Perpustakaan Batu Api: Ruang Baca Mahasiswa di Tengah Derasnya Arus Digital

Dalam sebuah rumah sederhana di Jalan Raya Jatinangor 142A, sebuah ruang kecil menyimpan semangat besar, yaitu literasi. Ruang berukuran 7×6 meter itu bukan hanya tempat menyimpan buku, tapi juga menjadi tempat bertemunya ide-ide, obrolan hangat, dan gairah akan pengetahuan. Namanya adalah Perpustakaan Batu Api.

“Awalnya ini hanya koleksi pribadi,” tutur Anton Solihin, pendiri perpustakaan tersebut. Bersama Arum Kusumaningtyas, istrinya, Anton mengubah bagian depan rumah mereka menjadi ruang baca yang terbuka untuk umum. “Dulu saya sering nongkrong di British Council Bandung. Ketika itu tutup, saya kehilangan ‘pusat peradaban’. Maka saya berpikir, kenapa ga bikin sendiri aja?”

Oleh karena itu, diresmikannya pada 1 April 1999, Batu Api lahir dari kegelisahan dan juga cinta pada buku, musik, dan film. Nama “Batu Api” sendiri mengandung filosofi yang tak pernah Anton jelaskan secara gamblang. “Hanya Tuhan dan saya yang tahu,” ujarnya sambil tersenyum. Namun, ia menyelipkan bahwa dalam Bahasa Sunda, batu api dikenal sebagai “paneker” yaitu pemantik api. Mungkin, perpustakaan ini memang dimaksudkan untuk memantik kembali semangat membaca. Berbeda dari perpustakaan konvensional, suasana di Batu Api sangat jauh dari kata kaku. Pengunjung bisa duduk lesehan, mendengarkan musik atau sekadar ngobrol santai dengan Anton sambil menyeruput kopi. Seperti filosofi yang diusung sederhana, yaitu “warung pengetahuan.”

“Tempat ini bukan sekadar gudang buku,” kata Anton. “Ini ruang hidup. Pengunjung bisa tanya apa saja, mulai tentang film, musik, buku, atau tema kuliah. Saya senang berdiskusi, memberi rekomendasi. Suasananya harus santai, hangat, engga kaku.”

Namun, ada satu hal yang membuat Anton sering merenung, yaitu minat baca mahasiswa. Meski banyak pengunjung, hanya sedikit yang datang dengan niat sungguh-sungguh untuk membaca. “Dari 100 orang, mungkin cuma 5 yang benar-benar baca. Sisanya karena tugas kuliah. Sekarang pun banyak yang pakai AI,” ungkapnya.

Meski begitu, Anton tak menolak teknologi. Ia juga menyediakan e-book untuk pengunjung yang membutuhkannya. “Kalau ada buku yang engga tersedia versi cetaknya, saya bantu cari versi digitalnya,” jelasnya. Menurut Anton, format digital memang memudahkan, tapi tidak menggantikan pengalaman membaca buku fisik. “Buku fisik itu punya aura. Ada tekstur, ada emosi. Itu yang engga bisa digantikan layar.”

Alasan mahasiswa tetap datang ke Batu Api pun beragam. Selain suasananya yang unik dan akses mudah, Anton menjadi daya tarik tersendiri. Ia mengenal koleksinya luar kepala, dan kerap membantu mahasiswa menemukan bacaan yang tepat untuk tugas, skripsi, bahkan untuk menumbuhkan minat pribadi. Biaya keanggotaan pun sangat terjangkau, hanya sekitar Rp20.000, dan untuk peminjaman buku cukup dengan membayar seharga Rp3.000–Rp5.000.

“Tempat ini berbeda,” kata Anton. “Kami bukan institusi besar. Kami rumah biasa yang membuka ruang. Mungkin justru karena itu, orang merasa lebih nyaman.”

Sebelum pandemi, Batu Api juga rutin mengadakan diskusi, pemutaran film, dan lokakarya kecil-kecilan. Format analog seperti kaset dan piringan hitam pun menjadi bagian dari pengalaman belajar yang tak bisa ditemukan di ruang baca modern lainnya.

Ketika ditanya soal harapannya terhadap generasi muda, terutama mahasiswa, Anton menjawab dengan tenang, “Saya cuma ingin mereka tidak kehilangan cara berpikir. Jangan sampai literasi hanya jadi kewajiban tugas. Saya ingin mereka datang ke sini untuk mencari sesuatu yang lebih dari sekadar referensi.”

Anton percaya, teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan menggantikan proses berpikir mendalam. Dan Perpustakaan Batu Api dengan segala kesederhanaannya, berusaha menjaga itu. Ia mungkin tidak besar, tapi seperti “batu api” yang terus memercikkan nyala. Kecil, tapi cukup untuk menghangatkan dan menyalakan semangat literasi di tengah derasnya arus digital.

Scroll to Top