SEJARAH SEKOLAH DEWI SARTIKA

BANDUNG – Di balik kemajuan pendidikan perempuan di Indonesia, terdapat jejak langkah seorang tokoh luar biasa dari tanah Sunda. Dialah Raden Dewi Sartika, pelopor pendidikan perempuan yang pada tahun 1904 mendirikan sekolah pertama khusus perempuan pribumi di Bandung. Sekolah ini dikenal sebagai Sakola Istri, cikal bakal dari berbagai lembaga pendidikan bernama Dewi Sartika yang masih berdiri hingga kini.

Dewi Sartika, putri bangsawan Sunda, telah menunjukkan jiwa pendidiknya sejak usia dini. Meski berdarah biru, ia lebih senang bergaul dengan anak-anak pembantu di rumah pendopo tempat tinggalnya. Di usia 12 tahun, ia mulai mengajar teman-temannya menulis dan berhitung di belakang rumah dengan alat seadanya arang kayu untuk menulis di dinding dan lantai rumah.

“Beliau tidak membeda-bedakan status sosial. Justru anak-anak rakyat biasa yang dia dekati dan ajari,” tutur Sukaesih, Sekretaris Yayasan yang kini mengelola sekolah peninggalan Dewi Sartika, dalam sebuah wawancara. Semangat mengajar Dewi Sartika makin kuat seiring bertambahnya jumlah anak-anak yang ingin belajar. Hingga suatu hari, ia mengajukan permintaan kepada uwanya, seorang Patih di Bandung untuk mendirikan sekolah sungguhan. Setelah sempat menimbulkan kekhawatiran akibat pengawasan ketat pemerintah kolonial Belanda, usulan tersebut akhirnya mendapat restu dari Gubernur Belanda bernama Hamar.

Lokasi sekolah pertama ditetapkan di Jalan Kebon Cau, kawasan yang masih berada di bawah wilayah Bupati Bandung saat itu. Namun, tantangan baru muncul, bagaimana membiayai pembangunan sekolah?

Dengan dukungan moral dan finansial dari teman dekatnya, Dewi Sartika menjual perhiasan pribadinya untuk mendirikan bangunan sederhana dari bambu dan awi. Satu ruang kelas berdiri, kemudian berkembang menjadi dua hingga tiga kelas. Inilah tonggak berdirinya Sakola Istri, tempat pendidikan untuk para gadis Sunda. Sakola Istri tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga pendidikan kewanitaan seperti menjahit, memasak, mencuci, dan sopan santun. “Dewi Sartika menyadari bahwa perempuan akan menjadi tiang rumah tangga. Maka ia harus pintar dan terampil,” lanjut Bu Sukaesih.

Visi Dewi Sartika lahir dari keprihatinan akan nasib perempuan kala itu yang tak boleh bersekolah, dipingit sejak kecil, dan dinikahkan tanpa pilihan. Ia yakin, hanya melalui pendidikan derajat perempuan bisa setara dengan laki-laki. Seiring perkembangan zaman, Sakola Istri berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri, kemudian menjadi Sekolah Raden Dewi Sartika. Warisannya terus berlanjut melalui pendirian SKKP (Sekolah Kesejahteraan Kepandaian Putri), SMP Dewi Sartika, SD Dewi Sartika, hingga TK Dewi Sartika yang tersebar di berbagai wilayah Bandung.

Di era 1960-an, sekolah ini juga mulai mengajarkan keterampilan boga, tata busana, dan keterampilan rumah tangga lainnya. Bahkan, praktik mencuci dan menyetrika dilakukan langsung oleh siswi sebagai bagian dari kurikulum. Dewi Sartika mengungsi ke Ciparay saat peristiwa Bandung Lautan Api pada 1947. Dalam kondisi sakit-sakitan, ia meninggal dunia di sana dalam usia 63 tahun. Namun perjuangannya tak pernah padam.

Kini, jalan tempat sekolahnya berdiri dinamai Jalan Kautamaan Istri, sementara jalan utama yang melintasi kawasan pendidikan itu diberi nama Jalan Dewi Sartika, penghormatan bagi sang pahlawan yang memilih bertindak nyata, bukan sekadar menggagas. “Kalau Kartini menulis surat, Dewi Sartika membangun sekolah,” tutup Bu Sukaesih.

Scroll to Top