Scrolling Terus, Tapi Isi Kepala Kosong?

Pernahkah Anda sadar, tiba-tiba sudah satu jam berlalu, jari masih setia menggulir layar? Padahal tidak ada yang penting. Kita tertawa melihat video lucu, marah melihat status orang, lalu lupa apa yang baru saja kita lihat. Inilah realitas generasi yang diklaim “melek digital”, tapi sering kali buta akan isi kepalanya sendiri.

Kecanduan media sosial bukan hanya membuang waktu, tetapi perlahan merusak kemampuan kita untuk merenung, berpikir kritis, dan merasakan kehidupan nyata. Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak negatif pada perhatian, kesehatan mental, dan produktivitas.

Setiap hari kita dihadapkan pada ratusan potongan informasi seperti berita singkat, kutipan motivasi, atau komentar pedas. Otak kita bekerja dalam mode respons cepat seperti suka, komentar, bagikan. Namun, kapan terakhir kali kita benar-benar memikirkan, “Apakah ini benar? Apakah ini penting bagi saya?” Sebuah studi dari Rozgonjuk dkk. (2020) dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan bahwa penggunaan media sosial pasif (scrolling tanpa tujuan) berkorelasi negatif dengan kemampuan berpikir reflektif. Orang yang terlalu banyak scrolling cenderung lebih mudah menerima informasi tanpa evaluasi kritis. Data di Indonesia pun mengkhawatirkan pada survei Kominfo (2021) menyebut 60% masyarakat pernah menerima hoaks dan sebagian langsung membagikannya tanpa cek fakta terlebih dahulu. Kita jadi kehilangan kebiasaan bertanya.

Pernah merasa semua orang di linimasa Anda sepakat soal politik atau gaya hidup? Itulah algoritma. Ia terus menyajikan sebuah konten yang sesuai dengan pilihan kita. Akibatnya, kita menjadi alergi terhadap perbedaan pendapat. Padahal, kemampuan berpikir argumentatif lahir dari berbenturan dengan gagasan lain. Cinelli dkk. (2021) dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa algoritma rekomendasi di platform seperti Facebook dan TikTok memperkuat polarisasi dan menciptakan ruang gema. Contoh konkret, coba cari “Prabowo vs Anies” di TikTok algoritma hanya akan menampilkan satu sisi yang sesuai dengan perilaku klik Anda sebelumnya. Tanpa sadar, kita hidup dalam gelembung yang memiskinkan dialog publik.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 8 jam sehari di internet (We Are Social, 2024), sebagian besar untuk media sosial. Bandingkan dengan membaca buku seperti hanya 20 menit sehari. Bayangkan jika satu jam dari waktu scrolling kita gunakan untuk menulis jurnal, belajar memasak, atau sekadar ngobrol serius dengan orang tua. Saya punya teman  yang dulu kecanduan Instagram Reels. Setelah ia membatasi penggunaan menjadi 1 jam per hari, ia bisa menyelesaikan dua buku dalam sebulan. Penelitian Przybylski & Weinstein (2017) di Journal of Experimental Psychology membuktikan bahwa membatasi media sosial hingga 30–60 menit per hari secara signifikan meningkatkan kesejahteraan subjektif dan produktivitas.

Jika kita sedang melihat unggahan liburan teman, pencapaian orang lain, atau juga body goals yang tidak realistis membuat kita cemas dan tidak pernah puas. Studi klasik dari Hunt dkk. (2018) di Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari mengurangi depresi dan kesepian secara signifikan. Para peneliti mengamati mahasiswa yang mengurangi pemakaian Facebook, Instagram, dan Snapchat, setelah tiga minggu, kelompok pembatas melaporkan penurunan gejala depresi sebesar 25% dibanding kelompok kontrol. Coba ingat pernahkah Anda merasa sedih hanya karena melihat story orang lain yang tampak lebih “sukses”? Itulah efek panggung palsu media sosial.

Saya tidak mengajak Anda mematikan ponsel selamanya. Tapi mulailah dengan satu kebiasaan kecilseperti sebelum membuka Instagram, tanyakan “Apa tujuan saya sekarang?” Atau luangkan 15 menit setelah bangun tidur tanpa menyentuh ponsel, atau sekadar diam merasakan udara sejuk di pagi hari. Coba tantangan “Satu Jam Tanpa Layar” setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Rasakan perbedaannya, kepala lebih jernih, tidur lebih nyenyak, dan Anda akan sadar bahwa hidup terjadi di luar layar. Karena ponsel bisa di-scroll kapan saja, tapi masa muda dan kesempatan berpikir jernih tidak akan terulang. Mari keluar dari pusaran layar, sebelum layar itu menenggelamkan kita.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!