
Penulis Usman Supendi
Setiap tahun program studi magister Sejarah Peradaban Islam (S2) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Tahun 2025 PKM dilaksanakan di Kampung Adat Baduy, Desa Kanekes, di Kecamatan Leuwidamar, Kabuten Lebak, Banten. Pelaksanaan kegiatan pada hari Selasa dan Rabu, tanggal 28 dan 29 Oktober 2025. Pelaksanaan di dua tempat, yaitu di Kampung Landeuh, kampung tempat mualaf warga Baduy, dan di Kampung Gazebo di Baduy luar.
Kegiatan ini selain melibatkan mahasiswa magister SPI juga melibatkan masyarakat Baduy. Hari Selasa, Tanggal 28 Oktober 2025 pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Kampung Gazebo. Kegiatan ini diisi dengan mencek kesehatan warga Baduy di Kampung Gazebo, yaitu mencek tekanan darah dan kesehatan lainnya. Pelaksanaan bakti kesehatan bagi warga Baduy oleh Dr. Dedy Frianto, M.Kes. Dedy sehari-harinya menjadi dosen ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Buana Perjuangan Karawang. Kegiatan ini dimotori oleh Ketua Program Studi Magister Sejaran Peradaban Islam, Prof. Dr. Asep Achmad Hidayat, M.Ag.
“Kami sengaja mengadakan pengabdian kepada masyarakat di Kampung Gazebo dengan kegiatan cek kesehatan dan penyuluhan kesehatan di musim hujan, karena warga Gazebo pemukimannya bersebelahan dengan sungai Ciujung!” ujar Asep Achmad Hidayat menjelaskan. Lanjut Asep Achmad Hidayat, sengaja membawa ahli kesehatan dari UBP Karawang karena yang bersangkutan juga berkuliah di S2 SPI untuk mendalami obat-obat tradisional pada naskah kuno. Tesisnya pun tentang khasanah pengobatan dari bahan-bahan obat alami yang terdapat di naskah Sunda kuno.
Asep Achmad Hidayat sebagai ketua program studi S2 SPI, ingin mengamalkan juga ilmunya yang ditulis dalam bukunya berjudul Khazanah Terapi Komplementer Alternatif, “Karena kan warga Baduy itu tidak berobat secara medis modern, mereka banyak mengobatinya dengan alternatif atau tradisi pengobatan ala mereka secara tradisional. Pengobatan alternatif tersebut sudah banyak ditulis di buku saya, maka saya pragmagtiskan dalam pengabdian kepada masyarakat di Baduy,” ujar ketua Prodi S2 yang selalu dipanggil Abah Prof.
Hari kedua pengabdian kepada masyarakat dikomandai oleh Dr. Anggi Giri Prawiyogi, M.Pd., M.Sn, tentang moderasi dan toleransi beragama di Kampung Landeuh, kampung mualaf yang dinaungi oleh yayasaan mualaf Baduy At-Taubah. Kampung Landeuh yang jaraknya satu kilometer dari Baduy luar ini didirikan karena setiap warga Baduy yang masuk Islam harus keluar dari Baduy dalam dan Baduy Luar. Para mualaf warga Baduy itu mendirikan perkampungan baru di daerah Kampung Landeuh sekitar 30 kepala keluarga. Mereka secara adminitratif terpisah dengan keluarganya, tetapi secara genetik dan budaya masih memiliki ikatan.
“Saya dan rekan-rakan mahasiswa magiseter sejarah peradaban Islam memberikan pencerahan kepada sodara-sodara yang sudah masuk Islam di Kampung Landeuh, agar menjaga kebersamaan dengan familinya di Baduy dalam dan luar!” ujar Anggi Giri Prawiyogi Dosen Universitas Buana Perjuangan Karawang. Sebab persaudaraan itu tidak akan terputus oleh keyakinan. Dan warga Baduy yang sudah masuk Islam jangan mengusik kepercayaan sanak saudaranya. Kerena kebebasan beragama dilindungi oleh Undang-Undang Dasar dan oleh ajaran Islam.***
