Rapai Geleng sebagai Representasi Emosional Masyarakat Aceh

Suara dentuman ritmis memecah keheningan sore di Panggung Utama Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Aceh Besar. Puluhan anak muda duduk bersila membentuk lingkaran, tangan mereka bergerak cepat memukul rapai alat musik tradisional berbentuk rebana. Kepala dan badan ikut bergeleng dalam irama yang semakin menggila. Ini bukan hanya pertunjukan seni. Ini adalah bentuk ekspresi jiwa, perlawanan, dan juga doa.

Rapai Geleng, salah satu bentuk seni tari dan musik tradisional Aceh, bukan sekadar hiburan rakyat. Ia adalah kanal emosional masyarakat Aceh dalam mengekspresikan rasa baik spiritualitas, kebanggaan identitas, bahkan duka dan amarah terhadap sejarah panjang konflik dan ketidakadilan.

“Setiap kali saya memukul rapai, saya seperti bicara dengan Tuhan. Ada rasa lega, ada rasa tenang,” ujar Setiawan Ariwiba, 21 tahun.

Rapai Geleng berkembang pesat di daerah Pidie, Aceh Barat dan Aceh Besar. Tidak seperti rebana biasa yang digunakan dalam zikir, Rapai Geleng dimainkan dengan gerakan kepala dan tubuh yang intens menggambarkan kesatuan antara tubuh, irama, dan spiritualitas. Unsur sufisme yang kental dalam pertunjukan ini menunjukkan betapa dalamnya kaitan antara kesenian dan religiositas masyarakat Aceh.

Sabariah, seorang peneliti budaya Aceh dari Universitas Syiah Kuala, menjelaskan bahwa Rapai Geleng memiliki muatan simbolik yang kuat. “Dalam setiap pertunjukan Rapai Geleng, kita bisa membaca sejarah sosial Aceh. Gerakan tubuh yang keras tapi teratur mencerminkan watak orang Aceh yang keras tapi penuh ketertiban. Lirik-lirik yang dinyanyikan seringkali berisi sindiran sosial, ajakan moral, atau pengingat akan pentingnya menjaga adat dan agama.”

Bukan hanya laki-laki, kini semakin banyak perempuan muda Aceh yang tertarik mempelajari Rapai Geleng, meskipun masih menghadapi stigma sosial. Salah satunya adalah Laila Nurliana, 22 tahun, mahasiswa jurusan seni. “Saya belajar Rapai Geleng bukan untuk melawan adat, tapi justru ingin melestarikan. Biar orang tahu, perempuan Aceh juga punya hak bersuara dalam kesenian,” ujarnya sambil memperlihatkan tangan yang mulai kapalan karena latihan.

Di tengah gempuran budaya populer dan globalisasi, Rapai Geleng tetap bertahan sebagai benteng budaya Aceh. Pemerintah daerah dan komunitas seni terus mendorong regenerasi melalui festival dan pelatihan di sekolah-sekolah.

Scroll to Top