
Jarum dan benang di tangan Pak Otoy tak hanya menyambung atau merenovasi pakaian, tapi juga mengikat harapan dan kesederhanaan. Sejak tahun 2001, pria bersahaja itu menjadi tukang jahit langganan para pedagang pakaian di Pasar Cimol Gedebage, Bandung. Uniknya, ia tak pernah mematok harga untuk jasanya. “Sakumaha saikhlasma we”, ucap Pak Otoy (60) sambil tersenyum menerima tumpukan pakaian untuk diperbaiki. Di balik ketekunannya, siapa sangka Pak Otoy berhasil membeli sawah sekitar satu hektar di kampung halamannya, merenovasi rumah hingga menyekolahkan anaknya tanpa pernah sekalipun menghitung ongkos secara pasti.
Setiap pagi, sebelum cimol di buka, Pak Otoy sudah duduk di atas bangku plastik di lapaknya yang hanya berukuran satu meter persegi. Sebuah mesin jahit manual tua menjadi teman setianya. Di sekitarnya, terlihat tumpukan kantong plastik berisi pakaian robek, celana dan jas yang perlu disesuaikan ukurannya, hingga jaket yang perlu diganti resleting, menumpuk dari pelanggan yang silih berganti.
“Abdi tos biasa waé damel ti isuk dugi sore,” ujarnya dalam bahasa Sunda, sambil terus mengayuh mesin jahit. Ia bekerja tanpa banner, tanpa promosi, dan tanpa tarif tetap. Para pedagang tahu, untuk menjahit pakaian dalam jumlah banyak atau sekadar memperbaiki satu sobekan, cukup membayar seikhlasnya. “Kadang aya nu mayar 5 ribu, kadang 20 ribu, teu nanaon. Nu penting berkah,” lanjutnya.
Namun dari kerja sederhana dan tanpa perhitungan itu, Pak Otoy membuktikan bahwa konsistensi dan kejujuran adalah modal paling besar. Dalam lebih dari satu dekade menjahit di Cimol, ia tak hanya membiayai kehidupan keluarganya, tetapi juga berhasil merenovasi rumah dan membeli sehektar sawah di kampung halamannya di Singaparna, Tasik. “Bumi atos rengse, sawah ogé tos tiasa dipelak. Abdi da henteu loba kahayang, nu penting tiasa nyukupan,” ujarnya merendah.
Kisah Pak Otoy menyentuh banyak pelanggan setianya. “Kalem, tara ambek, tara matok harga. Lamun kabeh tukang siga Pak Otoy mah enakeun,” kata Ami (45), salah satu pedagang pakaian bekas.
Di tengah hiruk-pikuk pasar dan kompetisi bisnis yang semakin keras, Pa Otoy hadir sebagai oase ketulusan. Ia bukan hanya menjahit pakaian, tetapi juga menambal nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kesederhanaan di tengah masyarakat. Dalam diam dan tanpa banyak bicara, ia mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari ambisi besar, melainkan dari hati yang tulus dan tangan yang tak lelah bekerja. Pak Otoy adalah penjahit, tapi kisah hidupnya menjahit inspirasi yang tak lekang waktu.
