
SUMEDANG – Angin sejuk dari lereng Gunung Puyuh berembus pelan, seolah berbisik mengantar cerita. Di balik pagar sederhana, di kompleks pemakaman keluarga bupati Sumedang, terbaring sosok yang namanya terukir emas dalam sejarah perjuangan bangsa: Cut Nyak Dien. Pahlawan nasional asal Aceh ini, yang menghabiskan paruh akhir hidupnya dalam pengasingan, menemukan pemberhentian terakhirnya jauh dari Tanah Rencong, di Bumi Pasundan. ” Komplek pemakaman Cut Nyak Dien ini juga memuat makam tokoh lain seperti Siti Khadijah , Haji Sanusi, dan Haji Husna. Ketiga tokoh tersebut merupakan tokoh- tokoh yang merawat Cut Nyak Dien semasa diasingkan di Sumedang” Ujar Asep Gusnandar
(50) Juru Kunci Makam Cut Nyak dien.
Makam Cut Nyak Dien bukanlah sebuah monumen megah. Pusaranya yang sederhana, diapit oleh makam-makam lain, justru menyimpan kesunyian yang mengharukan. Sebuah batu nisan yang terawat baik menjadi penanda bahwa di sinilah sang srikandi pejuang itu bersemayam sejak tahun 1908. Ia wafat dalam pengasingan setelah ditangkap Belanda karena gigih melawan penjajahan.
Keberadaan makam Cut Nyak Dien di Sumedang sering kali memicu pertanyaan banyak orang. Mengapa pahlawan Aceh dimakamkan di Jawa Barat? Sejarah mencatat, setelah ditangkap pada tahun 1905, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang karena dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan berada di Aceh. Ia menghabiskan masa pengasingan selama dua tahun di bawah pengawasan Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Suria Atmadja. “Selama di pengasingan, Cut Nyak Dien dikenal sebagai sosok yang religius dan mendalami Al-Qur’an, hingga wafat pada usia 60 tahun.
“Banyak peziarah datang dari berbagai daerah, terutama dari Aceh. Mereka ingin melihat langsung makam ini dan mendoakan beliau,” ujar Asep Gusnandar ( 50 th ), juru kunci makam yang sudah bertugas belasan tahun. Menurutnya, makam ini menjadi simbol pengorbanan dan keteguhan hati seorang pejuang yang tidak pernah surut semangatnya, bahkan hingga akhir hayatnya.
Dari pantauan di lokasi, kondisi makam terbilang terawat, dengan bangunan utama yang dilindungi atap, nisan yang bersih, dan area yang terpagar rapi. Namun, ada satu hal yang mencolok: Asep Gusnandar, juru kunci dari makam Cut Nyak Dien mengatakan bahwa makam ini jauh lebih banyak mendapat perhatian dari pemerintah provinsi Aceh dibandingkan pemerintah daerah Sumedang.” Pemugaran dan perawatan besar makam ini terjadi pada pada 1987 oleh Pemerinta daerah Aceh, dari mulai pemasangan Besi di sekeliling Komplek pemakaman Cut Nyak Dien, Pembuatan Gerbang, pemugaran bentuk makam dan Batu nisan yang bercorak kebudayaan Aceh, hingga pembanguan cungkup atau bangunan beratap di atas makamnya sebagai pelindung makam dari cuaca”. Ujar Asep Gunandar (50).
Setiap tahun, rombongan dari Aceh, baik dari pemerintah maupun masyarakat, rutin berziarah ke makam ini, bahkan berpartisipasi dalam pemeliharaan. Mereka tak segan memberikan dana dan bantuan untuk renovasi serta pemeliharaan. “Setiap
ada kunjungan dari Aceh, selalu ada saja bantuan untuk perbaikan makam. Mereka sangat peduli,” ujar Asep Gusnandar ( 50 ) , salah satu juru kunci makam yang sudah bertugas belasan tahun tahun.
Namun, tantangan pelestarian tetap ada. Edukasi kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, perlu terus digalakkan agar kisah perjuangan Cut Nyak Dien tidak lekang oleh waktu. Keberadaan makam ini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan Aceh dan Sumedang, dua daerah yang dipisahkan jarak, namun disatukan oleh kisah kepahlawanan.
Makam ini bukan sekadar nisan atau tumpukan batu. Ia adalah saksi bisu dari akhir perjalanan seorang perempuan tangguh yang menolak menyerah. Di Sumedang, di bawah langit yang tenang, gema perlawanan Cut Nyak Dien terus hidup. Ia mengajarkan tentang arti sebuah perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman yang tak lekang oleh waktu dan pengasingan. Bagi siapa pun yang singgah, makam ini adalah pengingat bahwa kepahlawanan tidak hanya tercatat di medan perang, tetapi juga dalam kesunyian sebuah pusara.
