
Bandung mungkin takkan serupa tanpa Charles Prosper Wolff Schoemaker. Namun di sudut sunyi TPU Pandu, arsitek legendaris yang pernah menenun wajah kota ini hanya dijemput sepi. Tak banyak yang tahu makam sederhana itulah rumah abadi perancang Gedung Sate dan Villa Isola, dua ikon yang masih menegakkan dada di tengah hiruk-pikuk Bandung modern. Lalu, siapa itu Schoemaker? Mengapa ia penting? Dan mengapa makamnya justru jarang dikunjungi? Melalui ziarah kecil ke TPU Pandu, kita menemukan bukan hanya nisan tua, tapi juga lembaran sejarah yang nyaris dilupakan kota yang ia bangun.
Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882–1949) bukan sekadar arsitek Belanda. Ia guru Soekarno semasa kuliah teknik di THS (kini ITB), pengusung gaya art deco tropis, dan perancang bangunan-bangunan ikonik di Bandung. Gedung Sate dengan menara sentral dan ornamen khas Hindia, Villa Isola yang berliku mengikuti kontur bukit, hingga Gereja Katedral Bandung, semua memamerkan visinya memadukan modernitas Eropa dengan unsur lokal.
Sayangnya, namanya kian meredup di kalangan warga Bandung sendiri. Tak banyak penanda yang menuntun orang ke makamnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu, Jalan Pandu, Bandung. Lokasinya relatif tersembunyi di antara deretan makam-makam lama. Batu nisannya sederhana, hanya bertuliskan namanya, tanpa plakat sejarah yang menegaskan kontribusinya bagi kota ini.
Di tempat itulah Schoemaker disemayamkan sejak 22 Mei 1949. TPU Pandu sendiri menjadi saksi sejarah panjang Bandung. Dibuka pada era kolonial, diisi makam-makam orang Eropa dan pribumi, hingga kini menua bersama riwayat kota. Di sinilah Schoemaker, seorang arsitek yang mengukir Bandung sebagai “Paris van Java” beristirahat dalam sunyi.

Mengapa makamnya sepi? Barangkali karena narasi sejarah kita lebih gemar menonjolkan gedung daripada perancangnya. Barangkali juga karena identitas kolonialnya membuat namanya kikis dari ingatan. Padahal, tanpa dia, Bandung tak punya keanggunan art deco yang mendunia.
Beberapa pegiat sejarah dan komunitas urban heritage sebenarnya sudah berusaha membangkitkan kembali memori Schoemaker. Tour-tour sejarah kadang memasukkan TPU Pandu dalam rute, mengajak pengunjung berhenti di nisannya dan menceritakan siapa dia. Namun itu masih terbatas. Pemerintah kota sendiri belum serius mengelola makam itu sebagai situs sejarah.
TPU Pandu dengan jalan setapak berdebu, ilalang yang menyesaki sela nisan, dan keheningan yang hanya dipecah bisik angin, menjadi cermin bagaimana kita merawat (atau melupakan) sejarah. Di sana, Schoemaker menunggu, tak menuntut apa pun, hanya berharap dikenang. Kini Bandung sedang terus berubah, gedung-gedung baru tumbuh, jalan-jalan kian padat, dan sejarah terancam terkikis. Di tengah semua itu, makam Schoemaker di TPU Pandu seolah bertanya, bagaimana kita merawat warisan? Apakah kita hanya mengagumi Gedung Sate untuk berfoto, tanpa mau tahu siapa yang menggambarnya? Di balik sunyi nisan itu, Bandung berutang ingatan. Mungkin sudah waktunya kota ini menengok kembali ke TPU Pandu, menata makam Schoemaker, dan dengan itu menata juga cara kita mengenang.
