Di sebuah sudut Kota Bandung, terdapat jalan sempit yang menyimpan jejak panjang sejarah sosial—Saritem. Kawasan ini pernah menjadi lokalisasi paling tersohor di Jawa Barat, dikenal luas sejak zaman kolonial sebagai tempat hiburan malam bagi tentara Belanda dan pegawai pemerintah Hindia. Namanya diambil dari sosok legendaris Nyai Saritem, seorang perempuan pribumi yang disebut-sebut menjadi gundik tentara dan kemudian mengelola jaringan pekerja seks di kawasan tersebut.
Prostitusi di Saritem bukanlah praktik sembunyi-sembunyi. Pada masa kolonial, kegiatan ini dilegalkan dan diawasi, bahkan dianggap sebagai kebutuhan militer. Hal ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan menjadi alat dalam sistem sosial yang timpang, direstui oleh negara, dan dibiarkan berkembang dalam struktur kekuasaan yang maskulin dan kolonial. Seiring waktu, Saritem tumbuh menjadi lokalisasi yang “resmi”, hingga mencapai puncaknya pada dekade 1980-an.

Namun, sejarah itu berubah drastis ketika Pemerintah Kota Bandung menutup lokalisasi ini secara resmi pada tahun 2007. Dalih moralitas dan penataan kota menjadi dasar kebijakan tersebut. Praktik prostitusi pun perlahan menghilang dari permukaan, meskipun banyak pihak menyebut bahwa aktivitas tersebut belum sepenuhnya hilang, hanya berpindah ke ruang-ruang yang lebih tersembunyi.
Pasca penutupan, masyarakat setempat tidak tinggal diam. Dengan dukungan komunitas dan pemerintah kota, warga mulai mengganti wajah Saritem. Muncul berbagai inisiatif seperti mural seni, pelatihan UMKM, kegiatan keagamaan, hingga branding ulang sebagai kampung kreatif Islami. Bekas-bekas lokalisasi disulap menjadi ruang ekspresi warga, tempat lahirnya harapan baru.

Meski transformasi ini masih menyisakan tantangan—dari ekonomi warga yang terdampak hingga stigma sosial yang belum sepenuhnya hilang—upaya membenahi Saritem menunjukkan kekuatan masyarakat dalam menulis ulang narasi mereka sendiri. Bukan dengan menghapus masa lalu, tetapi dengan merawatnya dan memberinya arah baru.
Saritem hari ini bukan sekadar cerita tentang prostitusi yang sudah tiada. Ia adalah potret bagaimana kota menghadapi sejarahnya sendiri: apakah akan menutupinya dengan malu, atau mengolahnya menjadi pelajaran kolektif. Dan warga Saritem memilih jalan kedua—jalan yang tak mudah, tapi penuh martabat.
