendengar sama sekali soal keberadaan mesin penukar minyak jelantah tersebut. “Nggak tau sih kalo ada mesin itu di UIN,” katanya.
Sementara itu, seorang ibu penjual bubur yang juga berdagang di kawasan kampus baru mengetahui keberadaan mesin ini setelah diberi tahu. “Ohh belum tau ada itu teh… nanti dicoba deh,” ucapnya sambil tersenyum.
Berbeda lagi dengan pengakuan salah satu pedagang warung pecel di sekitar Cibiru. Meski tahu adanya mesin UCollect Box, ia belum pernah menukar minyak jelantah di sana. Alasannya cukup sederhana: minyak bekas hasil usahanya justru sudah ada yang rutin membelinya. “Nggak pernah, soalnya minyak jelantah di sini suka dibeli orang. Tapi tau ada itu di UIN,” ungkapnya.
Kondisi ini memperlihatkan adanya jarak antara hadirnya teknologi dan penerapannya di masyarakat. Di satu sisi, UCollect Box menawarkan solusi pengelolaan limbah minyak jelantah secara ramah lingkungan, sekaligus memberikan insentif ekonomi. Di sisi lain, kebiasaan lama, kurangnya sosialisasi, serta adanya pembeli minyak jelantah secara langsung, membuat sebagian pedagang kecil belum melihat manfaat langsung dari mesin ini.
Padahal, jika dibuang sembarangan, minyak jelantah bisa mencemari saluran air, merusak ekosistem sungai, dan mengancam kesehatan lingkungan. Lewat program seperti UCollect Box, minyak jelantah bisa diolah kembali menjadi produk seperti biodiesel, sabun, hingga lilin.
Kini, yang dibutuhkan bukan hanya mesin yang canggih, tetapi juga edukasi dan ajakan yang masif bagi masyarakat sekitar untuk ikut terlibat. Dengan begitu, mesin pengubah jelantah menjadi rupiah ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya — tak hanya berdiri di pojok kampus, namun betul-betul menjadi bagian dari budaya baru pengelolaan limbah ramah lingkungan di Cibiru dan sekitarnya
