Polemik Alih Kelola Kebun Raya Cibodas Memanas, Konservasi atau Komersialisasi Di Persimpangan Zaman

Bandung, Juni 2025 — Di bawah langit yang sering berkabut dan rimbun pohon tropis dataran tinggi, Kebun Raya Cibodas menyimpan cerita panjang yang kini memasuki babak baru. Sejak pengelolaannya resmi beralih dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke tangan pihak swasta pada 2020, wajah kebun raya yang telah berdiri sejak 1852 itu perlahan berubah.Pergantian ini membawa janji: pelayanan yang lebih baik, infrastruktur modern, serta peningkatan peran sebagai destinasi wisata edukatif. Namun setelah lima tahun berjalan, masyarakat mulai mempertanyakan, apakah tujuan awal konservasi dan riset ilmiah masih menjadi landasan utama pengelolaan?

Transformasi Pengelolaan: Efisiensi atau Pengabaian?Alih kelola dilakukan melalui skema kerja sama pemerintah-swasta (KPS) dengan menggandeng PT Mitra Natura Raya. Harapannya, perusahaan mampu menyuntikkan profesionalitas dalam pengelolaan empat kebun raya utama Indonesia, termasuk Cibodas.Dalam praktiknya, sejumlah perbaikan memang terlihat: sistem tiket digital diterapkan, fasilitas pengunjung ditingkatkan, dan akses informasi wisata diperluas. Namun di balik kemajuan itu, muncul konsekuensi yang tak bisa diabaikan.

Penurunan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 30 persen tercatat dalam dua tahun terakhir. Salah satu penyebab utama adalah kebijakan pembayaran tiket yang kini dilakukan secara terpisah di setiap akses masuk, berbeda dengan sistem lama yang cukup satu kali bayar.

Dampak Lingkungan Mulai Terasa Lebih dari sekadar perubahan manajemen, dampak ekologis juga mulai teridentifikasi. Studi terbaru menunjukkan adanya peningkatan suhu mikroklimat dari 19°C menjadi 21°C, yang mempengaruhi siklus pertumbuhan beberapa jenis tanaman khas Cibodas.Bunga sakura, yang menjadi daya tarik utama, kini berbunga lebih singkat. Sementara itu, koleksi tanaman langka seperti anggrek dan liana terancam keberadaannya. Setidaknya 46 spesies tercatat berada dalam status rentan hingga sangat terancam punah.

Ketegangan Antara Misi Ilmiah dan BisnisDari sisi visi kelembagaan, transisi ini menunjukkan pergeseran orientasi. Bila dahulu Cibodas dikenal sebagai ruang penelitian dan pelestarian hayati, kini identitas itu mulai bersaing dengan fungsi komersial.Pihak pengelola menyatakan bahwa pendekatan eduwisata tetap mengedepankan nilai konservasi. Namun beberapa kalangan akademisi menyayangkan minimnya keterlibatan ilmuwan dan lembaga riset dalam struktur pengelolaan saat ini.

“Konservasi bukan hanya soal memajang tanaman langka, tapi menjaga sistem ekologinya tetap hidup. Itu butuh lebih dari sekadar strategi pemasaran,” ujar seorang peneliti dari universitas negeri di Jawa Barat.

Respons Masyarakat dan Jalur Alternatif. Ketidakpuasan pengunjung atas sistem tiket berulang mulai melahirkan respons tak terduga. Sebagian memilih masuk melalui jalur alternatif, meski harus melewati medan sempit yang tidak ramah kendaraan roda empat. Akses ini dinilai lebih murah dan cepat, meskipun tidak resmi.

Pemerintah daerah kini tengah meninjau ulang kebijakan sistem tiket dan membuka dialog dengan pengelola agar konsep keterbukaan akses dapat kembali ditegakkan tanpa merugikan misi keberlanjutan kawasan.

Di Simpang Tiga Masa Depan. Kebun Raya Cibodas hari ini berdiri di simpang tiga: konservasi, wisata, dan bisnis. Pilihan arah ke depan tidak semata ditentukan oleh neraca keuangan atau angka kunjungan, tetapi juga oleh seberapa jauh kita menghormati sejarah ruang ini sebagai warisan ilmu dan ekologi.

Jika langkah ke depan hanya mengikuti logika pasar, maka ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai konservasi yang menjadi pondasi sejak abad ke-19 akan memudar pelan-pelan. Tapi jika arah kebijakan kembali mengutamakan keseimbangan, bukan tak mungkin Cibodas bisa menjadi contoh pengelolaan konservasi modern yang berpihak pada publik dan lingkungan.

Di tanah yang dulu hanya terdengar suara dedaunan dan sepatu peneliti, kini langkah wisatawan dan kebijakan ekonomi bersahut-sahutan. Yang jadi pertanyaan hari ini bukan sekadar “berapa tiket masuknya?”, tapi “ke mana kita ingin membawa kebun ini esok hari?”

Scroll to Top