
Gutentor Simple Text
Di dalam rumah kayu yang sederhana di desa Parengan kabupaten Lamongan,”cekrek-ckrek-ckrek” alat tenun tradisional masih bersahutan. Hampir ditiap-tiap rumah masih menyimpan estetika benang warna-warni yang disulap menjadi kain sarung. Di setiap helai benang tersimpan kisah lama yang mengandung kebudayaan dan tradisi tenun ikat dari tanah Paregan.
Sarung tenun goyor menjadi seni yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Dalam pembuatannya banyak membuka peluang usaha, dalam setiap prosesnya membutuhkan tangan-tangan kreatif, mulai dari proses pewarnaan, pembuatan motif ikat, penggulungan benang-benang, hingga proses penenunan ini memakan waktu dan tenaga. Tentu hal ini menjadikan sarung ini sebuah kesenian yang istimewah bagi pengrajin dan juga pembelinya.
“Ada pun proses pembuatannya, yaitu dimulai dari pencelupan benang, pencelupan benang untuk mendapatkan warna yang diinginkan kemudian setelah itu dijemur bawa terik sinar matahari, kemudian sudah kering, posisi sudah harus benar-benar kering ya, kemudian dipintal, setelah dipintal kemudian dibentang. Dibentang itu nanti untuk mendapatkan motif dari sarung setelah dibentang digambar digambar ini nanti sesuai motif yang diinginkan kemudian diikat diikat untuk mendapatkan warna warna kemudian dicelup kembali sesuai yang diinginkan setelah selesai dicelup dari ikatan tersebut dibuka, namanya itu nguculi ya kalau disini Setelah menguculi kemudian disekir. Disekir sudah selesai dimasukkan ke dalam sekoci . Sekoci bisa dimasukkan ke dalam alat tenun yang kemudian proses penenunan untuk menghasilkan sebuah kain sarung tenun goyor”. Menurut pemaparan Nur Khafatus Salamah, 45 th yang merupakan salah satu pemilik usaha sarung tenun goyor.
Dalam proses pembuatan satu sarung dapat memakan waktu satu hingga dua hari kalau benangnya kusut akan menjadi lebih lama lagi dalam prosesnya. Rumitnya proses menjadi sebuah tantangan tersendiri dan menjadi cirikhas dari sarung ini. Bagi masyarakat Lamongan, sarung goyor bukan sekedar busana. Ia adalah bagian dari identitas budaya yang melekat dalam keseharian dan menjadi penopang penghasilan masyarakat setempat. Warna yang lembut dan motif yang dimiliki mencerminkan falsafah kehidupan masyarakat pesisir utara Jawa yang sederhana dan berwibawa. Sarunng ini juga menjadi penanda struktur sosial masyarakat, tidak semua masyarakat memiliki sarung ini hanya orang-orang yang mampu membelinya karena harganya yang relatif mahal sesui dengan bahan dan kerumitan dalam memproduksinya.
“Dulu sepulang sekolah saya selalu menghabiskan waktu saya untuk membuat motif sarung, caranya yakni dengan mengikat motif yang sebelumnya telah digambar dengan tali rafia. Setiap hari saya kerjakan itu, satu bentang motif saya dapat upah sepuluh ribuh. Saya kumpulkan nanti kalau sudah dapat banyak baru upahnya saya minta. Lumayan saya bisa bantu orang tua saya untuk bayar sekolah, punya uang untuk jajan dan buat nabung.” Kata Fiqi 22 th, pengarajin motif sarung. Dari cerita Nurul kita dapat bagaimana kerajinan ini menjadi sarana pembentukan nilai pendidikan karakter bagi generasi muda.s
Dibalik keelokan sarung ini, para pengrajin menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah minimnya minat generasi muda untuk meneruskan kerajinan ini. Beberapa alat tenun kini telah tersimpan digudang-gudang dan berdebu, tak lagi digunakan untuk meproduksi kebudayaan sarung tenun goyor karena pemiliknya telah menua dan tak ada yang menggantikan. “sampun mboten wonten maleh peneruse, tiang enom sak niki podo lungoh buka warung” (sudah tidak ada lagi penerusnya, anak muda sekaranng pada merantau buka warung) kata ibu Sukriyah, 50 th salah satu pengrajin.
Diera modern ini banyak pabrik-pabrik tekstil yang memproduksi sarung buatan pabrik yang lebih murah dan cepat dalam proses produksinya, bahkan telah menjamur di tokoh-tokoh atau pasar-pasar dengan warna dan motif yang serupa. Namum dari segi kualitas sarung tenun goyor produk masyarakat parengan tentu lebih terjamin dan unggul, kainnya yang adem (dingin) ketika dipakai menjadi daya pikat dari sarung ini.
Meski terhimpit tantangan zaman, tidak semua pengrajin sarung goyor menyerah. Beberapa dari mereka memilih untuk beradaptasi dengan menjual sarung secara online. Bahkan beberapa pengusaha telah menjual sarungnya hingga keluar pulau bahkan secara internasional.
Dalam setiap helai sarung goyor Lamongan, tersimpan jejak tangan-tangan yang dengan penuh kesabarannya, menganyam kisah panjang tentang budaya yang tak ingin dilupakan. Meski zaman telah berubah sarung tenun ini tetap bertahan oleh cinta dan keteguhan mereka yang menenunnya. Bila warisan ini tidak dijaga, bukan hanya kain yang hilang, tetapi juga jati diri. Menjadi modern bukan berarti melupakan akar, kita bisa maju tanpa meninggalkan warisan.
