
Pernahkan Anda sadar, tiba-tiba sudah satu jam berlalu, tapi jari masih setia menggulir layar? Padahal tidak ada yang penting. Kita tertawa jika sedang melihat video lucu, marah ketika melihat status orang, lalu lupa apa yang baru saja kita lihat. Inilah realitas generasi yang diklaim “melek digital’’, tapi masih seringkali buta akan isi kepalanya sendiri. Kecanduan media sosial bukan hanya membuang waktu, tapi perlahan bisa merusak kemampuan kita untuk merenung, berpikir kritis, dan juga merasakan kehidupan nyata.
Setiap hari, kita dihadapkan pada ratusan potongan informasi seperti berita singkat, kutipan motivasi, atau juga komentar pedas. Kemudian otak kita bekerja dalam mode respon cepat seperti suka, komentar, atau bagikan. Tapi kapan terakhir kali kita benar-benar memikirkan ‘’Apakah ini benar? Apakah ini penting untuk saya?’’ terdapat data sebuah survei Kominfo 2021 menyebutkan 60% masyarakat Indonesia pernah menerima hoaks dan sebagian langsung membagikannya tanpa cek fakta terlebih dahulu. Kita jadi kehilangan kebiasaan bertanya.
Pernahkan merasa semua orang di linimasa Anda sepakat soal politik atau gaya hidup? Itulah algoritma. Ia terus menyajikan konten yang sesuai dengan pilihan kita. Akibatnya, kita menjadi alergi akan pada perbedaan pendapat. Padahal, kemampuan berfikir argumentatif lahir dari berbenturan dengan gagasan lain. Tanpa itu, kita hanya kumpulan orang hanya mengangguk-angguk saja, bukan masyarakat yang bernalar.
Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 8 jam sehari di internet ( Weare Social, 2024), sebagian besar hanya untuk media sosial. Bandingkan dengan membaca buku yang hanya 20 menit saja sehari. Bayangkan juga jika satu jam dari waktu scrolling itu kita gunakan untuk menulis jurnal, belajar masak, atau hanya sekedar ngobrol serius dengan orang tua di rumah. Hidup kita pasti tidak akan terasa ‘’melewatkan begitu saja’’.
Melihat unggahan liburan teman, kemudian pencapaian orang lain, atau body goals yang tidak realistis membuat kita menjadi cemas dan tidak pernah puas. Ini bukan hanya omong kosong saja. Studi dari Universitas of Pennsylvania (2017) menunjukan bahwa membatasi media sosial hinggal 30 menit per hari secara signifikan menurunkan tingkat depresi dan kesepian. Kita butuh pembatasan, bukan penghapusan. Dulu, saat menunggu bus atau antre di kantin, orang akan melamun, mengamati sekitar, atau melahirkan ide-ide liar. Sekarang, saat ada jeda satu detik saja, kita langsung saja meraih ponsel. Padahal, rasa bosan adalah pupuk bagi kreativitas. Peneliti dari University of Central Lancashire menemukan bahwa orang yang membiarkan dirinya bosan cenderung lebih kreatif dalam memecahkan masalah. Dengan terus menerus scrolling, kita mencuri kesempatan otak untuk berimajinasi.
Saya sedang tidak mengajak Anda matikan ponsel selamanya. Tetapi mulailah dengan satu kebiasaan kecil, seperti sebelum membuka instagram, tanyakan ‘’Apa tujuan saya sekarang?’’ atau luangkan selama 15 menit setelah bangun tidur untuk tidak menyentuh ponsel atau sekadar diam merasakan udara sejuk pagi. Karena ponsel bisa scrolling kapan saja, tetapi masa muda dan kesempatan berpikir jernih itu tidak akan terulang kembali. Mari keluar dari pusaran layar, sebelum layar itu menenggelamkan kita.
